Suami Dadakan

Suami Dadakan
extra bab 127


🌻🌻🌻🌻🌻


Langit yang tau jika Melisa masih berada dirumah Oppa nya tentu ia tak menyia-nyiakan waktunya yang sedikit lengang setelah rapat makan siang.


Pemuda yang kini sudah dewasa dan matang itu menyempatkan pulang membawa beberapa macam cake untuk sang Buna.


Ia yang masih memakai mobil lamanya terus memutar kereta besinya itu dengan kecepatan sedang karna adanya pembangunan jalan baru yang mengakibatkan sedikit macet disepanjang ia keluar dari kantor tadi.


*Cahaya


[ Abang jadi pulang? ]


Langit menyungging kan senyum saat membaca pesan kekasih kecilnya di ponsel.


*Langit


[ Iya sayang, Abang lagi di jalan sedikit macet, sabar ya.]


Keduanya terus berkirim pesan hingga akhirnya mobil keluar dari kemacetan, ia menyimpan lagi ponselnya kedalam saku jasnya.


Tiiiiiin


Langit menekan klakson mobilnya saat sampai di depan rumah mewah keluarga angkatnya yang begitu gagah terlihat dari luar pagar.


"Makasih ya , Mang" ujar Langit pada satpam yang membuka gerbang.


"Sama-sama, Den" balas pria baya itu.


Langit turun dari mobil membawa satu bungkusan berukuran sedang berisi pesana gadis kecilnya.


Pintu yang terbuka lebar membuat ia sedikit bingung karna ini tak biasanya.


"Permisi" sapa Langit yang sudah berdiri di belakang empat orang yang tak dikenalnya.


"Langit" pekik papa saat melihat cucunya datang tiba-tiba.


"Oppa" Ia langsung menyalami kakeknya begitu sopan dan ramah kemudiaan menganggukan kepala sambil tersenyum manis kepada semua orang yang berkumpul, keempatnya menatap tajam kearah cucu angkat keluarga Rahardian itu.


"Ini anaknya?" tanya salah satu pria berkaca mata hitam.


"Abang masuk ya, Buna sama Adek udah nunggu di kamar" titah papa pada Langit, ada raut cemas di wajah pria baya itu.


"Iya, Oppa." jawabnya menurut.


Langit berpamitan juga pada semua pria yang duduk saling berhadapan itu, dan langsung berjalan menuju tangga untuk ke lantai dua kamar orangtuanya.


perasaan aneh dan tak enak hati ia rasakan sebelum mengetuk pintu kamar.


Ia diam sejenak mengusap dadanya yang sedikit berdetak kencang tak seperti biasanya.


Ada apa denganku?


Dan siapa mereka!


CEKLEK


Ia membuka pintu setelah mengetuknya beberapa kali, ada sahutan dari suara Cahaya yang membuat ia berani untuk masuk.


"Abaaaaaaaang....." seru Si bungsu yang sedikit berlari menghampirinya.


"Kangen banyak-banyak" kekehnya lagi yang langsung diciumi kedua pipinya oleh Langit.


"Udah minum obat belum?"


"Lain kali diperiksa lagi ya jangan sampai tertinggal" pesan Langit sambil menuntun tangan Cahaya menuju Melisa yang sedang duduk bersandar di punggung ranjang.


"Kok udah pulang?" tanya Melisa saat anak angkatnya itu duduk disebelahnya.


"Belum, Bun" jawabnya singkat.


"Nanti Abang balik lagi ke kantor, ini cuma pulang sebentar aja mumpung belum ada rapat sore nanti sekalian beliin pesanan adek" tambah Langit, ia melirik ke arah Cahaya kemudian tersenyum saat melihat si bungsu malah sibuk membuka satu persatu bungkusan kue yang ia bawa tadi.


"Mah, mau yang mana?" tanya Chaca.


"Nanti aja, mama masih kenyang" jawab Melisa saat anak perempuannya itu menawarkan berbagai macam jenis kue yang dibawa Langit.


"Abang kekantor lagi ya, Bun" pamit pemuda itu.


"Dih, nanti aja" cegah Cahaya memegang tangan calon suaminya itu.


"Abang ada rapat dua puluh menit lagi, Abang janji makan malam dirumah" rayunya pada si bungsu.


"Ya sudah tapi hati-hati dijalan, cepat pulang jika urusanmu selesai" pesan Melisa pada Langit.


"Iya, Bun. Tapi--_"


"Tapi apa, Bang?" tanya Melisa penasaran.


"Tamunya Oppa udah pulang belum ya?" gumamnya.


"Siapa?, dibawah ada tamu?" Melisa balik bertanya.


Langit mengangguk mengiyakan perkataan Melisa.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan jangan mereka!!!!


,💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


Tukang daster ya, Ra 🤭🤭🤭🤭


Batako Bumi sama yayang bakal di ungkap di part selanjutnya..😪😪😪🌺


Like komen nya yuk ramai kan ♥️