Suami Dadakan

Suami Dadakan
extra bab 100


🌻🌻🌻🌻


Mah, paket pancinya dateng nih!


Teriakan si bungsu di depan pintu kamar orangtunya membuat wanita yang berada di bawah Kungkungan sang suami harus mengerjapkan kedua matanya.


"Awas, Mas. panci aku dateng!" ucapnya sambil mendorong tubuh Reza diatasnya.


"Aw!, Sakit, Ra" pekiknya menahan nyeri saat sikunya terkena ujung meja samping tempat tidur.


Wanita yang baru saja menerima serangan dari suaminya langsung meringsek turun dari ranjang mengambil bajunya yang berserak di lantai.


"Maaaaaah" teriak Cahaya lagi.


"Iya, sayang tunggu" sahut Melisa sambil merapihkan dirinya.


Ia bergegas mendekat ke arah pintu tanpa menghiraukan suaminya yang sibuk mengusap siku tangannya yang masih terasa sakit.


CEKLEK.


"Mana, Dek?" tanya Melisa saat anak dan ibu itu sudah berdiri di depan pintu.


"Aku taro diatas meja makan, abisnya gede banget" jawab Cahaya.


"Siapa yang anter pancinya?"


"Tante Mer, tapi langsung pulang katanya mau jemput Sagita sekolah jadi gak mampir"


"Oh, makasih ya sayang, mama mau liat dulu pancinya" ucap Melisa dengan tangan hendak menutup pintu.


"Raaaaaaaaaaaa, ini aku gimana?" teriak Reza dengan kesal, siku dan Kepalanya kini sama-sama berdenyut apalagi sang belalai ternyata masih ON meski sesat di tinggal sang pawang.


Ke kamar mandi aja dulu, Mas!!!!!


*******


Cahaya yang baru pulang menemani Langit makan siang ikut mengekor di belakang mamanya menuju dapur untuk melihat barang pesanan Melisa.


"Mama pesen ini udah lama banget loh, dek" ucapnya dengan binar bahagia.


"Buat apalagi sih, mah. udah banyak banget panci perasaan" kata Cahaya yang merasa aneh dengan hobby sang mama Karna setiap minggunya ada saja peralatan dapur yang baru.


"Buat masak lah masa iya buat mandi" kekeh Melisa dengan tangan sibuk membuka bungkusan dari kardus.


"Tuh kan, warna ungunya cakep banget nih"


"Kamu harus rajin masak, biar Abang makin betah"


"Kan Abang bisa masak, biar Abang aja yang masak tugasku cuma ngabisin makanan yang Abang masak" jawab si bungsu sambil tertawa


"Hem, Author memang sudah memilihkan jodoh untuk saling melengkapi, yang satu bikin yang satunya ngabisin" Melisa ikut terkekeh sambil mencubit pipi mulus anak perempuan satu-satunya itu.


"Kalo Abang masak, kamu juga harus perhatikan semuanya biar nanti kalau Abang gak bisa kamu yang bisa" pesan Melisa untuk si bungsu yang sudah merengek ingin menikah.


"Iya, Mah. Tapi Abang gak pernah ngebolehin aku pegang pegang alat dapur, aku cuma disuruh nunggu sampe mateng" adunya pada sang mama mengenai aturan mereka berdua saat di dapur.


"Semoga kalian bahagia ya, mama doakan kalian berjodoh hingga ujung waktu memisahkan"


Cahaya langsung bangkit dari duduknya, ia berhambur memeluk wanita yang melahirkannya itu dengan rasa haru sampai ingin menangis.


"Mama akan tenang jika Abang yang bersamamu, Abang yang menjagamu, dek"


Keduanya berpelukan begitu hangat, mengalirkan rasa kasih sayang antara ibu dan anak.


"Aku takut justru aku yang ninggalin Abang lebih dulu, aku takut umurku gak bisa sampai aku menjadi istrinya kelak, Mah" lirih cahaya dalam dekapan Sang Mama.


.


.


.


.


.


.


.


Kamu jangan khawatir, nanti kita bungkus authornya pake kardus bekas panci kalo dia jahatin kamu!!!.


🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉


Astaghfirullah...


Baru tau ya Melisa tuh julid banget 🙄🙄🙄🙄


like komen nya yuk ramai kan ❤️