
π»π»π»π»π»π»
Meski matahari sudah naik dengan sempurna memberikan sinarnya tapi semua anggota keluarga belum ada yang beranjak dari tempat tidurnya.
Cahaya yang tak mau di ganggu sejak semalam hanya mengurung diri didalam kamar yang ia kunci dengan rapat, entah apa yang gadis cantik itu lakukan didalam sana, Semua pesan yang di kirim Langit tak ada satu pun yang di balasnya membuat Pemuda itu masih saja menitikan air matanya.
Di balik selimut tebal yang membungkus sebagian tubuhnya ia hanya melamun menatap seluruh isi kamarnya yang selama ini ia isi jika Sabtu Minggu atau saat hari libur lainnya, perasaan sedih dan berat meninggalkan jelas sangat ia rasakan.
Di kamar ini Melisa menjaganya jika ia demam, dikamar ini ia selalu menghabiskan malam melakukan video call dengan Cahaya meski hanya berbeda lantai, Di kamar ini menyembunyikan segala rasa yang sering ia pendam, tertawa bahkan menangis sendiri.
.
.
Tok..tok..tok..
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya, ia mengusap wajahnya sebelum turun dari tempat tidur untuk membuka pintu.
"Ya, sebentar " ucap Langit dengan suara parau
CEKLEK
"Sarapan dulu yuk" ajak Melisa, wanita yang sepertinya sehabis mandi itu mencoba tersenyum seakan semua baik-baik saja meski jelas dimatanya masih ada sisa kebasahan.
"Iya, Abang mandi dulu"
Melisa mengangguk sambil mengusap pipi anak angkatnya itu dengan lembut bagai seorang ibu kandung sungguhan.
*****
Semua sudah berkumpul di meja makan, meski ini bukan saatnya Sarapan karna waktu sudah menunjukan pukul hampir jam sepuluh.
" Kalian ada acara hari ini" tanya Reza mencoba memecah keheningan di ruang makan yang biasanya selalu ramai dengan celoteh atau keributan si kembar.
Tak ada yang menjawab, semua diam masih menikmati makanannya masing masing.
"Ada yang mau ikut ke panti bareng Abang?" tanya Reza lagi, ia masih memancing anak-anaknya mau bersuara.
"Biar Abang sendiri aja yang ke panti" jawab Langit yang sadar dengan diamnya ketiga adiknya itu.
"Ok!"
Reza menyerahkan kunci mobil pada Langit agar anak itu bisa sendiri ke panti asuhan untuk mengambil barang-barangnya disana, karna ia dan Reza juga Melisa akan berangkat ke kota X dari apartemen besok pagi.
"Iya, Om"
"Barang kamu yang disini juga gak usah dibawa ya, buat nanti kalau pulang" timpal Melisa, belum juga anaknya pergi tapi ia berharap Langit untuk segara kembali.
"Iya, Bun"
Langit tak hentinya menatap Cahaya yang kini duduk di hadapannya, tak ada senyum di wajah pucat nya saat ini, hanya ada mata yang begitu sembab berwarna merah pertanda gadis itu menangis semalaman.
Pandangannya beralih pada dua adik laki-lakinya, terutama Air, wajahnya tak jauh beda dari si bungsu bahkan lebih merah dengan rambut berantakan, adik pertamanya itu sudah dipastikan mengusir sedihnya dengan bermain game hingga pagi.
Berbeda dengan Bumi, ia masih terlihat tenang dan rapih meski matanya juga memerah, Langit tau kebiasaan Bumi yang selalu menangis dalam diam, menyembunyikan rasa sedihnya hingga tak ada satu pun orang yang sadar ia sedang menyimpan luka.
Langit tersenyum simpul, ia baru sadar jika waktu sangat cepat berputar terlihat dari apa yang kini ada di hadapannya sungguh berbeda dari lima belas tahun yang lalu saat ia berlari masuk ke kamar Melisa untuk melihat si kembar yang baru saja di lahirkan.
.
.
.
.
.
.
Mulai hari ini kita harus terbiasa tanpa menggenggam tangan satu sama lain, cukup kalian bertiga.
Abang akan melihat kalian dari kejauhan!!
π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯
Masalah sedang menunggu mu bang π₯Ίπ₯Ίπ₯Ί
Othornya jahat ππ
Like komennya yuk ramaikan β€οΈπ