
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Jam delapan pagi Usai sarapan semua keluarga Reza bergegas menuju rumah utama, dari sanalah mereka akan berangkat menuju tempat dimana diadakannya akad nikah Air dan Hujan berlangsung sore nanti.
"Ada yang ketinggalan gak?" tanya Reza memastikan.
"Gada, Pah" sahut Bumi.
Pria tiga anak itu langsung mengerutkan dahinya saat si sulung datang menghampiri.
"Masih dibawa aja tuh Pisang!" goda Reza pada Air yang memeluk bantal Kesayangannya.
"Bawalah, papa mau aku gak bisa tidur?"
"Ntar malem tuh peluk istri, bukan peluk pisang lagi" ejek Reza, ia semakin senang saat melihat Air mulai memicingkan mata karna tak sukanya.
"My bananas are still the best and most comfortable, Pah" ucapnya penuh penekanan.
Reza hanya tertawa lalu merangkul bahu sang istri tercinta yang sedari tadi mengulum senyum.
Hanya Ia, Melisa dan dua kembar jagoannya karna si Bungsu sudah lebih dulu kerumah utama dengan Langit sepulang Chek-up dari rumah sakit.
.
.
"Kakak udah hafal bacaan ijab kabulnya?" tanya Reza pada si sulung yang duduk dikursi belakang sedang memainkan ujung bantal pisangnya.
"Udah, Pah" sahutnya dengan tatapan kosong, ada hal yang sedang mengusik hati dan pikirannya sedari kemarin.
"Itu panjang banget Loh, kak. maharnya aja banyak" ucap Melisa ia menatap bangga anak Kesayangannya.
"Bukan masalah banyak, tapi ribet, hahahaha" Reza tertawa terbahak-bahak jika mengingat jika hari ini anaknya akan di tantang oleh calon istrinya sendiri.
"Semalem aja masih salah mulu" timpal Bumi.
Air langsung menoleh dan mendengus kesal, ia tatap adiknya itu dengan sorot mata bagai elang.
*******
Rumah Utama kini sudah nampak ramai, ada beberapa kerabat dan keluarga dekat berkumpul karna tak kurang dari tiga jam lagi mereka akan pergi bersama menuju masjid tempat janji suci sang pewaris inti RAHARDIAN nanti di langsungkan.
"Uncle, kakak gemetaran nih" ucapnya pada sosok pria tampan tinggi dan putih.
"Udah biasa, semua pria akan merasakan hal yang sama seperti yang kakak rasakan" sahutnya sambil meraih tangan dingin Air.
"Uncle dulu gini?" tanya Air lagi.
"Iya, lebih dari ini malah"
Air menyandarkan kepalanya pada pria itu, Pria yang selalu membelanya saat Reza terkadang memberi ia hukuman yang tak masuk akal saat kecil.
Pria itu juga yang selalu merentang kan tangan saat ia menangis tak jelas dan sulit untuk dihentikan.
"Rasanya baru kemarin uncle Gendong kakak, kenapa waktu begitu cepat berlalu" gumamnya sambil mengelus kepala Air.
"Uncle kebanyakan di luar negeri" Sahutnya yang justru membuat pria itu mencubit pipi Air.
"Demi Aunty pirangmu yang teramat Uncle cintai, kak. Kalo Uncle gak bisa memenuhi semua kebutuhannya ya uncle harus siap di tendang sama papamu itu" cetusnya kesal.
"Hahaha, Uncle sama papa kapan bisa akurnya sih" Ejek Air sambil tertawa.
.
.
.
.
Apa kakak bisa?
Satu pertanyaan yang menjadi ganjalan dalam hatinya.
Air membuka laci nakas sisi tempat tidur, ia merogoh ponsel yang ia letakkan di dalamnya sebelum makan siang tadi.
Benda pipih itu kini sudah ada di telinga kanannya, bunyi nada sambung yang terdengar berulang membuat ia kesal.
"Hallo" sapa Hujan setelah Air mencoba menghubunginya sebanyak dua belas kali.
"Lo, kemana aja sih, Jan Hujan deres!, dari kemaren gue chat gak satupun di bales sampe gue telepon gak pernah di angkat!" ocehnya pada sang calon istri.
"Sibuk" sahut Hujan Singkat padat dan jelas.
Air tentu tercengang dengan jawaban yang ia dengar, sesibuk apa sampai sampai gadis itu tega mengabaikannya.
"Emang gak bisa sekali aja bales chat gue?" tanya Air yang sudah menaikan nada bicaranya.
"Gak sempet, Ay"
"Lo lama-lama gue masukin museum rekor baru tau rasa ya!" sungutnya lagi menahan emosi.
"Kenapa?" tanya Hujan bingung.
"Karna Lo satu-satunya cewek yang nyuekin Gue, gak balas chat gue dan gak mau angkat telepon gue! cuma Lo, Jan! ya ampun sumpah gue gak bohong Lo doang yang begini" ucapnya gemas bercampur kesal pada gadis yang sore ini akan resmi menjadi istrinya.
Hujan malah tertawa, ia begitu aneh dan lucu saat mendengar Air memarahinya.
"Lagian kenapa sih? bentar lagi juga ketemu" ucap gadis itu terkekeh.
"Bukan masalah bentar lagi ketemu, tapi gue udah kangennya dari kemaren Jan Hujan!"
"Iya, maaf. Udah ya gue di panggil Bunda, bye"
Hujan menutup teleponnya secara sepihak membuat pemuda itu benar-benar jengkel dibuatnya, di lemparnya benda pipih itu ke sampai ke ujung kasur sambil mengumpat dalam hati.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Awas Lo ya nanti malem!!!!!
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Ancemannya enak nih kayanya 🤭🤭🤭
Like komen nya yuk ramai kan