Suami Dadakan

Suami Dadakan
extra part 37


🌻🌻🌻🌻


Seperti yang sudah di janjikan Reza, liburan akhir tahun pelajaran anak-anaknya ia akan memboyong keluarganya ke tempat yang ia buat setahun lalu, Rumah kayu dengan danau buatan di depan halamannya.


Si kembar sudah bersorak gembira Karna mereka belum tau sebelumnya. Meski Cahaya lebih dulu meminta ke luar negeri untuk tahun ini.


"Jauh banget gak sih, Pah?" tanya si bungsu saat menuruni tangga sambil di rangkul oleh papanya.


"Enggak, sayang."


Air, Bumi dan Langit sudah menunggu di ruang tengah, Reza memilih perjalanan malam hari agar esok pagi bisa puas bermain.


"Mama mana?" tanya Reza saat tak melihat belahan hatinya


"Bukannya tadi balik lagi ke kamar!" sahut Bumi.


Cahaya yang sudah ikut bergabung dengan yang lainnya memilih aman dengan duduk disisi kakak sulungnya.


"Papa panggil mama dulu sebentar"


Selepas kepergian papanya ke lantai dua, Langit langsung menarik tangan Gadis kesayangannya itu agar pindah ke sisinya, Air yang melihat itu tentu langsung mencebikkan bibirnya.


"Tadi gak berani tuh!" Ejeknya pada Langit, pemuda itu hanya tersenyum kecil.


.


.


CEKLEK


Reza membuka pintu kamarnya dengan pelan, matanya langsung menangkap punggung seorang wanita yang duduk lesu dengan bahu berguncang


"Ra..."


Melisa tetap bergeming, ia tak menyahut bahkan menoleh.


"Sayang, kenapa?" tanya Reza saat duduk di tepi ranjang, tangannya mencoba menyentuh wajah sang istri agar mau melihatnya.


"Ra, ada apa?" Reza mengulang pertanyaannya.


"Apa ini hari-hari terakhir ku sama Abang?" Ucapnya lirih sambil terisak.


"Mas Reza beneran mau misahin aku sama anakku, setelah dia udah kasih Semuanya buat kita?"


"Apa kamu Setega itu, Mas?, gak kasihan sama aku?"


Tangis semakin pecah saat Reza membawanya masuk dalam dekapannya.


Tangan mungil itu memukul dada Reza untuk melupakan rasa kesal dan kecewanya.


"Kamu jahat! Kamu bakal aku hidup dalam rasa rindu pada anakku sendri" lirihnya lagi, begitu sesak dadanya kini belum berpisah saja hatinya sudah sangat hancur.


"Maaf, Ra. Cuma ini yang bisa aku lakuin"


Pria itu memang sudah membuat keputusan luar biasa yang pasti membuat semuanya akan kecewa padanya.


Alasan yang tak bisa di terima oleh keluarganya sendiri.


"Aku gak akan sanggup, Mas. anak-anak juga pasti gak mau" rengek Melisa masih dalam pelukan suaminya berharap Reza mau mengubah apa yang sudah ia rencanakan.


Reza mengusap punggung istrinya, menciumi pucuk kepalanya berkali-kali sebagai tanda permintaan maafnya akan keegoisannya kali ini.


"Justru karna rasa sayangku sama Abang aku lakuin ini, Ra"


"Aku mohon pengertianmu" pinta Reza seraya memohon KHUMAIRAHnya kuat selama berpisah nanti.


Melisa akhirnya mengangguk pasrah, menentang pun tak ada gunanya.


Ia juga yakin bahwa suaminya sedang melakukan yang terbaik walau menyakitkan.


"Kita jalan sekarang ya, Anak-anak udah nunggu di bawah"


Reza menghapus air mata yang membanjiri wajah cantik istrinya, Memaksa bibir ranum itu untuk kembali tersenyum seperti biasanya.


"Ini adalah momen liburan mereka setelah setahun ini bersikeras menjadi yang terbaik, bersaing dengan ribuan siswa di sekolahnya demi membuat kita bangga, aku mohon jangan bersedih lagi ya" Reza mencium sekilas bibir Melisa.


"Iya, Mas, maaf aku hanya belum siap" jawabnya lirih sambil menghapus air matanya.


"Yuk, turun. Kamu tau kan selama apa perjalan kita"


.


.


Keduanya turun ke lantai bawah setelah Melisa benar-benar sudah bisa menguasai dirinya sendiri dari rasa sedih, Ia bergelayut manja di lengan Ayah dari ketiga buah hatinya.


"Mama lama nih" Protes Air saat kedua orangtuanya sudah sampai di ujung tangga.


"Maaf, mama masih terlalu senang atas prestasi kalian" ucap Melisa mengusap pipi si sulung.


"Kok seneng nangis terus!" keluhnya saat mata wanita yang ia agungkan itu begitu sembab.


"Nangis Seneng karna kalian begitu luar biasa" .


.


.


.


.


.


Taun depan kakak gak mau juara lagi deh, biar mama gak nangis!!!"


💦💦💦💦💦💦💦💦💦💦💦💦


Lah, bisa gitu kak? 🤭🤭🤭🤭🤭🤭


Like komen nya yuk ramai kan ❤️