Suami Dadakan

Suami Dadakan
extra part 61


🌻🌻🌻🌻


Seminggu berlalu, kini Melisa sudah kembali kerumahnya seperti biasa, bahkan dua hari ini sudah bisa mengurus anak dan Suaminya seperti sedia kala, wanita yang masih saja cantik itu tak pernah bisa duduk diam di atas tempat tidur tanpa melakukan aktifitas apapun.


Ia selalu saja bangun saat suaminya usai membersihkan diri, melayaninya sampai Reza rapih dan sempurna.


.


.


.


"Ya ampun, mama ngidam apa sih bisa punya anak ganteng banget" kekeh air di depan cermin, pemuda yang baru saja menginjak usia delapan belas tahun itu tersenyum puas dengan paras tampannya yang menjadi idaman para gadis, ibu ibu, tante Tante bahkan bocah kecil yang belum lulus TK.


Dengan memakai seragam lengkapnya, Air meraih tas punggung di atas tempat tidur lalu bergegas keluar dari kamarnya yang kini sudah terpisah dari Bumi setahun lalu saat ulang tahunnya ke tujuh belas.


"Maaaaaaah"


"mamah, kakaaaaaak"


Ya, masih sama seperti lima belas tahun lalu, panggilan kesayangan Air untuk mama tercintanya, Melisa.


Tok..tok..tok...


"Mah, ngapain sih, udah siang" Air menggedor pintu kamar kedua orangtuanya.


"Iya, sayang" seru Melisa dari dalam kamar.


CEKLEK.


Melisa membuka pintu dengan tergesa, kini anak dan ibu itu sudah saling berhadapan di depan pintu yang langsung Melisa tutup kembali.


"Duh, wangi banget sih" Ucapnya setelah mendapat ciuman selamat pagi dari si sulung.


"Iya dong, kan biar ganteng nya maksimal' jawab Air sambil terkekeh.


Reza yang keluar lengkap dengan stelan jasnya pun langsung menyelak ucapan anak nya.


"Siapa yang ganteng maksimal?"


Air langsung tergelak saat melihat raut masam Reza, pria yang masih sama tampannya itu sedang kesal karna aksinya cicip mencicipinya di ganggu oleh air barusan


"Aku, NAGA nya papa" jawabnya bangga.


"Cebong kali ah" sahut Reza.


Pria beranak tiga itu pun langsung turun meninggalkan Air dan Melisa, menuruni anak tangga lalu masuk ke ruang makan.


"Pagi sayang" sapanya pada Bumi, anak keduanya yang tak banyak berbicara namun selalu sigap dalam bertindak.


"Pagi, Pah". sahutnya yang mencium Reza.


"Adek mana?" tanyanya Sambil menarik kursi meja makan.


"Ke toilet tadi"


Melisa yang di gandeng si sulung langsung melayani anak dan suaminya untuk sarapan, datangnya Cahaya dengan raut wajah sedikit pucat menjadi perhatian semuanya yang sudah berkumpul.


"Adek kenapa?" Melisa langsung menghampiri si bungsu dengan khawatir.


"Sakit perut, mah" Jawabnya yang berhambur memeluk Melisa.


"Makan apa?"


Reza langsung bangkit, Pria yang super protektif itu tentu sangat khawatir pada si bungsu, Cahaya hatinya.


"Pasti pedes!" ucap Reza dengan menyelidik.


"Cuma dua sendok sambalnya"


Reza menangkup wajah si bungsu, mengusap setetes air bening di ujung matanya.


"Gak usah sekolah ya, istirahat dirumah" titah Reza yang di balas anggukan oleh si bungsu.


Melisa pun mengantar Cahaya untuk kembali ke kamarnya,. sedang kan yang lain melanjutkan sarapan mereka sampai tandas.


.


.


"Mah, Pah duluan ya" pamit Bumi.


"Hati-hati ya sayang" pesan kedua orangtuanya yang di balas anggukan dan senyum hangat.


Air yang belum menghabiskan sarapannya masih santai dimeja makan tak perduli kini waktu sudah sangat mepet jam masuk sekolahnya.


"Kamu belum jalan, kak?" tanya Reza setelah menyesap kopinya yang kini tinggal separuh.


"Ntarlah, jalan sebentar juga nyampe"


"Jangan suka ngebut, kak. Belum setahun udah abis motor tiga!" keluh Reza yang hampir tiga bulan sekali mengganti motor si sulung yang hancur karna tabrakan.


"Belom lagi masuk kantor polisi, Papa jadi terkenal banget tuh di pos Deket sekolahan kamu!"


Air hanya tertawa, seringnya ia ngebut di jalan membuat hanya ada dua kemungkinan antara masuk rumah sakit atau masuk kantor polisi.


💦💦💦💦💦💦💦💦


Bucinnya Air sini merapat 😂😂


Ada yang masih mempermasalahkan nama-nama disini?


yang bilang ini kaya Nupel sebelah sampe ke menjurus ke Plagiat 😝😝


mohon maaf ya..


dalam undang-undang kepenulisan, cap plagiat itu cuma berdasar ke dalam isi cerita!!


ingat ya.. isi cerita atau alurnya.


jadi masalah nama tokoh, cover dan judul novel itu gak bisa di sebut Plagiat sayang ❤️❤️


Kecuali si authornya udah memiliki hak paten yang di lindungi hukum juga.. atau minimal udah bikin nasi tumpeng gitu 🙄🙄🙄


Jadi tolong ya, jangan terlalu gampang men cap sebuah karya orang itu plagiat.


apalagi cuma nama!!


kamu yakin, nama kamu itu gada yang sama di satu kota 🤣🤣🤣🤣..


Nasib author remeh kie amat Gusti 😭😭😭


jangan lupa like komennya ya


vote dan hadiah juga ya..