
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Reza dan Melisa yang masih ada di kediaman Biantara terus di manjakan oleh si bungsu. Tak ada satu jam pun terlewat jika siang hari tanpa berada di sisi orangtuanya. Little princess Rahardian itu akan begitu senang jika mendapat giliran mengurus mama dan papanya karna jika di rumah utama, ia akan terus di ganggu oleh keponakannya yang tak mau kalah.
"Papa disini aja ya sama adek" rengek Cahaya yang kini usianya sudah memasuki setengah abad tapi kelakuannya jika dalam pelukan sang Papa bagai balita yang menggemaskan.
"Kan udah satu minggu, papa balik ke rumah dulu nanti kerumah kak Bu, lalu balik sini lagi ya, Cantik" jawab Reza, mengingatkan peraturan adil di antara tiga buah hatinya.
"Iya, adek tahu, tapi Adek masih kangen papa sama mama"
"Ya sudah, kamu aja ikut kami di rumah utama" timpal Melisa.
Cahaya satu-satunya perempuan yang seringkali membuat sang Nyonya Besar Rahardian Cemburu, karena kasih sayang sang suami benar-benar tercurahkan pada putri semata wayang mereka. Apapaun pria itu lakukan dan berikan tanpa terkecuali.
"Gak, ada si Tutut. Adek mana bisa peluk papa sama mama kaya gini, yang ada di rebut sama dia" cetus Cahaya.
Reza mencium kening si bungsu penuh kasih sayang, ia tak bisa membayangkan jika anak perempuan manjanya itu pergi karna pernyakit jantung bawaan dari lahir, mungkin dunia akan runtuh seketika baginya. Harta tak menjamin nyawa seseorang jika Tuhan berkehendak lain.
.
.
.
Satu minggu di kediaman Biantara berlalu, Air dan Hujan kini dalam perjalanan menjemput orangtua mereka. Reza dan Melisa pun kini sudah bersiap di dalam kamarnya tinggal menunggu si sulung datang.
"Kita ke bawah yu, Mas" ajak Sang Khumairah.
"Iya, Ra"
Pasangan Baya itu pun keluar dari kamar mereka di lantai atas dengan menggunakan lift, karna tak mungkin bagi Keduanya menuruni tangga yang besar dan berkelok.
"Hati hati, Sayang" ucap Si pria yang masih terlihat tampan itu saat masuk kedalam kotak besi.
Lift terbuka, senyum pun mengembang seraya pipi yang merah merona di wajah Melisa karna Reza terkekeh kecil.
"Sudah, Mas. Aku sedang tak hamil" kata Melisa.
Dengan tangan saling menggenggam, Reza menuntun istrinya menuju ruang tamu. Keduanya tak sengaja berpapasan dengan Langit, si anak tertua yang mendadak jadi mantu termuda saat menikahi si bungsu.
"Papa sama Buna mau kemana?" tanya Langit.
"Mau ke ruang tamu, nunggu kakak dateng" sahut Melisa sambil menangkup wajah anak tersayangnya yang kini tubuhnya jauh lebih tinggi padahal sepertinya baru kemarin ia memeluk Langit saat pertama kali menemukannya.
"Kenapa gak besok atau lusa sih, nanti abang yang anter ke rumah utama" protes pria itu yang merasa satu minggu sangat cepat berlalu.
"Nanti jika ada waktu, kami kembali" jawab Reza.
Langit ikut berjalan menuju ruang tamu di rumah mewahnya yang bak istana. Kediaman Biantara yang sudah di renovasi sedemikian rupa tapi tak melupakan bentuk aslinya karna bangunan tersebut adalah turunan dari kakek dan nenek Langit yang tak pernah ia tahu sama sekali.
"Bang, kurangi aktifitas kantormu. Jangan terlalu sibuk bekerja" ucap Reza pada menantu kebanggaannya yang sangat sukses dalam dunia bisnis sejak dulu. Otak pintar dan sifat ramahnya membawa Langit Marvelio Biantara menjadi seorang pengusaha yang sangat terkenal dan tak di ragukan lagi kemampuannya.
"Abang paham, Pah. Akhir akhir ini Abang memang sibuk di luar" jawabnya penuh sesal karna waktu bersama sang istri sangat berkurang.
"Bagus jika kamu paham, Kebahagiaan istri terletak pada suaminya. Bagaimana ia di perlakukan oleh prianya itu. Dan satu yang harus kamu tahu, Bang"
"Apa, Pah?" tanya Langit.
.
.
.
Wanita itu Istimewa, saat ia kecil ia membuka pintu surga untuk ayahnya, saat dewasa ia menyempurnakan agama suaminya dan saat menjadi ibu, surga ada di telapak kakinya...