Suami Dadakan

Suami Dadakan
bab 158


🌻🌻🌻


Melisa duduk di tepi ranjang setelah mengganti bajunya dengan dress rumahan fikirannya kalut tak menentu walau si sulung tengah merengek kehausan.


"Ra, Ay nangis ko diemin sih?"


Reza yang baru keluar dari dalam kamar mandi sedikit di kejutkan dengan sikap istrinya yang hanya diam melamun dengan tatapan kosong entah kemana, Reza dengan sigap langsung menggendong Ay dan meletakan nya di atas pangkuan Melisa


"Susui dulu, kasihan" titahnya kemudian.


Melisa hanya mengangguk, dengan lelehan air mata di kedua pipinya yang membuat Reza menarik nafas panjang.


"Boleh kasihan sama Chaca, tapi kamu juga harus inget sama yang lain, anak kamu masih dua yang ada, Ay sama Bu butuh kamu, Ra"


"Chaca pasti pengen nyusu juga, Mas. Kasihan disana sendirian" jawabnya dengan Isak tangis yang begitu sedih.


"Justru kalau di bawa pulang kasihan, nanti lama sembuhnya" sahut Reza sambil merengkuh tubuh istrinya.


"Kenapa gak aku sih?, kenapa harus anak ku"


"Jangan terlalu menghakimi, Ra"


****


Reza berjalan ke arah balkon kamarnya setelah istri dan anak anaknya sudah tertidur lelap, ruangan yang temaram mampu membuat ketiganya dengan cepat terbuai ke alam mimpi, namun tidak dengannya.


Baru beberapa jam ia kembali kerumah kini hatinya sudah diliputi rasa rindu pada si bungsu.


Bayangan bayi mungil yang sedang menggeliat kian terbayang, tubuh kecil yang kemerahan dengan mata lentik namun berhidung mancung itu selalu tersengal saat bernafas.


"Papa janji akan bawa kamu pulang secepatnya" gumam Reza yang mengeratkan pegangannya sisi kursi yang ia duduki seperti sedang menahan kesal.


Berkali kali ia menarik nafas panjang lalu ia hembuskan dengan kasar berharap bisa melegakan perasaannya yang gusar, secangkir kopi sudah tandas ia minum, tapi belum ada tanda-tanda matanya mengantuk walau jam menunjukkan hampir pukul dua dini hari.


"Eeeaaaaakk"


Reza langsung bangkit dari duduknya, masuk kedalam kamar lalu mencuci tangannya terlebih dahulu.


"Tumben, Bu yang nangis duluan, biasanya kakak Ay yang rewel" ucap Reza sambil meraih tubuh mungil itu untuk di bawa kepada istrinya.


"Ra.."


"Ra.. Bu nangis, susui dulu ya"


Melisa hanya menggeliat, namun tak membuka matanya membuat Baby Bu seakan tak sabar


Reza kembali memanggil dengan sedikit mengguncang bahu Melisa.


"Ra.. bangun dulu. kebiasaan ih kalo tidur susah Banget bangun!"


"Hmm" sahutnya.


"Nih, udah sampe teriak teriak gini, buruan!"


Ia langsung bangun dan bersandar pada beberapa bantal yang sudah Reza susun di balik punggungnya.


"Mas Reza belum tidur?"


"Belum, aku gak ngantuk" jawabnya sambil mengusap paha putih mulus anak tengahnya.


"Besok kan ke kantor"


"Iya, aku ada rapat pagi tapi males"


"Males, anak kamu banyak nih, masih bisa ngomong males?" sungut Melisa.


"Aw," tiba tiba ia meringis kesakitan.


"Pelan pelan dong, papa gak minta ko' paling nanti mau nyolek aj dikit"


"Nyolek apa?" tanyanya pura-pura tak mengerti.


"Itu.." Tunjuk nya dengan memanyunkan bibir.


"ini?" Melisa malah menunjuk salah satu gundukan daging kenyal nya yang tersembunyi.


Reza malah tergelak dan menutup wajahnya dengan bantal, godaannya justru di balas oleh istrinya sendiri.


"Udah kenyang ya. Sekarang bobo lagi ya ganteng" ujar Melisa sambil menepuk nepuk bagian belakang baby Bu usai menyusu.


Reza menaruh bantal yang di pakai menutup wajahnya tadi ke bawah kepalanya sambil tersenyum menggoda, sedang Melisa yang peka akan senyum maut suaminya itu hanya mencibir.


"Cepetan tidur, aku gakan kasih apa apa"


"Aku juga gakan minta tuh" kekeh Reza.


"Gak minta, tapi nanti aku tidur mas Reza merayap"


"Haha, tau aja!"


kedua orang tua baru itu pun akhirnya menciumi putra kembarnya secara bergantian, walau jauh di relung hati mereka terdapat luka karna salah satunya belum bisa berkumpul bersama.


***Di lain hari ... Ya di lain hari princes cantik kita ada disini.


🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉*


Like komen nya yuk ramai kan ❤️❤️**