
π»π»π»
Bumi langsung mendengus sambil mendongakkan wajah kakaknya ke atas.
"Aku ganteng ya?, hehehe" seru Ay yang melihat ke atas lift, ia melihat wajahnya sendiri di atap lift yang memang terbuat dari kaca.
"Sama aja sama aku" jawab Bumi ketus.
"Gantengan aku, kan aku kakak jadi gantengnya banyak-banyak" kekeh Air sambil menutup mulutnya sendiri.
TRIIIIIIIIING.
"Ayo cepet!" Bumi langsung menarik tangan Kakaknya agar cepat menyusul mama dan Bi Siti yang sudah jalan lebih dulu.
Semua kini sudah masuk kedalam mobil, tak ada yang berani bicara termasuk Air, bocah pecicilan itu sekarang sedang bersembunyi di balik punggung Adiknya agar tak melihat tangis sang mama yang masih panik dan khawatir.
Sampai di rumah sakit, hanya Melisa dan Bi Siti yang turun, sedangkan Air dan Bumi akan langsung dibawa kerumah mertuanya
"Kakak langsung kerumah Oma ya, jangan nakal nanti papa yang jemput ya sayang" pesan Melisa sebelum membuka pintu mobil.
"Iya, mah" sahut Bu
"Kakak, Ay.." panggil Melisa, saat si sulung masih berada di balik punggung Adiknya.
"Iya, mah.. kakak gak nakal"
"Mama sayang kalian, doain adek ya"
Sepanik apapun Melisa, ia takan melupakan kedua anaknya yang lain, begitu berat perannya yang harus membagi perhatian untuk ketiga anaknya saat ia sendiri pun dalam keadaan rapuh.
Kedua bocah laki-laki itu hanya bisa menatap sedih punggung sang mama dari dalam mobil perlahan jaug dan hilang, Bumi menyandarkan tubuhnya sambil terpejam.
"Adek..." lirihnya.
Begitu pun dengan Air, ia meringkuk dengan memeluk lututnya, bayangan si bungsu yang tak sadarkan diri terus saja berputar di otaknya, meski ini bukan yang pertama entah tak bisa di hitung berapa kali mereka mengalami hal yang serupa, harus selalu terlihat kuat demi sang mama.
"Kakak pengen kaya kamu!" gumam Ay yang langsung membuat Bu menoleh.
"Kenapa?" tanya Bumi
"Kakak tau, kamu sedih ya liat mama sama adek, tapi kamu gak nangis" kata Ay serius
"Aku nangis, kak" sahut Bu
"Kok kakak gak denger sih?" Ay yang penasaran kini sudah meringsek mendekati adiknya.
"Jelas lah gak denger, kan aku nangisnya gak kenceng kaya Kakak"
"Kencengin dong, kita balapan, ckck" kekeh Ay yang langsung mendapat tatapan tajam dari sang adik.
"Jangan gitu, serem dek, kakak takut!" Ay langsung meraba wajah adiknya dengan telapak tangannya.
****
Sampai dirumah mewah nenek dan kakeknya kedua bocah itu langsung berhambur memeluk Oppa nya yang sudah menunggu di depan pintu utama
"Omma mana?" tanya Ay saat melepas pelukannya.
Ya.. Air selalu menjadi kesayangan karna ia lebih bisa di ajak bicara dan bercanda meski sikap dan sifatnya selalu membuat pusing orang orang seisi rumah, Mungkin berbeda dengan Bumi yang sampai detik ini menjadi kebanggaan semua orang karna ketenangan nya yang bisa di andalkan terlebih perilaku cepat tanggap dan daya pikirnya yang di atas rata-rata anak seusianya.
"Tadi kakak bangunin adek diem aja loh" seru Ay mulai bercerita di atas pangkuan kakeknya.
"Kasian Adek" lirihnya yang mulai berkaca-kaca.
"Doain adek ya, biar bisa bangun terus main lagi sama kakak" ujar papa memberi pengertian, meskipun hatinya juga terluka namun pria paruh baya itu harus bisa kuat di hadapan cucu yang lainnya.
"Aunty belum pulang skolah?" tanya Bumi.
"Belum, pulangnya nanti sore"
"Kalian mau makan?, atau mau sesuatu?" tawar papa pada Air dan Bumi karna jam menunjukkan hampir pukul sebelas siang.
"Enggak, kakak mau liat ikan" Air langsung turun dari pangkuan oppa nya langsung berlari ke halaman belakang.
"Kakak mau makan?" Kini pertanyaan papa alihkan pada si tengah.
"Enggak, kakak ngantuk, mau kamar" serunya yang juga langsung turun dari pangkuan kakeknya.
"Oppa bikinin susu, mau?"
Bumi hanya menggeleng, langsung mundur beberapa langkah setelahnya berlari kearah tangga menuju kamar ya di lantai dua.
Oppa tau...
kalian sama-sama sedih, namun mengungkapkan nya dengan cara yang berbeda..
****
Bumi yang sudah masuk kedalam kamarnya langsung meraih bantal guling bergambar mobil kartun kesukaannya, menyembunyikan wajahnya di balik bantal tersebut.
Hanya terdengar Isak tangis lirih yang menyayat hati jika ada yang mendengarnya.
"*Adek kapan sembuh?, kakak sedih, kakak takut, Kakak gak mau lihat adek sakit terus"
"Bangun ya, kasihan mama sama papa"
"Sini bagi sakitnya ke kakak*"
Bumi terus saja bergumam di sela Isak tangisnya.
Si tengah yang yang tak mau terlihat rapuh oleh siapapun.
ππππππππ
Peluk Bu, boleh? π₯Ίπ₯Ίπ₯Ίπ₯Ί
Sabar ya kakak ganteng πππ
Like komen nya yuk ramai kan β€οΈ