Suami Dadakan

Suami Dadakan
extra part 96


🌻🌻🌻🌻


"A--_bang!" ucap pelan Anna saat melihat Reza dan istrinya.


" Hem, seperti pernah bertemu!" jawab Reza meski ragu.


"Ini Anna, bang..Anna yang dulu di klinik kota X" serunya antusias yang sangat terlihat dari binar matanya.


"Oh, Iya. Ya ampun! apa kabar Ann?" Reza yang mulai ingat akhirnya lebih mendekat untuk mengulurkan tangan.


"Baik, Bang" jawabnya sambil menerima uluran tangan seorang pria yang pernah menjadi pusat pikirannya meski hanya beberapa hari.


"Syukur kalau begitu, oh ya, Ann.. kenalkan ini istriku" Reza merangkul bahu Melisa untuk di kenalkan.


"Melisa"


"Saya Anna" balasnya dengan senyum di ujung bibirnya


kedua wanita itu berjabat tangan dan saling melempar senyum terbaiknya.


"Silahkan duduk, Ann"


"Iya, Bang terima kasih"


Anna kembali menghempaskan bokongnya di sofa Single tempat ia duduk sedari tadi, sedangkan Air dan Hujan duduk bersebelahan.


"Kenapa bisa disini?, sudah lama tinggal di kota ini?" tanya Reza mengawali obrolan.


"Sudah, Bang. Sudah lama sekali disini"


Reza mengangguk, meski bibirnya berbicara panjang lebar namun tangannya tak lepas dari sang istri begitupun dengan matanya, Pria yang masih tampan sempurna itu terus saja sesekali melirik ke arah KHUMAIRAHnya.


"Oh, sekarang sudah jadi dokter?" ucap Reza bangga, bagaimanapun setelah perpisahan belasan tahun silam gadis itu kini menjadi lebih baik.


"Lalu bagaimana kabar kakakmu, siapa namanya ya saya lupa" tanya Reza yang memang benar-benar tak mengingatnya.


"Bang Rafka!" jawabnya lirih, ia menoleh ke arah Hujan yang menunduk.


"Ah, iya, hahaha. Maaf saya lupa" kekeh Reza.


"Apa dia ikut kemari?, dimana sekarang saya harap kalian semua baik-baik saja"


Hujan langsung menoleh kearah Anna, begitupun sebaliknya dan Air yang sudah tau semuanya langsung menarik tangan Hujan untuk menguatkan gadis itu yang mulai berkaca-kaca.


"Bang Rafka sudah meninggal, saat Hujan berusia lima bulan" jelasnya dengan mata tak lepas menatap keponakan satu-satunya itu.


"Innalilahi wa innailaihi Rajiun" seru Reza dan Melisa berbarengan.


"Maaf, Saya tidak tahu"


Anna hanya tersenyum kecil, hatinya dua kali lipat saat pria di hadapannya itu tetap sibuk memainkan jari-jari lentik istrinya.


"Gak apa-apa, Bang. Jadi Air ini anaknya bang Reza?" tanya Anna memastikan.


"Iya, Air anak kembar pertama saya, saat dulu saya kecelakaan umur mereka masih satu bulan"


"Iya, Anna inget Bang" lirihnya pelan, ingatannya kembali ke masa sembilan belas tahun silam saat Reza dulu selalu menelpon istri dan anak anaknya Setiap saat meski ia setia mendampingi pria igi.


"Jadi jika boleh saya tahu, Anna ada urusan apa ya datang kemari bersama Air?" tanya Reza mulai penasaran, Ia sudah merasakan telapak tangan sang istri mulai dingin.


"Anna kesini untuk--_" wanita berkacamata itu melirik sekilas kepada Air dan Hujan yang tanpa sadar masih saling menggenggam tangan.


"Untuk apa?" Melisa yang sedari tadi diam kini angkat bicara, ia resah Karna tatapan orang di hadapannya itu berbeda pada suaminya.


"Untuk menikahkan Air dan Hujan, karna mereka sudah terlalu di luar batas"


DEG.


"Diluar batas bagaimana?" Reza mengernyitkan dahinya.


"Anna memergoki keduanya dalam satu kamar kemarin malam, dan tadi pagi mereka pergi berdua lagi" jelas Anna.


"Kan semua udah jelas, Kok masih di bahas lagi sih" sentak Air


"Kakak!" pekik Reza.


"Maaf, Pah"


"Maksudnya gimana?, kakak harus menikahi anakmu, begitu?" ujar Melisa mulai panik.


Anna hanya mengangguk, tatapan kedua wanita itu begitu tajam dan serius.


"Mas, Coba ini kita harus apa?"


"Apa yang kalian lakuin memangnya?" Tanya Reza pada si sulung dengan serius.


"Kakak gak ngapa-ngapain, Pah. Hujan tuh yang rese banget" tuduhnya pada dengan kesal


"Kok Lo nyalahin gue sih!" sentak gadis itu tak terima.


"Kalian pacaran?" tanya Reza lagi.


"Enggak!" jawab keduanya berbarengan.


"Kalo gak pacaran, kenapa pegangan tangan!"


Air dan Hujan langsung melihat ke tangan mereka masing masing yang memang ternyata masih saling bertautan satu sama lain


"Lo ngapain pegang pegang gue!" teriak Air saat sadar dengan apa yang ia lihat.


"Kan lo yang narik, Ay" Hujan tak kalah ketus.


.


.


.


.


.


.


.


" Cukup!!! menikahlah Minggu depan!"


🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉


Nah kan!


Malah di restuin sama si gajah 😂😂😂😂


Tadi disuruh kabur, taunya malah di pegangin!!


cie...cie... si kakak 🤭🤭🤭🤭🤭


Cium papanya boleh ya 😘😘😘😘