Suami Dadakan

Suami Dadakan
extra bab 170


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Anak bungsu dan menantu pertama Reza itupun terus berjalan bergandengan menuju area parkir apartemen dengan enam pengawal dibelakangnya.


Para staf dan jejeran bangunan mewah yang menyadari hal itu tentu langsung mundur dan menunduk.


"Kakak kadang risih kalo kaya gini" bisik Hujan pada adik iparnya itu.


Cahaya yang masih merengut kesal hanya tersenyum kecil menanggapi keluhan istri kakaknya itu.


Hujan yang tadinya akan membawa mobil pemberian mahar Suaminya harus mengurungkan niat saat salah satu pengawal tadi malah justru sudah membuka pintu salah satu mobil milik mertuanya.


"Silahkan, Nona"


Dua gadis itu saling pandang namun Akhirnya menurut untuk masuk.


Cahaya langsung merogoh tas kecilnya untuk mengambil ponsel.


"Hallo, Pah" ucap si bungsu saat teleponnya tersambung.


"Iya, Dek, ada apa?" tanya Reza begitu lembut, Sepenat dan sesibuk apapun ia dengan pekerjaannya tapi jika Cahaya hidupnya sudah menelepon tentu dengan senang hati ia akan menjawab.


"Ini kurang banyak suruhan papa" dengus gadis itu kesal.


Reza hanya tersenyum, ia sudah menebak saat dering ponselnya tadi bergetar.


"Papa gak mau hal buruk terjadi pada kalian, terutama padamu, anak manjanya papa" jelas Reza yang memang tak pernah bisa menutupi rasa khawatirnya.


"Tapi gak sebanyak ini, papa gantengnya adek"


"Hahaha, kan kalian berdua, sayang" jawab Reza yang merasa gemas jika Cahaya sudah mengeluh tentang ketatnya penjagaan untuknya.


"Lakukan sesukamu, tapi harus hati-hati ya. Jangan terlalu lelah, ok" pesan Pria itu dengan suara begitu lembut.


"Iya, Pah"


" Jangan buat papa khawatir karna kecerobohan mu, kamu tau kan, bagaimana papa sangat menyayangimu?"


"Hem, Adek juga sayang papa"


Usai berbincang dengan papanya, Si bungsu kembali memasukkan benda pipih itu kedalam tas.


"Kamu udah biasa begini?" tanya Hujan karna ini baru pertama kalinya ia keluar dengan penjagaan ketat, ada satu mobil di belakang mereka dengan empat orang di di dalamnya.


"Enggak, paling dua orang. Tapi karna ada kakak juga jadi nambah" jawabnya.


"Oh, gitu"


"Aku kan biasa pergi selalu sama Abang atau Kakak, jadi kalo sama mereka gak perlu ada orang lagi paling ngikutin aja dari jauh" kekehnya sampai kedua mata lentik itu menyipit.


"Segitunya?" tanya Hujan antusias.


Ia yang sibuk kuliah hampir satu hari memang belum begitu banyak tahu tentang keluarga suaminya dan pada saat libur pun ia memilih pulang untuk menemani Bunda walau harus melewati drama panjang meminta izin suaminya.


"Kakak Seneng ada di keluarga kalian, semuanya penuh kasih sayang dan saling melengkapi" ujar Hujan tulus dari hatinya.


"Aku juga seneng, kak Hujan sama kak Yayang semua baik" balasnya sambil meraih tangan Kakak iparnya.


"Galaknya sama kak Ay aja ya, ke aku jangan" pintanya dengan wajah menyedihkan.


"Hahaha, mana mungkin! kakak bisa di gantung di pohon kelapa nanti sama mama juga papa"


Tak terasa saking asiknya berbincang kini mobil justru sudah berada diarea parkir salah satu toko buku terbesar dan terlengkap di ibukota, Bangunan tiga lantai itu tentu menjadi surganya para kutu buku.


"Aku sering banget kesini sama kak Bumi, kalo kak Ay jarang" ucapnya sambil bergelayut manja di lengan Hujan.


"Kakak lebih seneng pesan atau nitip" jawab Cahaya.


Hujan hanya mengangguk, Ia yang di pesan jangan meninggal adik iparnya itu tentu selalu dipegang oleh Cahaya.


Rak-rak tinggi dengan ribuan buku berbagai macam membuat Hujan bingung harus memilih yang mana.


"Beli aja semua" kekeh si bungsu.


"Bingung bacanya nanti" jawab Hujan yang masih menimbang ragu mana yang mau di belinya saat ini.


Tak hanya satu, kini lima buku tebal sudah masuk kedalam kantong belanjaan.


"Yuk, ke kasir" ajak Hujan.


Dua gadis cantik berkulit putih bersih itu pun langsung ke meja kasir untuk melakukan pembayaran.


"Habis ini cari makan yuk, Kak" kata Cahaya sambil menunggu semuanya selesai.


"Iya, tapi terserah kamu ya" ucap Hujan, ia gak berani mengajak adik iparnya itu karna takut selera mereka berbeda. Hujan yang hanya gadis biasa tentu seleranya pun masih yang wajar, berbeda dengan keluarga suaminya.


"Siap, kak"


Usai transaksi selesai, di gadis itu langsung keluar dari toko buku.


Baru saja mereka hendak masuk kedalam mobil namun tiba-tiba tangan Cahaya di tarik Sampai akhir masuk kedalam pelukan seorang pria.


"Abang" lirih Cahaya yang sudah hafal betul dengan harum tubuh menjaga hatinya itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


Kenapa gak bilang?


kamu tau gimana takutnya Abang saat kamu gak ada..


Apalagi pergi tanpa Abang.


Jangan kaya gini lagi.


Abang bisa gila karna panik nyariin kamu!


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


Besok Si bungsu di kerangkeng ya bang 😂😂😂


Biar gak bisa kabur 😋😋


Belom aja besok gue culik di ajak ngebaso beranak 🤭


Like komen nya yuk ramai kan