Suami Dadakan

Suami Dadakan
Jari Tangan.


🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Kepulangan Reza dan Melisa ke rumah utama tak disangka justru di sambut oleh adik satu satunya yang tak lain adalah Ameera putri Rahardian Wijaya yang kini menjadi Nyonya besar Pradipta setelah ia menikah dengan Duda satu anak yaitu Ricko, tapi wanita itu justru datang seorang sendiri tanpa di temani Sang suami maupun dua anaknya, Mitha dan Zico.


"Sudah lama?" tanya Reza sambil merangkul bahu si bungsu. Ia adalah satu-satunya pengganti orangtua bagi Ameera setelah kepergian Tuan Wisnu dan Nyonya Riana.


"Enggak, belum sampai tiga puluh menit"


"Sendiri?"


"Hem, seperti yang kakak lihat" jawab Meera, panggilannya sejak kecil.


Ameera lahir saat Reza beranjak remaja, jadi tak salah jika pria itu langsung memanjakan adiknya sedemikian rupa apalagi saat Reza sudah berstatus sebagai seorang pengusaha, semua yang di inginkan adiknya selalu ia penuhi tanpa berpikir dua kali termasuk saat meminta izin untuk dipersunting oleh Ricko yang memang adalah musuh bebuyutannya semasa sekolah hingga kuliah.


"Ada masalah? ceritakan pada kakak"


"Masalah apa? hidupku aman-aman saja, kak" sahutnya lagi.


Ameera hanya ingin di peluk, dan Reza paham hal itu begitu juga dengan Melisa. Ia berlalu lebih dulu menuju kamarnya di lantai dua menggunakan lift. Wanita yang kini memegang kendali di rumah utama itupun memberikan waktu dan ruang untuk kakak adik itu meluapkan segala rasa.


"Aku rindu mama dan papa" lirih Ameera yang tak lagi mampu membendung cairan bening di sudut matanya yang akhirnya tumpah membasahi pipi.


"Kirimkan doa, hanya itu yang mereka butuhkan saat ini. Kita akan menyusulnya nanti, berkumpul bersama seperti dulu, iya kan?" jawab Reza sambil mengusap kepala adik kesayangannya.


Ameera hanya mengangguk, entah kenapa dua hari ini perasaannya begitu gusar. Bayangan masa lalu seolah tak lepas dari pelupuk matanya yang teduh. Senyum papa dan sentuhan mama yang sudah lama tiada begitu sangat Ameera rindukan.


"Aku hanya punya kakak, tolong jangan tinggalkan aku. Cukup bagiku kehilangan mereka" pintanya yang kini semakin kencang terisak.


Reza tersenyum kecil, jika bisa jujur tentu ia pun merasakan hal yang sama. Kerinduan pada orang-tua yang sudah tiada adalah patah hati terbesar bagi seorang anak walau mereka hidup bergelimang harta, nyatanya tetap tak mampu membuat Reza atau Ameera bisa mengembalikan semuanya meski hanya satu menit.


Yang pergi tetap pergi, tugas yang di tinggalkan hanya cukup berkirim doa untuk di pertemukan di waktu yang berbeda.


"Mama dan papa akan sedih bila melihatmu seperti ini, dek. Ayolah tersenyum" goda Reza yang malah di jawab gelengan kepala. Wanita yang masih saja cantik itu belum puas menumpahkan rasa sedihnya.


"Kemarikan tanganmu" pinta Sang kakak yang kini sosoknya berganti menjadi seorang ayah.


"Untuk apa?" tanya Ameera di sela isak tangisnya.


"Kamu tahu, kenapa Tuhan menciptakan sela-sela jari tangan?"


"Enggak, memang untuk apa?" tanya Ameera lagi.


.


.


.


Tuhan membuat jari-jari bersela tak lain agar ada jari lain untuk mengisinya, lalu menguatkan dan setelahnya menggenggam erat untuk menyalurkan rasa yang tersimpan dalam hati.


Jadi, berhenti lah untuk bersedih karna kamu tak sendiri.