Suami Dadakan

Suami Dadakan
Bab 214


🌻🌻🌻


CEKLEK..


"Mamaaaaaaa"


Melisa langsung menoleh ke arah suara yang memanggil namanya tadi, senyum langsung terukir jelas di sudut bibirnya kala melihat kedua jagoannya berlari kearahnya, ia pun sudah bersiap merentangkan kedua tangannya untuk menerima pelukan kerinduan dari si sulung dan si tengah.


"Kangen banyak banyak" kata Ay setelah mengurai pelukannya.


"Sama, mama juga kangen banyak sama kakak semua nih" sahutnya sambil menciumi kedua wajah si kembar yang sama persis.


"Sampe tumpah tumpah gak, mah?" tanyanya lagi polos.


"Haha, iya sayang sampai tumpah ruah kangennya" sahut Melisa dengan gelak tawa.


"Ih, mama bohong!" goda Ay dengan terkekeh.


"Kakak mau liat adek" ujar Bumi yang langsung beranjak ke ranjang pasien adiknya.


"Kakak mau peluk peluk mama dulu ya" bisik ay yang kembali memeluk mamanya.


"Iya, sayang"


Bumi yang duduk di tepi ranjang menatap lekat wajah adik perempuannya yang terlelap, masih dengan tubuh lemah mata yang tertutup rapat dan bibir pucat pasih, hatinya mencelos melihat semua ini, ikatan bathin yang terjalin di antara ketiganya membuat ia sering ikut merasakannya walau tak sesakit Cahaya.


"Kakak datang, adek bangun ya" bisiknya setelah mencium pipi kanan Chaca yang terhalang selang oksigen


"Kakak disini, ayo kita pulang" lirihnya lagi.


Papa dan mama mengusap punggung Bumi dengan lembut dan penuh haru, mereka bisa merasakan kegelisahan yang dirasakan cucunya yang lain.


"Kakak gak boleh nangis ya, mah" ujar Ay di atas pangkuan mamanya.


"Iya, jangan nangis ya, kasian adek kalo kakak sedih" jawab Melisa mengelus-elus kepala putra pertamanya itu.


"Noh, basah kan" ujarnya dengan air mata yang sudah menggenang penuh di pelupuk matanya.


Kedua kakak Cahaya memang berbeda saat mengekspresikan perasaannya, Sifat Ay yang selalu terbuka memudahkan ia mengutarakannya secara langsung saat itu juga, berbeda dengan Bu tentunya, bocah pendiam itu lebih sering menatap fokus pada sesuatu yang membuat perasaannya sedih atau senang dan akan perlahan menghindar untuk menangis atau tertawa, Bumi lebih senang memeluk perasaan nya sendiri.


"Adek gak apa apa, kakak gak usah nangis, ok!"


"Ok, mah tapi sedikit aja nangisnya boleh?" Tawar Ay yang tak kuat menahan derai air matanya lagi.


"Boleh sayang, banyak banyak juga gak apa-apa, mau sampe tumpah tumpah juga boleh" goda Melisa yang langsung mendekap tubuh si sulung.


"Reza kemana?" tanya papa yang kini duduk di sofa single depan menantunya setelah menciumi seluruh wajah cucu bungsunya.


"Ada kerjaan sedikit katanya Pah, tapi cuma sebentar, baru satu jam lalu perginya" jawab Melisa, dan papa hanya mengangguk paham.


.


.


"Mah, adek bangun!" seru Bumi yang masih duduk di sisi Cahaya.


"Liat adek dulu yuk, kak"


Melisa menggendong Ay untuk mendekati ranjang brankar Si bungsu, mengusap pipinya yang putih kemerahan.


"Minum ya sayang" ujar mama meraih satu gelas di atas nakas, di bantu Pipet Chaca mulai menyesap air putih sedikit demi sedikit.


"Adeeekk" panggil Ay yang masih dalam gendongan Melisa.


"Kakak..." sahutnya masih lemas.


"Iya, nanti adek pulang" kata mama.


"Papa, mana?" tanyanya pelan hampir tak terdengar.


"Papa ke kantor dulu sebentar lagi kesini, tunggu ya Sayang" ujar Melisa.


Cahaya mengangguk dan kembali memejamkan matanya, tubuh yang lemas membuatnya benar-benar tak berdaya.


****


"Abaaaaaaaang" Serua kedua bocah laki-laki yang langsung bangun dari duduknya di atas karpet dengan mainan masing-masing.


"Loh, mas Reza kok bisa pulang sama Abang?" tanya Melisa bingung karna ini belum waktunya Langit keluar dari sekolahnya.


"Aku izin sayang" jawab Reza sambil mencium kening istrinya.


Langit menyalami semuanya dengan sangat sopan, mencium punggung tangan oppa dan omma dengan takzim secara bergantian.


"Anak pintar" kata mama mencium kening cucu angkatnya itu.


Langit hanya tersenyum simpul lalu bergegas mendekati ketiga adiknya yang sudah meronta-ronta padanya.


"Kakak dulu yang peluk" teriak Ay yang sudah merentang kedua tangannya.


"Sini dua-duanya aja, Abang peluk"


"Aku mau peluk, bang" rengek Cahaya yang iri pada kedua kakaknya yang sedang di rangkul oleh Langit.


"Iya, dek"


"Abang, ke adek dulu ya, kalian lanjut main"


"Jangan lama-lama" pinta Ay yang seakan tak rela melepas Langit.


"Adek sakit lagi?" tanya Langit saat berada di sisi Cahaya


Gadis cantik meski sedikit pucat itupun mengangguk lemah dengan senyum kecil yang menghiasi sudut bibirnya.


"Kuat ya, kita pulang kan besok waktunya Abang di rumah adek, cerita yang kemarin belum sampai habis Abang bacain"


"Iya, Ade mau pulang, Bang"


Langit meraih tangan mungil Cahaya, di genggamnya dengan perasaan haru serta mengusapnya dengan sangat lembut.


.


.


.


.


"Ehem!!!"


,🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉


Langit siap siap di takol babang Reza 🙈..


Like komen nya yuk ramai kan ♥️♥️