Suami Dadakan

Suami Dadakan
extra part 95


🌻🌻🌻🌻


Saat hari beranjak siang keduanya memutuskan pulang ke kampus, bukan untuk belajar tapi melainkan mengambil motor Air yang memang masih terparkir di disana, namun mereka lagi-lagi terkejut saat sang bunda ternyata ada di parkiran, wanita itu lebih terkejut lagi saat melihat Air keluar dari mobil Hujan


"Dari mana kalian?" tunjuk Bunda di hadapan Air.


"Kita dari--_"


"Cukup!, kamu sudah melakukan dua kesalahan fatal di depan mata bunda" tukas dokter Anna menatap nyalang anak perempuannya itu


"Kita dari makam Ayah sama Ibu, Bun" jelas Hujan, ia menarik lengan bundanya agar tak menjadi pusat perhatian orang-orang sekitar.


"kalian! kemarin didalam kamar berdua dan kini pergi berdua!"


Air yang kesal ingin rasanya mengacak-acak apapun yang ada di dekatnya karna wanita berkacamata itu lagi-lagi salah paham pada mereka berdua.


"Bu, berhenti berfikir negatif, saya mohon" pinta Air pada sang dokter.


"Berfikir kamu bilang?, padahal jelas-jelas saya melihat nya sendiri"


Air membuang nafasnya kasar, ia menarik tangan Hujan untuk masuk kedalam mobilnya lagi.


"Mau apa, Ay?" tanya Hujan bingung, termasuk dokter Anna.


"Apalagi kalo bukan nikah, Bunda Lo mau gue tanggung jawab kan! ok...kita nikah sekarang!" sentaknya penuh emosi.


"Ibu bisa ikutin mobil Hujan, kita ketemu sama orang tua saya sekarang juga"


Air masuk kedalam mobil hujan, begitupun dengan Anna yang masuk kedalam mobilnya juga, kedua mobil itu berjalan beriringan menuju tempat tinggal keluarga RAHARDIAN.


"Lo serius, Ay?" tanya Hujan ragu-ragu.


"Biar bunda Lo puas! dia udah ceburin gue mulu ya udah mendingan gue berenang sekalian!" jawabnya dengan penuh emosi.


"Tapi gak gini caranya, Ay"


"Bodo amat!" sahutnya lagi semakin menginjak kuat pedal gas mobil Hujan.


Air dan Hujan turun dari mobil, begitu pun dengan dokter Anna. ketiganya melangkah cepat menuju lift.


"Ay, gue takut!" bisik Hujan saat ketiganya sudah berada di dalam lift.


"Lo tenang aja, orang tua gue gak bakal ngizinin gue nikah muda, Gila aja kali ah" ucapnya dengan percaya diri.


"Lo yakin?"


"Gue yakin, minimal nikahnya entar entar an gitu, kan nanti kita pikirin lagi" kata Ay dengan yakin.


"Tar kalo Kalian sampe di usir, buruan kabur ya. Lo Langsung pergi bawa tuh bunda Lo, gak usah Lo nengok lagi, ok!" pesan Air.


"Oh, ok" balas Hujan yang mengerti maksud Air.


.


.


Suara lift dan pintu yang terbuka menandakan mereka sudah sampai di lantai dimana keluarga Air tinggal, pemuda itu jalan lebih dulu sambil merangkul bahu Hujan agar bisa lebih leluasa membisikan rencana dadakan mereka agar lebih matang.


CEKLEK


"Mah.... mama" panggil Air saat masuk, tak ada siapapun di ruang tengah.


"Silahkan kalian duduk dulu" ucap Air basa basi.


Pemuda itu bergegas ke lantai dua untuk mencari mamanya namun tak di sangka justru berpapasan di tengah tangga.


"Kamu udah pulang?"


"Udah, Mah. oh ya, di ruang tengah ada tamu" ucap Ay setelah mendapat ciuman dari Melisa.


"Siapa?"


"Temuin aja dulu, papa belum berangkat ke luar kota kan?" Tanya Air yang menanyakan keberadaan Reza.


"Belum sayang"


Sebelum ia menghampiri tamu yang di maksud si sulung, Melisa kembali ke kamarnya untuk memanggil sang Suami yang baru selesai melakukan olah raga penuh cinta bersama dirinya.


"Mas, kakak bawa tamu, sekarang ada di bawah" ujar Melisa.


"Siapa?"


"Gak tau, aku belum liat" Jawa Melisa sambil menyerahkan baju pada suaminya.


"Ok, kita temui sekarang!"


keduanya keluar dari kamar setelah Reza sudah rapi dengan pakaiannya.


Pasangan suami istri itu bergandengan tangan menuruni anak tangga.


"Selamat siang" Sapa Reza pada dia wanita yang sedang duduk sedikit melamun.


"Siang, Om!" jawab Hujan, tapi tidak dengan Bundanya


Wanita berkacamata itu diam terpaku melihat sosok pria di hadapannya itu.


"A--_bang!" ucapan pelan Anna saat melihat Reza dan istrinya.


🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉


Abang cincau apa Abang somay, Ann?.


jangan baper ya, itu pawang ntar ngamuk 😂


🤭🤭🤭🤭🤭🤭


like komen nya yuk ramai kan