Suami Dadakan

Suami Dadakan
bab 80


🌻🌻🌻


Hari ini Reza pulang lebih awal, sepulang berburu rujak dan kue keduanya memilih untuk mampir sebentar ke apartemen untuk melepas lelah, karena Reza mengeluh sakit perut dan mengantuk.


sesampai di sana ia langsung merebahkan tubuhnya tanpa mengganti baju, hanya jas yang ia buka sebab kotor.


Melisa memakaikan selimut sebatas perut suaminya, mengusap kepala lalu mencium sekilas kening Reza.


Dua hari ini setiap pagi mual nya tak begitu parah, hanya sekali dan itu pun tak sampai menjadi lemas bahkan biasanya hampir tak sadarkan diri.


"Tidurlah, aku akan buatkan sesuatu untukmu" ucap Melisa pelan, sebelum keluar dari kamar.


Ia melangkah menuju dapur, tempat favoritnya dimana ia akan memanjakan suaminya dengan berbagai masakan yang ia hidangkan, Melisa yakin itu salah satu cara untuk membahagiakan sang suami yang memang lebih suka makan dirumah dengan segala macam jenis masakan lokal.


Beruntungnya Melisa sangat menguasai hal itu bukan hanya pandai memasak, berbagai aneka kue dan cake pun bisa ia buat dengan keahlian kedua tangannya.


"Selesai"


Melisa menatap senang apa yang sudah tersaji di atas meja makan, walau hanya bahan sederhana yang tersisa di kulkas nyatanya ia bisa mengolahnya menjadi hidangan luar biasa.


"Tinggal bangunin mas Reza" gumamnya, sambil berjalan menuju kamar tempat dimana suaminya terlelap.


CEKLEK..


Melisa membuka pintu, langkah pelannya kini semakin mendekat kearah ranjang.


"Mas bangun, udah sore" ia memainkan daun telinga Reza agar cepat terbangun dari alam mimpinya.


Reza hanya bergeliat, matanya masih terpejam namun ada senyum terukir di sudut bibitnya.


"Mimpi apa sih, senyum senyum gitu?" Melisa terkekeh.


"Mas, ayo bangun!"


Reza mengerjap, ia membuka sedikit mata dan mengumpulkan kesadarannya.


Ada sang istri yang duduk didekat nya kini.


"Jam berapa?" tanya Reza.


"Hampir jam enam, mas Reza mandi lalu Kita makan malam"


Reza mengangguk, namun setelahnya ia menunjuk pipi kiri dengan telunjuknya.


"Apa? Mas Reza mau apa?"


"Cium dulu dong, biar mandinya semangat"


"Kerja yang semangat, bukan mandi" kata Melisa mengejek.


"Eh, baru inget, Papa ke kantor ku gak ya?" Reza langsung meraih ponselnya diatas nakas.


Ia menepuk jidatnya sendiri setelah mengecek beberapa email dan juga pesan.


"Papa marah lagi, Mas?"


"Hem, paling aura kesiangan nya besok muncul lagi, besok ikut lagi ya biar aku gak ngadep tembok"


"Gak mau!" sahut Melisa langsung pergi meninggalkan Suaminya, membuat Reza melongo karna di tinggal kan


"Kurang asem! dasar bumil" dengus Reza kesal.


*******


Selesai makan malam dan membersihkan tubuh keduanya memilih untuk pulang, karna ini bukan weekend yang mengharuskan mereka menginap di apartemen.


Selama di jalan Reza terus saja menggoda istrinya dengan tangannya yang terus saja traveling kemanapun yang ia inginkan.


Gelak tawa Melisa menjadi hiburan untuknya. sendiri.


"Mas Reza kalo gak mau diem, aku turun ya" ancam sang istri saat mobil berhenti pas di lampu merah.


"Aku juga ikutan turun lah" jawab Reza sambil tertawa, jika saja memungkinkan ingin rasanya ia cepat ******* habis bibir istrinya.


Namun sayang mobil kembali harus berjalan saat lampu hijau.


