Suami Dadakan

Suami Dadakan
bab 163


🌻🌻🌻


Melisa duduk di tepi ranjang saat Reza meninggalkannya keluar dari kamar menuju ruang kerja papa, entah ada hal penting apa sampai harus membahasnya diwaktu hampir tengah malam begini.


Ada rasa khawatir dalam hatinya terlebih sebelumnya Reza lebih dulu mengangkat telepon dari dokter Rissa membahas tentang kepulangan baby Cha esok hari.


CEKLEK..


"Mas" sapanya langsung padahal Reza belum selangkah pun masuk kedalam kamar.


"Ko gak tidur?" tanya Reza saat melihat istrinya justru datang menghampiri.


"Lama banget, mas Reza ngomongin apa sama papa?" selidik Melisa penasaran.


"Ngomongin kerjaan, Ra" sahutnya sambil berjalan merangku bahu istrinya menuju tempat tidur.


"Bohong!" jawabnya tak percaya.


"Tanya aja sama papa sana" goda Reza setelah keduanya masuk kedalam selimut.


"Besok jadi bawa Chaca pulang kan?"


"Ya ampun, hari ini kamu udah lebih dari sepuluh kali nanya itu, Ra" ucap Reza dengan gemasnya.


"Aku gak sabar buat besok, Mas" lirihnya sendu sambil meremat baju piyama bagian dadanya.


"Iya, besok pulang tapi aku belum tau kapan jamnya nunggu kabar dari Rissa lagi"


Melisa hanya mengangguk lemah, lalu meringsek mendekati suaminya untuk menenggelamkan kepalanya di dada bidang Reza, tempat ternyaman nya selama ini.


"Kamu tidur ya, besok ada tiga bayi disini aku gak bisa bayangin gimana repotnya kita, Ra" kekeh Reza sembari menciumi pucuk kepala istrinya penuh sayang.


"Mas Reza bikinnya kebanyakan" kini Melisa ikut tergelak mengingat bagaimana terkejut nya ia saat mendengar suaminya menghitung berapa banyak bayi yang ia lahirkan dalam waktu bersamaan.


"Mas Reza punya keturunan kembar?" tanya Melisa yang di jawab gelengan kepala oleh Reza.


"Mungkin Kamu?" Reza justru balik bertanya.


"Gak tau, Mas. aku mana tahu soal keluarga ku, aku cuma tau ibu sama mamang aja" jawabnya lirih.


"Maaf sayang" ucap Reza penuh rasa sesal mempertanyakan hal bodoh pada sang istri.


"Mas, boleh aku tanya sesuatu?"


Reza hanya mengangguk sambil mengernyitkan dahinya, " Apa?" tanyanya.


"Ibuku dimana?"


"Ada, Ibu baik bahkan sangat baik"


" Dimana?, aku mau bertemu!" rengeknya dengan mata berkaca-kaca.


"Iya, nanti kalian akan ketemu, sekarang kamu tidur dulu ya" titah Reza yang sudah siap mengusap punggung Melisa yang sudah menjadi kebiasaannya.


*****


Hari yang di nanti datang juga, semenjak semalam Melisa selalu gelisah dan tak mampu memejamkan kedua matanya dengan nyenyak Sesekali ia melirik jam di dinding kamarnya yang tergantung tepat di atas TV LED.


Setiap detik seakan lama berjalan baginya, bayangan gadis kecilnya selalu menari di pelupuk matanya yang enggan terpejam.


Mama kangen!


Besok kita pulang ya sayang..


Dede akan kumpul lagi sama kak Ay juga kak Bu.. tunggu mama dan papa jemput Dede besok ya.... bathinnya semalam.


"Hari ini aku pulang jam tiga, jam lima Kita langsung kerumah sakit" ujar Reza saat Melisa memakaikan jas di tubuhnya.


"Gak bisa langsung kesana, gak usah nunggu jam lima gitu, Mas?"


"Nunggu dokternya dulu, Ra"


"Kita nunggu disana aja" kata Melisa mencoba menegosiasi.


"Cukup, jangan bikin aku cemburu" protes Reza.


"Baby sister datang siang ini kata mama"


"Hem, tiga kan?" tanya Reza memastikan.


"Kayanya sih, lagian banyak banget sih masa satu anak satu Ncus, Mas?" ledek Melissa pada suaminya yang terlalu berlebihan.


"Anaknya tiga, ya Ncus nya juga tiga, kecuali anak satu Ncus nya lima itu baru aneh"


"Iya, iya terserah mas Reza aja, yang gaji juga mas Reza" kata Melisa sembari mengurai pelukannya.


"Papa yang gaji, hahaha" sahut Reza sambil tertawa yang membuat Melisa terkejut.


"Apa, Mas? papa yang gaji ketiga Ncusnya?" tanya Melisa dengan raut wajah tak percaya.


Reza hanya mengangguk dengan senyum simpulnya yang menambah aura kematangan dari wajahnya.


"Parah, mas Reza gak modal" decak Melisa mencibir.


"Bisanya bikin doang, ckck" tambahnya lagi.


"Enak aja!!" protes suaminya yang tak terima.


Sarapan pagi masih mereka lakukan di kamar, tak ada kegiatan apapun yang keduanya lakukan di luar kamar termasuk makan malam semenjak Melisa melahirkan.


Drama CapCipCup pun mereka lakukan di atas sofa tak seperti sebelumnya di teras rumah saat mengantar Reza keluar untuk berangkat ke kantor.


"Udah, ih"


Melisa mendorong paksa suaminya yang semakin rapat menempel padanya.


"Dikit lagi, tanggung, Ra"


"Udah siang, tuh bajunya kusut kan? gak mau diem banget sih"


Dengan pasrah Reza pun menarik tubuhnya dari atas sang istri saat melirik jam sudah lebih dari lima belas menit dari waktunya biasa ia berangkat.


"Nanti malem ya?" godanya setelah mencium kening Melisa.


"Iya, nanti malem, tenang aja" jawab Melisa sambil menahan tawa.


Kini Reza sudah menghilang dari balik pintu, tinggal ia dan si kembar yang berada di dalam kamar, tak ada suara apapun membuat ia bosan hanya memainkan ponselnya.


Hanya bertahan sepuluh menit ia menikmati waktunya berselancar di dunia maya karna rengekan Bu mengalihkan fokusnya.


Ia langsung bangkit dari duduknya lalu menghampiri box bayi di dekat tempat tidurnya.


"Duh, haus ya Sayang, cup cup cup jangan nangis ya nanti kakak bangun, bahaya" kekeh Melisa yang langsung menyodorkan wadah ASI alaminya.


Ia tatap wajah kecil itu dengan rasa bahagia campur haru karna tak pernah terbersit hal ini akan terjadi pada dirinya.


Sungguh kebahagiaan dan nikmat luar biasa.


Usai menyusui Bu, kini saatnya si sulung yang mendapat jatah karna ia sudah menggeliat di atas boxnya.


"Diem sini ya, mama ambil Kaka dulu" bisik Melisa sebelum menidurkan Bu di tenda ranjang.


"Sekarang giliran Kakak nih , baik baik ya sayang harus jadi panutan untuk kedua adikmu kelak, jaga mereka ya, Nak" ucap Melisa sambil terus mengusap kepala Ay yang di tumbuhi rambut lebat.


Usai meletakkan keduanya secara berdampingan kini saatnya ia menunggu eyang dan mama datang memandikan si kembar.


Tok.. tok..tok.


CEKLEK...


🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉


Ish, kebiasaan dah si othor 😓😓


ngantuk ah, lanjut besok pagi 🤭


udah nama 00.21.


Like komen nya yuk ramaikan ♥️🤗🤗