
π»π»π»π»
"Dingin ya?" Reza memeluk erat tubuh istrinya di depan danau.
"Banget, tapi sekarang enggak" jawab Melisa, yang malah menumpuk tangannya di atas tangan Reza.
"Suka gak?"
Melisa mengangguk, Ia lagi lagi mendapatkan kejutan luar biasa dari suaminya.
"Kapan bikinnya, buat apa?" Rasa penasarannya membuat ia berani bertanya.
"Udah hampir setahun lalu, tadinya buat surprise pas anak-anak lulus nanti, tapi mumpung kita keluar aku jadi gak sabar pengen liat dan minta pendapat kamu"
"Bagus, asri, indah banget. Anak anak juga pasti suka" sahut Melisa masih takjub dengan apa yang dilihatnya saat ini.
Reza memutar tubuh istrinya agar bisa berhadapan dengannya, me lu mat sekilas bibir ranum itu yang selalu menjadi candu baginya.
"Sampe segininya cuma buat anak-anak lulus"
"Aku mau nanti kita liburan disini, mereka nanti makin besar aku cuma mau manfaatin waktu buat kita sama-sama"
Melisa mencebikkan bibirnya.
"Yakin?, bukannya Seneng banget ya kalo mereka gak ada, bahkan suka culik aku tiba-tiba saking gak maunya di gangguin" kekehnya kemudian.
"Itu Laen lagi, Ra"
Malam semakin larut, setelah puas mencicipi menu pembuka tentu Reza Langsung membawa istrinya untuk menikmati menu utama.
Masuk kedalam bangunan dua lantai yang terbuat dari kayu dengan dikelilingi rindangnya pepohonan.
Ada danau buatan yang tak terlalu besar Langsung di didepan pintu utama.
Reza sengaja membuat itu semua demi anak dan istrinya, memang tak mewah tapi setidaknya bisa memberikan rasa nyaman bagi mereka saat disini.
Melisa tak suka rumah yang besar.
Aku susah kalo cari anak-anak.
Itulah alasan Kenapa sampai detik ini mereka masih setia menempati Apartemen.
Melisa tak bisa jauh dari para buah hatinya yang sebentar-sebentar memanggil namanya.
****
Pergumulan luar biasa Selesai mereka lakukan, Reza mengelap kening istrinya yang banjir dengan keringat karna ulahnya yang tanpa ampun.
"Kita nginep?" tanya Melisa sambil meraih selimut untuk menutupi tubuh polos keduanya.
"Hem, iya.. besok pagi kita pulang aku langsung ke kantor karna ada rapat pagi, kamu ikut ya" pintanya setelah menarik Melisa masuk kedalam pelukannya.
"Iya, udah lama gak ke kantor mas Reza, nanti siangnya jemput anak anak dong"
Reza menggelengkan kepalanya.
"Nanti anak-anak suruh aja ke kantor" sahutnya.
Melisa mengangguk paham, senyum terukir di sudut bibirnya jika mengingat selama perjalanan rumah tangganya
dari awal menikah sampai kini beranak tiga dan kantor Reza salah satu yang menyimpan begitu banyak kenangan manis.
"Pasti besok rame kalo anak anak dateng" gumam Reza, membayangkan saja ia sudah malas sebenarnya.
"Aku mau mereka terbiasa dengan dunia bisnis, terkecuali Cahaya" tambah Reza
Melisa mendongakkan wajahnya.
"Kenapa Cahaya?" tanya Melisa Bingung.
"Dia anak perempuan, aku gak akan nuntut dia buat urus perusahaan, cukup Ay dan Bu aja"
"Tapi Adek tetep dapet bagiannya kaya Ameera"
"Emang gitu ya?" Melisa benar-benar tak mengerti.
"Biarkan suaminya kelak yang urus, maka itu aku mau yang jadi suami adek adalah sosok laki laki yang penuh tanggung jawab dan pintar"
"Yang bisa ambil alih semua bagian adek dan mengurusnya dengan baik"
Melisa masih diam, ia hanya mendengar kan semua keinginan dan harapan yang sedang suaminya utarakan.
Dan dia paham itu, mungkin semua ayah di muka bumi ini akan mengatakan hal yang sama jika menyangkut masa depan putri tercintanya.
"Aku boleh tanya sesuatu?"
"Kamu mau tanya apa?" kata Reza, ia semakin mengeratkan pelukannya.
.
.
.
..
"Apa dari semua yang kamu harapkan itu ada dalam sosok Langit??"
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ***
Yang pasti pasti aja bang..
yang udah tau dari bocahnya.
kalo masalah bibi bebet bobot, ntar Mak othor terawang di baskom yang udah di isi aer ππππ
Like komen nya yuk ramai kan....
Adek Chaca mau Ama Abang kan ya?
Abang Langit apa Abang seblak πππ
de