Suami Dadakan

Suami Dadakan
bab 177


🌻🌻🌻


"Raaaaa..."


Suara lirih jelas terdengar walau sangat pelan, membuat Ardi menyunggingkan senyumnya karna merasa lega, begitu pun dengan Rafka juga si supir tapi tidak dengan gadis perawat yang masih setia berdiri dekat Reza, wajahnya berubah sendu dan tak ada senyum sedikitpun.


"***Mas Reza dengar aku, kan?"


"Mas... ayo sadar***!"


Ardi mengalihkan panggilan telepon menjadi panggilan video, terlihat Melisa dengan wajah sembab dan mata merahnya yang sedang menangis.


"Reza belum bisa buka matanya, Mel. Kamu terus aja ajakin ngobrol ya" titah Ardi sambil memegangi arah layar ponselnya ke hadapan wajah Reza agar Melisa bisa melihat keadaan suaminya.


"Mas.. ayo buka matamu, lihat aku, lihat anak ***anak mu, Mas.. mereka merindukanmu"


"Apa Mas Reza gak kangen sama nangisnya Ay yang berisik?, Apa Mas Reza gak kangen gangguin Bu yang tidur terus, apa Mas Reza gak kangen sama Cahaya yang katanya suka senyum senyum kalo Mas Reza bisikin***?"


" Mas reza bangun ya lalu cepat pulang, hari ini aku mau kerumah sakit chek up Cahaya, jangan lupa kalau jum'at ini ada acara aqiqah anak-anak, mas reza harus udah ada dirumah harus cepet sadar dan pulang ya"


Melisa terus saja berbicara sambil terisak meluapkan kerinduannya, ia harus menjeda ucapannya untuk menarik nafasnya lebih dulu lalu melanjutkan ceritanya, memancing reza agar benar benar sadar.


" Raaaaaaa"


" Iya, Mas.. aku disni, mas reza denger aku kan?" jawab melisa dengan hati lega karna sang suami mulai merespon ucapannya.


" Raaaaaa, Raaaaaaaa"


" Buka matamu, Mas.. lihat aku, aku di hadapanmu, ayo.. Mas!!!"


Kekuatan cinta memang tak ada yang bisa mengalahkan, hanya dengan ketulusan hati karna sebuah kerinduan mampu menyadarkan Reza dari alam bawah sadarnya.


" Ra, sakit!"


Itulah kalimat pertama yang Reza ucapkan yang langsung membuat Melisa kembali histeris, dadanya terasa sesak saat melihat suami yang selalu ia urus dengan kedua tangannya kini harus menahan sakit sendri tanpanya.. jauh darinya!


"Sabar ya, Mas"


"Bisa saya periksa dulu sebentar?" kata seorang dokter yang sudah sedari tadi berdiri di dekat Ana.


"Baiklah" jawab Ardi, ia mematikan sambungan teleponnya setelah berbicara dengan Melisa bahwa Reza akan di periksa lebih dulu dan menjanjikan istri dari sahabatnya itu untuk meneleponnya nanti.


Seorang dokter wanita setengah baya dengan cekatan langsung memeriksa Reza di bantu oleh perawatnya yaitu Ana, Ana bertugas untuk menulis semua yang di ucapkan sang dokter dari mulai hasil tensi darah, cek mata hingga aseluruhnya kini selesai di periksa.


"Gimana, dok?" tanya Ardi.


"Tekanan darahnya rendah, bahunya karna retak jadi belum bisa di bergerak sama sekali" jawab dokter tersebut.


"Apa bisa pasien saya bawa pulang ke kota?"


Dokter hanya menggelengkan kepalanya.


"Terlalu beresiko, biarkan pasien dirawat untuk beberapa waktu disini"


"Saya permisi" pamit sang dokter, yang hanya di balas anggukan dan senyum sopan dari Ardi.


"Ana, tolong dijaga pasiennya jangan terlalu banyak bergerak, berikan sarapan kemudian obatnya ya" titah si dokter lagi yang ternyata bernama dokter Yanti terlihat dari Nametag di jubah putih khas seorang dokter


"Iya, dok" jawab Ana antusias dengan senyum lebar.


Ardi kembali mendekat, meski belum membuka matanya secara penuh tapi setidaknya Reza sudah bangun dari tidur panjangnya.


"Woy, denger gue gak?" kata Ardi yang sudah duduk di sisi ranjang tempat Reza terbaring lemah.


"Hem"


"Cepet sembuh, kita pulang ya"


Reza hanya menatap sendu kearah Ardi dengan mata berkaca-kaca dan tak lama setetes air bening jatuh dari ujung matanya.


"Anak bini Lo kangen katanya, Lo kangen gak?" goda Ardi sambil terkekeh.


"Disini buat beberapa hari dulu, abis itu lanjut pengobatan di kota ya"


Reza hanya mengangguk sekali, karna sebagian tubuhnya masih terasa sakit.


"Abang makan dulu ya, biar Ana suapin sedikit demi sedikit" kata Ana sambil memegang semangkuk bubur nasi putih yang si beri kuah sayur.


Ardi akhirnya turun dari ranjang membiarkan suster cantik itu mengurus Reza.


"Gue keluar sebentar ya, gue juga laper" pamit Ardi sambil terkekeh karna perutnya pun sudah tak bisa menahan rasa lapar.


Ana dengan sikap lembutnya menyuapi Reza sampai beberapa suap, meski tak habis setidaknya bisa untuk meminum obat setelahnya.


"Sekarang Abang minum obatnya dulu ya"


Lagi lagi Reza hanya diam dan melamun, pandangannya kosong menerawang jauh pada keluarga kecilnya.


"Bang!" ucap Ana lagi.


"Minum obat dulu, nanti istirahat lagi"


Reza hanya mengangguk, ia menerima dengan pasrah apapun yang di lakukan Ana padanya.


Sentuhan mu seperti KHUMAIRAH ku...


🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉


Macem macem, gue potong belalai lu bang, awas aja sih...


Cie.. Marathon ya bacanya..


NT lagi eror gaes..


jangan lupa like komennya ya sayang ❤️❤️❤️