
🌻🌻🌻🌻
ABC 1..
"Pagi mah" sapa Bumi lembut sambil menarik kursi meja makan
"Pagi, sayang" sahut Melisa yang sudah menyodorkan pipinya pada si tengah.
CUP
Dua kecupan mendarat sempurna di kedua pipi mamanya, hal wajib yang selalu Bumi lakukan sebagai ungkapan rasa cintanya pada wanita yang sudah melahirkannya itu.
"Kakak mana?"
"Masih tidur, mah" jawab Bumi setelah menyeruput susu coklat hangatnya.
"Mama bangunin kakak dulu ya sayang" ucap Melisa yang hanya di balas Anggukan oleh Bumi.
"Mau kemana, mah?" Tanya Cahaya saat berpapasan dengan Melisa di tengah tangga.
"Bangunin kakak dulu, sayang" sahutnya saat mendapat ciuman dari si bungsu.
.
.
CEKLEK
"Kakak, ganteng, sayangnya mama" ujar Melisa sambil berjalan mendekat ke ranjang anak sulungnya.
"Ayo, bangun, Nak, udah siang" Melisa menyibakkan selimut berwarna kuning bergambar pisang yang menutupi tubuh Air.
"Ngantuk, mah" rengeknya yang justru mengeratkan pelukannya pada guling pisang kesayangannya.
"Kan mau sekolah, adek kamu udah dibawah tuh nunggu buat sarapan"
"Bekel aja, mah, nanti kakak makan di mobil" Pintanya pada Melisa.
"Enggak, kita sarapan sama-sama"
Air membuka matanya dengan sangat terpaksa.
"Ngantuk, mah"
Melisa langsung menatap anak sulungnya itu dengan sorot mata tak ingin di bantah, jika sudah begini Air mau tak mau harus bangun dan mandi untuk bersiap-siap ke sekolah.
"Cium dulu" rayunya sambil menunjuk pipi kanannya
"Anak sama papanya sama aja, bangun tidur selalu aja pake drama cium" sungut Melisa namun tetap mencium anak kesayangannya itu yang membuat Air terkekeh sebelum turun dari ranjangnya.
.
.
.
Kini ketiga anaknya sudah duduk rapih siap menikmati sarapannya masing masing, tak ada drama apapun pagi ini, semua diam tanpa ada yang banyak bicara.
"Bekalnya sudah mama siapkan!" ucapnya saat menu sarapan sudah tandas tak tersisa.
"Papa kapan pulang, mah?" tanya Cahaya sedih.
"Hari ini, paling lambat esok pagi" jawab Melisa.
Ya, ini hari kedua sarapan tanpa Reza bersama mereka, perusahannya yang semakin berkembang membuat pria tiga anak itu semakin sibuk, dalam sebulan ada saja waktu yang mengharuskannya pergi keluar kota bahkan keluar negeri
"Kangen papa" lirih si bungsu lagi
"Iya, mama juga kangen, kalian berdoa supaya papa cepat menyelesaikan pekerjaannya"
Ketiga anak yang kini sudah beranjak remaja itupun mengangguk paham, dan langsung bangkit dari duduknya untuk bersiap berangkat ke sekolah, mereka kini menjadi siswa kelas sembilan di salah satu sekolah menengah pertama internasional.
"Berangkat ya mah" pamit Bumi lebih dulu yang disusul Cahaya kemudian Air yang masih menguap menahan kantuk.
"Makanya jangan maen game aja" ujar Melisa setelah mencium Kedua pipi anak sulungnya itu.
"Alesan!"
Air tetaplah Air, sebesar apapun ia kini, sifatnya tak begitu banyak berubah, selalu memberikan warna lain di keluarganya, menjadi anak dan cucu kesayangan yang tingkahnya selalu di rindukan.
Meski terkadang menjengkelkan tapi ia tetap tumbuh menjadi anak yang penurut, setidaknya tak membuat pusing kedua orangtuanya.
***
"Langit, I Love you"
Teriakan seorang gadis yang satu kelas dengan Langit sontak membuat Cahaya yang duduk tak jauh dari gadis tersebut langsung terkejut, begitupun dengan Langit yang berada di tengah lapangan dengan tangan masih memegang bola basket.
"Love you Langit.. semangat ganteng!!!
Langit sontak melirik ke arah Cahaya yang memang sedang menontonnya di sisi lapangan, ia langsung melempar bola nya untuk mengejar Cahaya yang bersiap untuk lari.
"Dek, tunggu" panggil Langit yang berlari di belakang gadis cantik berambut panjang itu.
"Dek.. denger Abang dulu" ucap Langit lagi dengan nafas terengah-engah, tangannya kini mencekal lengan Cahaya.
"Lepas, udah sana main lagi biar di teriakin sama cewek cewek" umpat Cahaya dengan begitu kesalnya
"Cewek apa sih, Abang kan cuma main gak ngapa-ngapain, dek"
"Tapi Abang Seneng kan di bilang gitu sama cewek lain?, iya...!" sentak Cahaya yang sudah mulai terisak.
"Ya ampun, Abang gak mikirin itu, mana pernah Abang perduli sih" Langit terus saja merayu, mencoba memeluk tubuh imut itu namun selalu di tepis.
"Abang cuma sayang kamu, dek!" jelasnya agar Chaca mengerti dan tak lagi merajuk tapi sayang gadis kesayangannya itu sudah terlanjur berderaian air mata, dan..
BRUUKKK..
Cahaya jatuh pingsan tak sadarkan diri membuat Langit terkejut dan khawatir.
"Dek, bangun.. dek, Abang mohon bangun!" ucap Langit, pemuda tampan dengan Segudang prestasi yang kini menginjak usia delapan belas tahun.
Dengan sigap ia langsung menggendong tubuh Chaca dan membawanya ke ruang kesehatan sekolah, Air dan Bumi yang di beritahu teman temannya Langsung datang menyusul.
"Ada apa sih, bang?" tanya Air yang panik
"Pingsan, kak" jawabnya lirih dengan tangan tak lepas menggenggam tangan dingin Cahaya.
"Ada drama apa lagi dari cewek-cewek?" dengus Bumi yang jengkel.
"Wah, Abang bikin adek cemburu lagi nih kayanya" kata Air dengan tangan sudah melipat di dada.
.
.
.
"***Siap siap aja di gantung sama papa!!"
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️***
Jemuran kali ah,
Si Ay kalo ngomong bikin panik orang 🤭🤭
loncatnya jauh banget sampe 8 tahun kemudian 🤣🤣
yang masih mau cerita si kembar yang lucu-lucu
mampir ke #Duda impian ya..
disana alurnya masih jaman tiga bocah cebong masih imut-imut..
like komen nya yuk ramai kan ♥️🤗