Suami Dadakan

Suami Dadakan
bab 122


🌻🌻🌻


Pagi yang tak begitu cerah, justru cenderung sedikit mendung membuat kedua manusia dibalik selimut itu tak ingin membuka matanya, meski sayup sayup terdengar teriakan Ameera dan Bella seperti sedang berkerjaran di luar sana.


Tok tok tok


"Kakaaaaaaak" teriak Ameera sambil menggedor pintu.


"Ish, anak itu!" dengus Reza kesal, ia membalikkan tubuhnya yang sedang memeluk sang istri.


"Kakak, udah siang! ayo sarapan" teriak Ameera lagi.


"Iya, berisik!" jawab Reza dengan teriakan juga membuat Melisa akhirnya menggeliat.


"Ada apa?" tanya Melisa dengan suara seraknya.


"Ada cicak cicak di dinding" jawabnya asal, lalu kembali mengeratkan pelukannya.


****


Setelah berkali-kali Ameera memanggil akhirnya Reza dan Melisa terpaksa bangun dan kini semuanya sudah berada diruang makan untuk menikmati sarapan pagi.


"Gak makan nasi?" tanya Melisa saat suaminya justru mengambil roti tawar dan selai coklat.


"Gak, aku gak terlalu laper" Jawabnya, Reza yang masih mengantuk di buat kesal karena harus bangun lebih awal.


Pagi ini mama dan papa akan kembali kerumah karna ada urusan yang sangat mendadak, pasangan paruh baya itu meninggalkan anak dan menantunya dirumah eyang.


"Kalian pulang lusa ya" kata mama saat semuanya sudah berada di teras.


karna Sebuah mobil mewah sudah menunggu Tuan dan nyonya nya sedari subuh.


"Iya, mah" jawab Reza dan Melisa, tapi tidak dengan Ameera gadis remaja itu langsung menekuk wajah cantiknya.


"Adek gak mau pulang?" tanya papa.


Ameera menggelengkan kepalanya.


"Sekolah, emang mau ngapain lama-lama disini?" kata Reza mencubit pipi gembil adiknya.


"Bella ikut ya nanti" pinta si bungsu.


Mama dan papa hanya saling pandang.


"Nanti kita bicarakan lagi ya sayang" kata papa.


"Mama disana akan mengurus syukuran tujuh bulanan mu, Mel. jangan sampai gagal lagi ya sayang, jaga kesehatanmu dan jangan terlalu lelah" pesan mama pada mantu kesayangannya itu


"Iya, Mah" jawab Melisa, lalu memeluk mertuanya.


"Jaga adik dan Istrimu, berikan apa yang mereka inginkan, dan jangan bertengkar terus dengan Ameera" kata papa.


"Siap, Bos" sahut Reza sambil terkekeh kecil.


Setelah kepergian orangtuanya, kini semuanya kembali masuk kedalam rumah meneruskan aktivitasnya masing-masing.


Ameera kembali ke kamar, eyang kedapur sedangkan Reza dan Melisa bersantai di ruang tengah menonton tv.


"Kakak, antar aku dan eyang kerumah bi Sarnah" kata Ameera tiba tiba.


"Siapa tuh? dimana?" tanya Reza.


"Dekat pasar, bukankah kamu kesana malam-malam bersama Aby." ucap eyang.


"Oh, disana. aku ambil kunci mobil dulu kalau gitu" Reza langsung bergegas ke kamar mengambil kunci dan jaket untuknya dan juga istrinya.


"Ada apa kesana, Eyang?" tanya Melisa.


"Ada hal yang ingin di bicarakan dengannya" kata eyang.


"Memang itu siapa?" tanyanya lagi penasaran.


"Kerabat eyang" Jawab wanita tua itu.


Belum Melisa menerus kan obrolannya, Reza sudah datang memberikan jaket kepada sang istri.


"Pakai dulu sini, Ra" titah Reza.


Melisa hanya mengangguk, diam saat suaminya memakaikan jaket berwarna Maroon itu di tubuhnya.


"Yuk," ajaknya kemudian.


Melisa bergelayut manja di lengan suaminya, sedangkan eyang, Ameera dan Bella berjalan di belakang.


Kini semuanya sudah masuk dan duduk di dalam mobil, Reza segera menyalakan mesin mobilnya lalu menjalankannya dengan kecepatan sedang karna jalan cukup ramai dengan kendaraan lain.


"Didepan sana berhenti, Den" kata eyang menunjuk sebuah rumah berpagar bambu.


"Ini?" kata Reza sambil menepikan mobilnya.


"Iya, ayo turun" ajak eyang.


Kini semuanya turun mengikuti langkah eyang menuju sebuah rumah yang tertutup rapat pintunya.


"Assalamualaikum," sapa eyang sambil membuka pintu.


"Waalaikum salam" jawab seseorang dari dalam rumah, dan keluarlah sesosok wanita sebaya dengan eyang.


