
🌻🌻🌻🌻🌻
Bumi datang setelah Air pergi lima menit lalu, ia sengaja memilih meninggalkan Kahyangan sendiri tanpa menunggu adiknya.
Mobil mewah sang pewaris kedua keluarga Rahardian itu terparkir disisi jalan yang kini nampak sepi.
Bumi keluar dengan memakai kemeja yang di balut jaket sungguh jelas terlihat ketampanannya dari sisi manapun.
" Lama ya?" sapanya pada sang pemilik hati sambil mencium kening Kahyangan.
"Enggak, memang jam segini aku biasanya pulang" jawab Yayang yang sudah melingkar kan tangannya di pinggang pemuda yang selalu menghujaninya dengan kata cinta setiap saat.
"Kakak udah pulang, ninggalin kamu?"
Kahyangan mengangguk sambil tersenyum tipis.
"Pulang yuk" Ajaknya kemudian.
Bumi semakin mengeratkan rangkulannya saat mereka berjalan menuju mobil mewahnya, ia seakan menjaga miliknya agar tak tersentuh siapa pun. pemuda pendiam itu kini menjelma sebagai pria paling posesif melebihi sang papa, Reza.
"Kita beli makan ya, abis itu makan sama-sama dirumah kamu, gimana?" tanya Bumi meminta pendapat.
"Boleh, aku kirim pesan dulu ke ibu ya" ucap gadis berambut hitam sepinggang itu.
"Iya,. Tanyakan pada ibumu apa yang ia inginkan" titah Bumi pada Kahyangan.
Gadis itu tersenyum manis sambil mengusap pipi kiri Bumi yang terasa begitu halus ditangannya.
Aku tak sanggup bila harus melukaimu!!!!
Bathin kahyangan terus bergumam, melihat pemuda tampan yang tak henti-hentinya memberi senyuman.
"Cepet tanya sana, malah liatin aku!" kekeh Bumi, hanya pada gadis itu ia bisa banyak merangkai kata.
Kahyangan langsung mengalihkan pandangannya pada layar benda pipih yang sudah ia pegang sedari tadi, menggerakkan jari lentiknya untuk mengetik beberapa pesan untuk sang Ibu dirumah.
"Apa katanya?" tanya Bumi sambil terus menatap fokus jalan di depannya.
"Belum di balas, mungkin sibuk di dapur" jawab Yayang
"Apa ibumu nanti akan mengira aku Kak Ay? atau justru ia akan membandingkan ku dengannya nanti?" lirih Bumi yang terbersit rasa takut dalam hatinya.
"Mana mungkin! aku sudah bilang jika malam ini kamu akan berkunjung kerumah jadi Ibu pasti mengira kamu Bumi bukan Air" kekeh Kahyangan membesarkan hati pemuda pendiam itu.
"Ya, kenali aku sebagai Bumi, meski kak Air lebih dulu bersamamu"
Gadis itu sedikit tersentak kaget saat mendengar ucapan Bumi yang seakan tak ingin ada Air diantara mereka selama ini, padahal Ia tak pernah menyebut nama kembaran pemuda itu sama sekali.
"Kamu ya kamu, aku takkan pernah salah, Bu" kekeh Kahyangan mengalihkan obrolan agar tak melebar kemana-mana.
TRING.
Bunyi notifikasi terdengar dari ponsel Kahyangan, gadis itu Langsung membuka bagian room chat dan ada nama sang ibu disana.
*ibu
[ Tak perlu bawa apa apa, hati-hati saja dijalan ]
[ Baiklah, tunggu kami dua puluh menit lagi ]
Bumi yanh tau gadis sedang berkirim pesan langsung menanyakan keinginan sang calon ibu mertua.
"Bagaimana?, ibumu mau apa?" tanya Bumi.
"Ibu mau kita hati-hati, dan cepat sampai" sahut yayang sambil menyimpan lagi ponselnya kedalam tas.
Perjalanan yang tinggal separuh lagi pun keduanya isi dengan obrolan ringan, sampai tak terasa mereka sampai di depan pintu rumah berhalaman luas.
"Yuk, masuk" ajak Yayang sambil membuka setbelt.
"Hem, Iya"
Kahyangan yang sudah lebih dulu turun tinggal menunggu Bumi yang masih di dalam mobil mengatur nafasnya agar normal seperti biasanya.
Setelah dirasa semua baik-baik saja pemuda itupun segera keluar menghampiri Kahyangan yang sudah mengulurkan tangan padanya.
"Kenapa?, kamu takut?" goda Yayang sambil terkekeh.
"Ya, aku takut disuruh pulang tanpa membawamu" balas Bumi yang langsung merangkul bahu gadisnya.
"Ini rumahku, tentu aku akan tetap disini jika kamu pulang"
Bumi menarik tubuh Yayang agar mereka saling berhadapan, saat kedua mata mereka bertemu disaat itu pula Bumi semakin memantapkan niatnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Aku akan menyambutmu keluar dari rumah ini untuk tinggal bersamaku kelak, hanya bersamaku!
🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉
Gak bisa ngomong..
Batakonya udah tinggi kak 😭😭😭😭
Like komen nya yuk ramai kan ❤️🙏