
🌻🌻🌻🌻🌻
Dua bulan berlalu, Langit sudah kembali menetap bersama keluarganya, namun mereka tetap tinggal terpisah dengan cara Langit ikut papa dan mama.
Reza tak ingin putri bungsunya semakin bergantung pada Langit sebelum waktunya tiba.
"Oppa.....omma... Abang" teriakan Cahaya dari pintu utama membuat tiga orang yang sedang sarapan menoleh secara bersamaan.
"Dek, sini sayang" sapa mama yang senang dengan kedatangan cucu perempuannya itu
"Pagi, semuanya"
Cahaya mencium kedua pipi pasangan paruh baya itu secara bergantian, tapi tidak terhadap Langit justru ialah yang mendapat ciuman.
"Pagi sayang" sapa pria berjas hitam itu.
"Pagi juga Abang"
Cahaya menarik kursi di sisi Langit untuk ikut sarapan bersama, dua bulan ini gadis cantik itu sering datang pagi-pagi hanya untuk menemani Langit menikmati makan paginya sebelum berangkat ke kantor.
"Kapan kalian menikah?" tanya papa tiba-tiba.
Langit dan Cahaya menoleh secara bersamaan pada pria paruh baya itu.
"Kapan bang?" tanya Cahaya menyikut lengan kekasihnya.
"Abang belum punya apa-apa, oppa" jawab Langit malu.
"Baru dua bulan kerja, belum bisa kasih yang layak buat Adek" tambahnya lirih, sedih jika ia melihat gadis di sisinya itu sudah terlalu lama menunggu kepastian darinya.
"Oppa hanya takut tak bisa menyaksikan cucu cantik oppa ini menikah, hanya itu yang oppa inginkan, Kakak Ay dan Bu mereka laki-laki sudah tentu jalan mereka masih panjang, sedang kan adek jodohnya sudah di depan mata"
"Akan Abang segerakan, Oppa" ucapnya mantap sambil menggenggam tangan Cahaya.
Cahaya memang tak seperti kedua kakaknya, Reza meminta si bungsu untuk melanjutkan jenjang pendidikannya itu secara online.
Ia tak mau gadis kecilnya itu lagi-lagi pingsan di kampus membuat semua orang panik dan khawatir.
"Abang berangkat ya" pamitnya saat selesai sarapan, ia bangkit dari duduknya setelah mencium takzim kedua punggung tangan oppa dan omma nya.
Cahaya sudah bergelayut manja di lengan Langit mengantar pria itu sampai di garasi mobil mewahnya.
"Mau disini apa mau pulang lagi?" tanya Langit saat keduanya sudah di depan pintu utama.
"Disini aja, Abang nanti pulang makan siang gak?"
"Abang ada meeting sekalian makan siang, kita keluar nanti malem aja ya"
Gadis cantik itu langsung mendapat banyak ciuman di seluruh wajahnya kecuali di bibir ranumnya.
"Abang pengen ini, Yang" godanya.
"Tunggu halal, ini tuh masih perawan original"
"Hey, kamu pikir bibir Abang second?"
Keduanya tertawa bersama saling memeluk, semenjak permintaannya di setujui Reza dua pasangan yang cukup lama menjalin hubungan diam-diam itu kini tak lagi bersembunyi, Langit tak pernah menutupi perasaannya jika sedang bersama Cahaya didepan siapapun.
Ia ingin semua orang tahu, jika hati dan raganya hanya milik kekasih kecilnya yang manja, Bahkan Langit tak pernah mengakui Cahaya sebagai kekasih melainkan calon istrinya.
"Abang hati-hati di jalan ya"
"Iya, Abang sayang kamu, tunggu Abang pulang"
Cahaya mengangguk, kemudian melambaikan tangannya saat Langit benar-benar sudah keluar dari gerbang rumah yang menjulang tinggi, kebahagiaan yang bisa ia dapatkan dengan cara sederhana.
Seulas senyum tak lepas dari bibir ranumnya yang kembali masuk kedalam rumah.
.
.
.
.
.
.
Papa mau mereka menikah sebelum terlambat!!
💕💕💕💕💕💕💕💕💕
Terlambat cium babang Reza yang kalo ngawinin Caca berarti ndek incuan 🤣🤣🤣🤣🤣
aku makin tua dong ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Jangan kawin dah kalian wahai para Cebong 😪
Like komen nya yuk ramai kan