"Mari masuk," ajaknya kemudian setelah reza, Melisa, Ameera dan Bella bersalaman secara bergantian.


"Eyang, aku dan Melisa pulang ya, nanti aku jemput lagi" bisik Reza.


"Baiklah, hati hati dijalan" jawab eyang.


Reza langsung menuntun tangan istrinya kembali ke mobil, membuka pintu dan menyuruhnya masuk


"Kita jalan jalan sayang" kata Reza mengusap kepala Melisa yang sudah terlanjur merajuk.


Ia kembali menjalankan kereta besinya membelah jalanan yang semakin padat merayap.


"Mas, aku mau itu." tunjuk Melisa tiba tiba kearah belakang, ia sampai memutar tubuhnya.


"Apa? kamu mau apa,Ra?" tanya Reza.


"Itu, yang di gerobak tadi"


"Yang mana?, tunggu aku pinggirin mobil dulu" Reza lalu menepikan mobilnya di depan ruko yang kebetulan tutup di samping masjid.


BRAAKKK


Reza terkejut saat istrinya keluar dan membanting pintu mobil.


"Buset, kaget tuh anak gue di dalam perut" sungut Reza sambil menyusul Melisa yang sudah berjalan lebih dulu sambil mengedarkan pandangannya.


"Ada gak?" kata Reza saat ia sudah dekat.


"Gak ada, kemana ya? tadi masih disitu loh"


"Emang apa?" tanya Reza yang penasaran dengan apa yang dilihat istrinya.


"Es Doger, tadi sih aku liat di gerobak sih gitu" ucap Melisa yang sudah kecewa.


"Ya udah ayo cari, mungkin masih di sekitar sini"


Reza langsung memegang tangan istrinya dan berjalan beriringan Sampai tak terasa rasa lelah kini mulai Melisa rasakan.


"Aku capek" keluh bumil tersebut.


"Ya udah kamu tunggu disini, aku ambil mobil dulu ya" kata Reza.


"Enggak!" jawabnya sambil menggelengkan kepala.


"Lalu?" tanya Reza sambil mengernyitkan dahinya.


"Tetep cari, Mas" paksa Melisa.


"Ya kemana?, kalau jalan gini kamu capek, kalau bawa mobil liat tuh macet" unjuk Reza pada deretan kendaraan di hadapannya.


"Pakai motor" jawab Melisa santai


"Mana ada motor, Ra!"


"Beli atuh ih" dengus Melisa kesal.


"Beli dimana? es Doger aja belum ketemu" oceh Reza,panas terik matahari membuatnya kesal.


"Tuh.." Melisa menunjuk sebuah bangunan besar disebrang sana.


"Dealer?" tanyanya Bingung.


Si cantik yang sedang merajuk hanya mengangguk-angguk kan kepalanya beberapa kali sambil mengulum senyumnya, Reza yang tadi sedikit kesal akhirnya luluh dengan wajah imut istrinya.


"Baiklah," ucapnya.


********


Beres dengan transaksi motor baru, kini Reza sudah bersiap membonceng Melisa untuk kembali mencari es Doger yang di inginkan sang istri.


"Cari sampai ketemu ya" pinta Melisa saat sudah duduk manis di belakang suaminya.


"Iya sayang" jawab Reza sambil menarik tangan Melisa agar memeluk perutnya.


Baru saja Reza menjalankan motornya bahunya sudah ditepuk oleh Melisa.


"Mas, itu gerobaknya" Kata Melisa dengan antusias seperti mendapat kejutan sebongkah berlian.


"Mana?" tanya Reza.


"Ituloh" Melisa menunjuk sebuah gerobak biru yang sedang berhenti dekat mereka hanya berjarak kira-kira Sepuluh langkah.


"Ya ampun, ternyata cuma terhalang mobil box doang, sial!!" umpat Reza Kesal.


"Aku beli ya, mana aku minta uang"


Reza langsung merogoh kantong celananya dan membuka dompet, di keluarkan nya selembar uang pecahan berwarna merah pada sang istri.


"Mas Reza, mau?" tanya Melisa.


"Enggak, kamu aja, jangan terlalu banyak esnya ya" pesan Reza, yang hanya di balas anggukan oleh istrinya.


Lima menit Reza menunggu kini Melisa sudah datang dengan satu cup besar es Doger ditangannya.


"Nih, kembaliannya" Melisa menyerahkan uang kembalian ke tangan suaminya.


"Ko banyak banget sih?" tanya Reza bingung sambil merapihkan dan menghitung uang tersebut.


"Iya, kembaliannya sembilan puluh delapan ribu" jawab Melisa.


"Esnya berapaan gitu?"


"Dua ribu!" sahut Melisa sambil terus menyuapkan es ke mulutnya.


"Aku beli motor dua puluh dua juta cuma buat es Doger dua ribu?" kata Reza sambil menggeleng kan kepalanya.


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


jangan di buang ya bang motornya 🤭🤭


Like komen nya yuk ramai kan ❤️❤️❤️