"Eh, Ra. aku mau itu" tunjuk Reza sambil menepikan mobilnya, kebiasaan baru selama dua bulan belakangan ini yang selalu Reza lakukan sepanjang perjanjian kemanapun.


"Aku aja yang beli, mas Reza diem sini" kata Melisa mulai membuka pintu.


Reza yang melihat istrinya keluar mobil merasa heran saat belum sampai ke pedagang Melisa harus kembali padanya.


"Uangnya mana?" kekeh Melisa menyodorkan tangan kanannya kearah Reza.


"Ya, ampun kamu kasian banget sih gak punya duit" lalu Reza merogoh kantongnya untuk meraih dompet, diambilnya pecahan uang berwarna biru kemudian di berikan pada sang istri.


Lima menit menunggu kini Melisa datang dengan dua bungkus jajanan yang di inginkan nya.


"Makan sekarang?" tanya Melisa yang mau membuka bungkusan tersebut


"Nanti aja dirumah, aku mules"


Reza terus melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata, sakit perutnya sedari siang karna sepiring rujak belum juga mereda.


"Ayo, Ra cepetan!" ajak Reza saat mobil sudah terparkir di garasi rumah orang tuanya.


"Iya, Mas duluan sana" sahut Melisa baru membuka pintu.


Langkah kakinya terhenti saat mama menyapanya dari arah ruang taman belakang bersama papa, Melisa sudah tau kebiasaan pasangan paruh baya itu yang sering menghabiskan waktu malam mereka di balkon atas kolam ikan.


"Baru pulang? mana anak singa itu?" tanya papa.


Mama langsung menoleh dan mencubit lengan suaminya yang sudah hampir tiga puluh tahun menikahinya itu.


"Anak mama, Pah"


"Ok, papa ralat, anak Macan" jawab papa sambil tertawa.


"Mama cantik" ucap papa kembali saat melihat sorot mata tajam istrinya.


"Reza udah duluan kekamar, Pah" sahut Melisa saat drama mertuanya selesai.


"Oh, ya sudah kalian istirahat sana"


Melisa mengangguk dan kembali meneruskan langkahnya menuju tangga.


__ Di kamar....


"Bukain cepetan" pinta Reza pada istrinya.


"Ih, manja banget, tinggal buka doang juga"


"Sesekali bukain dong" goda Reza yang mencuil dagu Melisa.


"Udah, nih"


"Ya ampun kasar banget bukanya, udah pengen cepet-cepet ya" ujar Reza sambil tertawa membuat Melisa sebal dan mencubit dadanya yang polos tanpa baju.


"Aih, udah kaya gini aja Ra! liat deh, hahaha" Reza menunjuk sesuatu yang sedang ia pegang agar Melisa melihatnya.


Melisa tersenyum kecil, lalu membenarkan posisi duduknya.


"cobain , Ra"


"Ih, gak mau ah! udah cepetan. Aku udah ngantuk banget" tolak Melisa malas, rasa lelah ditubuhnya membuat ia ingin cepat mengarungi alam mimpi.


"Tanggung udah dibuka, cobain dulu bentar" pintanya lagi sedikit merengek.


"Ya udah cepetan sini" kata Melisa dengan nada emosi.


Namun membuat Reza gemas dan ingin terus menggodanya.


"Enak, Ra?" tanya Reza menahan tawa.


"Gak tau, Ah! udah deh cepetan mau sampe kapan aku begini?" dengus Melisa kesal.


"Dikit lagi, nah iya yang itu" kata Reza.


"Udah, begini kan?"


"Sip, udah Ra, makasih ya Sayang, love you baby" ucap Reza mencium pipi istrinya sekilas lalu bangun membawa cilok ditangan nya yang sudah bersih dari bumbu kacang.


"Kan kalau udah bersih begini aku tinggal nambahin kecap, kalau pake bumbu yang ada gak kelar kelar sakit perutnya" kekeh Reza.


πŸ†πŸ†πŸ†πŸ†πŸ†πŸ†πŸ†πŸ†


Gada yang traveling kan otaknya🀭🀭🀭..


Like komennya yuk banyak2


lop yu sekebon sawin untuk kalian ❀️❀️