
🌻🌻🌻🌻🌻
Air yang kebingungan terus berjalan ke tempat yang tadi ia lewati sambil terus mengingat dan mengedarkan pandangannya, hatinya tak henti-hentinya terus memanggil mamanya yang kini berada dirumah.
"Mah, kakak takut"
"Mah, tolongin kakak"
"Kakak gak mau di culik"
"Kakak gak takut ginjalnya di ambil"
"Jantung, hati, mata, dan... Huaaaaaaaaaa"
"Mamaaaaaaaaaaaah"
Plaaaaaaak..
"Berisik!" sentak Bumi sambil memukul bahu kakaknya yang sedang berteriak.
"Bu..."
Air berhambur memeluk adiknya dengan erat sambil terisak-isak lirih, rasa takutnya mendadak hilang saat melihat kembarannya berada tepat di depan matanya.
"Kamu kemana aja, kakak takut" ucapnya setelah mengurai pelukan.
"Kakak yang kemana?, aku balik kenapa kakak yang ilang" sungut Bumi sambil melipat tangan di dadanya.
"Kakak cari kamu!" protes Ay yang tak mau di salahkan
Keduanya hampir saja bertengkar jika saja Langit dan Cahaya tak datang tepat waktu
"Kalian kenapa?, kok pada diem dieman gitu!" tanya Langit usai mengantar si bungsu dari toilet.
"Bumi nyalahin aku terus, Bang! padahal aku nyasar juga Karna cari dia" Ay menunjuk wajah adiknya itu dengan jari.
Bumi hanya diam saat Kakaknya itu mengadukan banyak hal pada Langit, entah apa yang terjadi di dalam kandungan Melisa sampai harus menjadikan Bumi justru adik dari Air, padahal tentu sikap Bumi lah yang cenderung lebih pantas menjadi si sulung.
"Ya udahlah kita pulang aja, aku capek" Cahaya yang sedari tadi diam dalam pelukan Langit akhirnya bersuara, Tubuhnya mulai lemas dengan keringat yang mulai membanjiri seluruh badannya, jika di biarkan cepat atau lambat ia akan ambruk tak sadarkan diri.
"Yuk, aku juga mau pulang" kata Ay yang malah berjalan lebih dulu.
"Kakak mau ngapain pulang?" tanya Bumi yang tepat berada di belakangnya.
"*****Mau ngelanjutin nangisnya*****!"
*******
"Udah ketemu belum, Mas?" tanya Melisa yang sudah nampak khawatir.
"Udah lagi di jalan mau pulang, kamu bikin makan aja sana mereka pasti laper" titah Reza agar istrinya itu berhenti memikirkan anak-anak mereka yang dalam keadaan baik-baik saja.
"Iya, aku bikin apa ya, Mas" tanya bingung tapi langsung bergegas keluar kamar membuat Reza terkekeh lucu melihat tingkah istrinya yang semakin menggemaskan.
"Dasar emak-emak!"
*****
Perjalanan pulang semua hanya diam dalam pikirannya masing-masing, Langit yang fokus pada jalan sesekali melirik kearah Cahaya yang sudah terlelap, Air yang masih terisak pelan dan juga Bumi yang melamun dengan tatapan kosong seakan menyembunyikan rasa kecewa.
"Bumi kenapa ya?, ngelamunnya gitu banget" bathin Langit yang melihat adiknya itu dari kaca spion.
.
.
.
Usai memarkirkan mobil di garasi Langit langsung membangunkan Cahaya, ia mengusap lengan gadis kesayangannya itu dengan pelan
"Yank, bangun yuk udah sampe"
Cahaya bergeliat lalu mengangguk, ia menoleh ke kursi belakang ternyata kedua kakaknya sudah lebih turun dan masuk kedalam rumah
"Udah sampe ya, cepet banget" Ucapnya yang seakan tak puas tertidur selama di perjalanan.
"Iya, lanjut tidur kamar ya, sekarang kita keluar dulu"
Langit berjalan sambil merangkul bahu cahaya masuk kedalam rumah, keduanya langsung di suguhkan drama tangisan Air dalam pelukan Melisa.
.
.
"
"kakak takut banget tadi, takut gak bisa pulang ketemu mamah lagi.. tapi masa kakak malah diketawain mah, banyak yang seneng kakak nyasar! biarin nanti kalo ketemu lagi di kolom komentar mau kakak aduin ke papa"
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Hayo.... tadi siapa yang udah ngetawain si kakak siap2 di karungin babang Reza buat jadi umpan ikan hiu😂😂😂
Like komen yuk ramai kan ♥️♥️