Suami Dadakan

Suami Dadakan
extara part 57


🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Pagi sekali semuanya sudah bangun dan berkumpul di ruang tengah, ada Langit yang sedari tadi duduk di sofa bersebelahan dengan Cahaya saling menggenggam tangan.


"Ngomong yank, jangan diem aja" pinta Langit karna dua hari ini gadis kesayangannya tak mau bicara dengannya.


"Yank, jangan lepas kepergian Abang kaya gini"


"Kamu doain Abang ya, biar kuliah Abang disana lancar biar Abang gak terlalu disana karna target Abang cuma dua atau tiga tahun"


"Yank...."


Langit mendesah kesal, Cahaya benar-benar tak menanggapinya, hanya ada tetes air mata yang turun membasahi wajah pucat nya saat ini.


"Kamu kalo masih diem aja, jangan harap Abang mau pulang lagi" batas sabar pemuda tampan itu sedang di uji.


Cahaya menoleh, ia melihat kilat kemarahan dan kecewa di kedua manik mata Langit.


*******


"Huaaaaaaaaa.... gak mau....kakak gak mau"


Air masih saja menangis di tengah kasur orang tuanya saat Melisa membangunkan si sulung untuk berpamitan.


"Berisik kak" ucap Reza sambil memakai baju karna pria tiga anak itu baru saja membersihkan tubuhnya.


"Papa jahat banget" teriaknya lagi.


"Kamu bukan kebawah ketemu sama Abang ngapain kesini sih" tanya Melisa saat Air tiba-tiba datang sambil menangis.


"Nanti kalo Bu nakal yang belain kakak siapa?" Ucapnya di sela Isak tangis.


"Memang kalian ini mau berantem aja?" cetus Reza yang merasa pusing dengan tangis si sulung.


"Kakak ikut Abang deh, boleh ya papa" Rayunya sambil menarik ujung baju Reza


"Gak usah macem macem!"


"Huaaaaaaaaaa, papa ganteng ganteng kok jahat sih gak seru banget malah nyuruh Abang pergi"'


Air yang belum terima dengan keputusan Reza masih mencoba memohon, agar papanya merubah keputusannya namun sepertinya derai air mata dan rengekannya tak mempan untuk masalah ini karna Reza tetap pada pendiriannya untuk membawa Langit pergi jauh dari mereka.


Ya othor... engkau maha membulak balikan hati, maka balikan hati papa ya.....


Reza dan Melisa saling Pandang lalu terkekeh sambil keluar kamar saat semua sudah siap.


"Papaaaaaaaaaaaaaa"


"Jahatnya pake banget, kakak udah cape nangis tau dari tadi" keluhnya sambil ikut menyusul di belakang orangtuanya.


"Gak ada yang nyuruh kamu nangis, kak"


Ketiganya kini sudah berada di ujung tangga, Reza berdehem kecil saat Cahaya menangis dalam pelukan Langit.


"Biarin, mas"


"Papa gak marah?" goda Air yang berdiri di belakang Reza.


"Panggil Bumi sana" titahnya pada si sulung.


"Dek," panggil Reza dengan pelan, siapapun yang mendengar tangis Cahaya pasti bisa ikut merasakan betapa terlukanya ia saat ini.


"Sini sayang" Reza merentangkan kedua tangannya agar si bungsu pindah memeluk nya.


"Papa, apa papa yakin lakuin ini semua ke abang, papa gak kasihan sama aku?" lirihnya sambil terisak dalam dekapan Reza.


"Ini demi kita semua, Biar Abang lebih mandiri dan dewasa, dek"


"Tapi aku gak sanggup!"


Melisa hanya bisa mengusap punggung si bungsu untuk menguatkannya meski iapun terluka.


"Nanti Abang kalo libur kan bisa kesini, atau kita yang kesana" Rayu Reza pada anak perempuan satu-satunya itu.


.


.


"Aw... sakit!" Pekik Air pada Bumi.


"Maaf gak sengaja" sahut si tengah dengan santai.


"Tuh kan! Abaaaaaaaang... Bumi tuh injek kaki kakak" adunya pada Langit.


"Gak apa-apa, cuma injek sedikit" kata Langit yang kini sudah merangkul bahu adik pertamanya.


"Kalian jangan bertengkar terus ya. Harus saling jaga" pesan Langit sebelum ia pergi.


"Nanti Abang kalau libur pulang ya" pinta Bumi.


"Iya" jawabnya sambil mengangguk.


"Tunggu Abang pulang, berjanji lah untuk selalu menjaga hatimu untuk Abang, karna Abang pun akan melakukan hal yang sama untukmu" ucap Langit pada Cahaya, gadis itu hanya tersenyum kecil sambil mengangguk kan kepalanya.


.


.


.


.


.


.


Gombal terooooooooosss!!!!!


🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉


Dih...


Gue slepet Lo bang.. kaya sendiri nya bukan tukang gombal aja 🙄🙄🙄🙄🙄


Like komen nya yuk ramai kan ♥️