
🌻🌻🌻
Reza...
"An, korban kritis" teriak salah satu suster yang baru saja keluar dari kamar rawat.
"Ana, kedalam dulu, bang"
"Iya, An" jawab Rafka cepat, ia dan si supir kembali khawatir dan panik, jika harus dibawa kerumah sakit akan memakan waktu kurang lebih tiga jam, lalu bagaimana jika korban tak bisa di diselamatkan?
Begitulah kira-kira isi pikiran kedua pria yang masih duduk bersebelahan di ruang tunggu.
"Kalo sampe korban meninggal, perkaranya Laen lagi ya" ucap Rafka pada si supir
"Wah, bang.. jangan gitu dong" sahutnya dengan mimik wajah ketakutan.
"Ya kamu gak denger tadi, korban kritis!" sungut Rafka kesal, jika sudah begini ia juga pasti akan terseret.
"Doain selamat bang, saya mohon" pintanya lirih dengan menangkup kan kedua tangannya.
"Kita mikir jeleknya aja dulu deh, dia sepertinya bukan warga sini"
Si supir mengangguk, ternyata terka'an keduanya sama.
"Kaya orang kaya, di lihat dari pakaiannya" gumam Rafka.
"Iya, bang, makanya saya takut banget, gimana kalo keluarganya nuntut saya?"
"Ya, itu risiko kamu, ini semua kan salah kamu nyetir mobil saat mengantuk" oceh Rafka sambil mendengus kesal.
"Saya sedang bertengkar dengan pacar saya, bang, semalaman saya terus bujukkin dia biar gak marah sama saya, makanya saya belum tidur sampe sekarang" jawabnya sembari menunduk, rasa penyesalan jelas terlihat di wajahnya.
Rafka menepuk bahu si supir berkali-kali dengan pelan, asal masih mau bertanggung jawab tak apalah Fikirnya.
Hari semakin sore bahkan sebentar lagi berganti malam namun belum ada tanda tanda Reza siuman meski telah mendapatkan transfusi darah, luka di kepalanya mengalami pendarahan walau tak begitu hebat tapi membuatnya kehilangan banyak darah.
"ko lemes banget, An" tanya Rafka pada Ana.
"Habis donor darah ke pria tadi, bang beruntungnya golongan darahnya sama, gak kebayang kalo harus nyari dulu ke PMI kan jauh, adanya di rumah sakit" jawab Ana dengan wajah sedikit pucat.
"Terimakasih ya, An. kamu emang adik Abang yang terhebat, jika saja ibu dan bapak masih ada Abang yakin mereka bangga padamu karna kamu menjadi apa yang mereka inginkan, kamu banyak menolong orang" ujar Rafka dengan bangganya.
"Iya, bang, tapi sayangnya ibu sama bapak udah gak ada, gak liat Ana kaya gini" sahutnya sedih.
"An, bisa temenin pasien gak?, aku mau cari makan dulu" tiba-tiba teman satu profesinya membuyarkan lamunan kakak beradik itu.
"Oh, iya kak" sahutnya cepat.
"Abang boleh ikut?" tanya Rafka.
"Ayo, cepat" ajak Ana.
"Ayo, kamu ikut nanti kamu malah kabur" seloroh Rafka pada si supir yang masih duduk bersandar hampir terlelap.
"Iya.. iya... Bang!"
kini ketiganya sudah berada di dalam kamar yang tak begitu besar, hanya ada Reza di dalamnya yang terbaring meski tersedia dua ranjang pasien.
"Parah gak, An?" tanya Rafka setelah semuanya berdiri disisi brankar.
"Lumayan, tapi gak harus di rujuk kerumah sakit ko'. Cuma bahunya kirinya retak, bang"
Rafka hanya mengangguk paham, sedang si supir hanya diam tanpa ekspresi.
"Tidur dulu sana, jika tak kuat tahan kantuk mu itu" kata Rafka.
"Hem,.."
Si supir dengan perawakan kecil itu pun menuju kursi besi di sudut ruangan, langsung menelungkup kepalanya diatas nakas tak berselang lama terdengar dengkuran halus darinya membuat Rafka dan Ana terkekeh.
"Ada identitasnya gak?" tanya Rafka.
"Ada, bang. dompet disaku celananya tadi pas dibuka untuk salin"
"Dimana?"
"Tunggu, aku ambilkan dulu"
Ana langsung bergegas kearah loker di sudut ruangan dekat si supir tertidur, diraihnya satu bungkusan kecil berisi dompet lipat berwarna hitam.
"Bajunya lagi di cuci, buat kalo udah sadar dan pulang" kata Ana sambil menyerahkan dompet tersebut.
"Orang mana dia, An?"
"Entahlah, aku belum lihat"
Rafka langsung membuka dompet yang ia pegang, matanya langsung tertuju pada satu foto yang terselip didalamnya.
"Hem, sudah ada yang punya, An" kata Rafka menggoda Ana.
"Memang kenapa?" tanya Ana bingung.
"Baru mau Abang sodorkan padamu, An" kekeh Rafka.
"Ish, Abang ini. apa aku tak laku sampai harus dijodohkan dengan korban kecelakaan" dengus Ana kesal.
"Haha, menikah lah An, biar abangmu ini tenang"
"Sudahlah, bang!, cari tau alamatnya saja cari kartu penduduknya pasti ada"
"Uangnya hanya dua lembar, An" kekeh Rafka lagi sambil terus merogoh selipan demi selipan dompet Reza.
"Banyak banget kartunya sampai warna warni begini, An" seloroh Rafka lagi membuat Ana kesal lalu merebutnya.
"Sini, biar Aku cari!"
Ana menarik satu kartu yang terselip terpisah tepat dibalik foto Reza dengan Melisa saat keduanya berada di kantor, ketika pertama kalinya Reza menyebut Melisa dengan panggilan KHUMAIRAH.
"Reza Rahardian Wijaya"
"Orang kota, bang, jauh banget!"
"Dua puluh sembilan tahun, sudah menikah" ucap Ana dengan lirih.
"Tuh kan ada yang punya" kata Rafka.
"Pria tampan begitu pasti udah ada yang punya, bang. lihat nih wanita nya juga cantik"
Rafka hanya tersenyum kecil, bahagia rasanya jika sudah menggoda adik kesayangannya itu, gadis cantik berumur dua puluh empat tahun yang belum sama sekali menjalin hubungan...
🍁🍁🍁🍁🍁
Sadar ya bang, tuh anak tiga biji keburu bisa manjat pohon kalo kelamaan merem Mulu🤭
like KOMENNYA yuk RAMAIKAN ♥️
jangan lupa untuk mampir ke babang Reynard ya #menikahisahabatku