Suami Dadakan

Suami Dadakan
bab 74


🌻🌻🌻


"Ra, aku pengen-_" Reza tak meneruskan ucapannya saat melihat eyang yang duduk bersebelahan dengan sang istri.


"Mas Reza mau apa?" tanya Melisa, bangun dari duduknya lalu menghampiri.


"Aku mau es kelapa, tapi mau dari kelapanya langsung, kita cari yuk" ajaknya dengan antusias kemudian meraih tangan istrinya.


"Eh, kalian mau kemana?" teriak mama saat anak dan mantunya berlalu begitu saja


"Cari es, Mah!" sahut Reza yang sudah di pintu utama.


"Sebentar lagi jam makan malam" ucap mama mengingatkan.


"Nanti kita makan diluar aja, Mah"


Reza tetap menggandeng sang istri sampai masuk kedalam mobil yang masih terletak di garasi.


"Kita mau kemana?"


" Ke Anyer, cari kelapa!" sahut Reza santai sambil terus menatap jalan raya di hadapannya.


"Mas Reza serius?" tanya Melisa dengan raut wajah tak percaya.


"Kayanya lebih enak kalo minum es kelapa langsung Deket pohonnya deh, Ra!"


Melisa masih melongo dengan ucapan sang suami, ia menelan salivanya sambil mengelus perutnya sendiri.


Selama perjalanan yang memakan waktu kurang lebih empat jam itu Reza tak hentinya tersenyum, raut bahagia jelas tergambar diwajahnya.


Melisa yang sesekali melirik kearah suamianya ikut merasa bahagia, sampai tak terasa mobil pun sudah berhenti di tempat tujuan.


"Pak, mau lima ya!" pinta Reza pada bapak penjual kelapa.


"Hah, aku gak salah?" tanya Melisa memastikan.


"Kan isinya sedikit, Ra" sahut Reza sambil berbisik.


Lima buah kelapa sudah tersaji di hadapan Reza di atas meja kayu sebuah gubuk sisi pantai.


Angin mulai kencang terasa menusuk sampai ke tulang mereka, dengan sigap Reza langsung mengambil jaket dimobil untuk ia pakaikan pada istrinya.


"Mas Reza pesen apa lagi?" tanya Melisa yang pusing melihat suaminya bolak balik memesan makanan.


"Mie rebus, kamu mau?" tawar Reza pada Melisa yang di Jawab gelengan kepala.


"Emang gak kenyang makan semua ini?" Melisa menunjuk bungkusan daun pisang bekas otak otak ikan yang entah berapa yang di habiskan suaminya itu.


"Isinya kecil kecil gitu, segede jempol" jawab Reza sambil terkekeh.


Melisa mendengus sebal sembari membuang pandangannya kearah laut yang tenang karna waktu sudah malam.


"Nginep aja, aku kenyang" sahutnya dengan sangat santai.


*****


Sampai di sebuah hotel yang langsung menghadap ke pantai, Melisa duduk di tepi ranjang ia bingung dengan dirinya sendiri.


"Mas, aku mau mandi" ucap Melisa.


"Ya mandilah, apa mau berenang di pantai, " goda Reza.


"Aku gak bawa baju," kata Melisa kesal, tubuhnya sudah merasa lengket ingin sekali ia bersihkan.


"Ya udah mandi sana, kan ada bathrobe, pake aja dulu itu"


"Ya masa gak pake baju?"


"Mau ngapain pake baju? abis Kamu mandi kan kita mau piknik" ucap Reza yang sudah menyusuri leher sang istri dengan bibirnya.


"Aku gak mau!" sahut Melisa membuang muka.


"Tapi aku mau, gimana dong?" godanya lagi.


"Piknik sendiri sana"


Melisa langsung meninggalkan Reza yang sedang tertawa karna puas menggodanya.


"Hahaha, kasian banget sih istri seorang presiden direktur Rahardian grup gak punya baju" ledek Reza saat melihat Melisa hanya terbungkus selimut.


"Mas Reza jahat" sungut Melisa dengan bibir manyunnya yang membuat Reza semakin gemas.


"Apa yang jahat? kan samaan nih. sama sama gak pake baju" ucap Reza dengan senyum jahilnya, sudah bisa dipastikan otaknya kini sedang traveling.


"Tapi aku malu" rengek Melisa, ia benar-benar kesal pada suaminya.


"Ngapain malu sih, aku udah tau semuanya gak ada yang harus di tutupi lagi"


"Malu kan gak pake apa-apa"


"Bagus dong, jadi gak buang buang waktuku buat bukain baju kamu, jadi langsung gaspol nanjak ke puncak gunung terus langsung terjun sampe aku mendarat ke hutan belantara" bisiknya dengan nafas yang sudah berat.


πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰


Babang Reza ngomong apa sih?


othor gak ngerti deh🀭🀭🀭🀭🀭


Like komennya yuk ramaikan..


like dong jangan jadi readers ghaib πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚.