
🌻🌻🌻🌻
"Cukup!!! menikahlah Minggu depan!"
Perintah Reza bagai petir di tengah hari bolong untuk Air, Hujan dan Melisa tapi tidak dengan dokter Anna.
Wanita itu tersenyum tipis di selingi rasa syukur yang ia ucapkan berkali-kali
Setidaknya nasibmu lebih baik dari bunda.
Cukup bunda yang di lecehkan, menanggung malu hampir dua puluh tahun itu sangat menyakitkan.
"Pah, gak gini caranya, kakak masih muda" protes Air yang tak terima dengan keputusan sepihak Reza.
"Sekarang nikah, nanti nikah lalu apa bedanya?" kaya Reza dengan santai
"Bedalah, kakak masih mau main, Pah".
" Kuliah aja belum satu semester malah" cercanya lagi.
"Tinggal pilih mau perusahaan yang mana, gak usah kuliah kan NaGa nya papa kan pinter" godanya pada si sulung.
"Ogah!" ujarnya sambil menarik tangan Hujan keluar dari apartemen.
Melisa yang juga tak setuju, masih mencoba bernegosiasi dengan sang suami.
"Mas, kita bisa bicarakan ini pelan-pelan" ucap KHUMAIRAH kesayangannya.
"Gadis itu anak dari seorang pria yang menolongku, Ra. Bang Rafka yang bawa aku ke klinik dan dia yang nungguin aku sampe sadar, aku akan inget hal itu."
"Entah jika tak ada dia disana, hal buruk mungkin terjadi padaku, Ra. aku selalu takut jika mengingat itu, kecelakaan yang membuat ku akhirnya jauh darimu serta anak-anak selama beberapa hari, dan itu sangat menyiksa"
Tiga tahun setelah pasca Kecelakaan Reza memang sempat menyuruh orang-orang nya mencari keberadaan keluarga Anna untuk memberikan sedikit hadiah, tapi hasilnya nihil saat klinik tempat ia di rawat dulu ternyata pindah ke lain tempat.
"Tapi, Mas--_"
"Hujan anak yatim piatu, keluarganya jelas dan baik, bukankah kita berjanji untuk tidak mempermasalahkan latar belakang pilihan jodoh anak-anak kelak?"
"Bukan itu maksudku, Kakak masih kecil"
"Semua anak akan selalu terlihat menggemaskan bagi kedua orangtuanya, Ra"
Melisa mendengus kesal, entah apa yang membuat suaminya itu malah menyetujui keinginan wanita yang sedari tadi hanya memperhatikan ia dan Reza yang sedang sedikit berdebat.
"Kakak pasti setuju, dia anak baik" ujar pria tiga anak itu.
"Apa kamu yakin kalau kakak akan jadi suami yang baik juga, Mas? bahkan mereka bilang gak pacaran!"
"Kakak kalau gak mau, pasti pergi sendiri. Buktinya tuh ceweknya di tarik paksa ikut dia" kekeh Reza.
*****
"Bisa gak sih jangan maksa terus?" teriak Hujan saat keduanya sudah berada dalam mobil.
Menikah..
Ya, semua orang pasti menikah dengan takdir yang berbeda bergantung Tuhan mendatangkannya dengan cara apa.
Selama ini ia tak pernah mempunyai kriteria khusus tentang Wanita, bahkan hatinya pun tak pernah terisi oleh nama siapapun selama ini.
Ia hanya senang membuat para gadis tersenyum dengan rayuan recehnya yang konyol.
Sedangkan Hujan yang tak pernah jatuh cinta pun sama, gadis itu selalu menjaga jarak dengan semua pria sesuai aturan dan perintah Bundanya.
"Ay, Lo ngomong dong"
Hujan menggoyang lengan pria di sebelahnya itu yang masih diam dengan tatapan kosong.
"Ay, jangan bikin gue takut, Lo kesurupan ya?"
Air menoleh, ia menatap lekat gadis disebelahnya itu dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Ada apa?, gue terima kalo Lo mau marah sama gue, gue minta maaf" ucap Hujan lirih.
Air masih diam tak berkata apapun sampai beberapa menit, keduanya tenggelam dalam pikirannya masing-masing, tapi kemudian ia meraih lagi tangah Hujan dan bertanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Lo mau mahar apa dari gue?"
🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉
Ada yang mau jawab 😂😂😂😂
Ngehalu rame2 yuk!
hayo... dulu pengen dapet apa? 🤭🤭🤭
LIKE komen nya yuk ramai kan ❤️