
🌻🌻🌻🌻🌻
CEKLEK
Bumi menghentikan langkahnya di ambang pintu saat melihat kakaknya sudah berbaring di tengah ranjangnya sambil memelintir ujung guling pisang sebagai ritual wajib Air sebelum menembus alam mimpi.
"Kakak ngapain?" tanya Bu, pemuda tampan itu kini sudah kembali melangkahkan kakinya mendekat kearah tempat tidur.
Cat kamar yanh berwarna biru muda itu memang membuat siapapun yang masuk akan merasa tenang dan ingin berlama-lama di dalamnya.
"Kok tidur disini?" tanya Bumi lagi yang sudah duduk di sisi ranjang.
"Ngantuk, Dek." dengan mata sudah terpejam.
"Aku juga tau, tapi kenapa gak di kamar kakak" ujarnya sambil membuka jaket.
" Ada Hujan" balasnya dengan bergumam.
"Hujan?, udah reda kok" Balasnya.
Air tak lagi menyahut, ia benar-benar terlelap meski tangannya tetap sibuk memelintir ujung bantal.
.
.
Bumi yang selesai membersihkan diri pun kembali ke lantai bawah karna ada Langit yang baru pulang juga bersama adik bungsunya.
"Nginep, Bang?" tanya Bumi saat menuruni tangga.
"Gak tau nih, calon istri gak mau lepas" kekeh Langit sambil mencium pucuk kepala Gadis kecilnya yang masih bermanja dalam pelukannya.
"Aku mau tidur disini, Bang" balas Cahaya.
"Bersih-bersih sana, besok pagi bukannya mau pergi sama mama juga Yayang." ucap Bumi yang kini sudah duduk bersama Langit dan Cahaya.
"Ngapain?" tanya Si bungsu sambil menarik tubuhnya dari pelukan Langit, ia menatap kearah kakak keduanya itu dengan tatapan bingung.
"Fitting baju lagi buat nikahan kakak" jawabnya santai.
"Kak Yayang baik gak sih?" tanya Cahaya, ia masih belum mengenal sosok kekasih kembarannya itu.
"Baik, kalo gak baik gak mungkin kakak secinta ini" cibir Bumi pada adiknya.
"Cih, bucin!" ledek Cahaya.
Langit yang selalu menjadi penengah jika adik-adiknya mulai saling bertengkar langsung berbisik di telinga kanan Cahaya.
Gadis itu tentu mengernyitkan dahinya saat mendengar apa yang dikatakan Langit tapi ia tersenyum paham saat pria itu mengangguk kepadanya.
"Aku mau tidur" ucapnya sambil mencium kedua pipi Langit dan Bumi secara bergantian.
.
.
"Besok mereka pergi?" tanya Langit memulai obrolan.
Bumi hanya mengangguk sambil membuka tutup toples biskuit coklat kesukaannya.
"Kamu serius sama Kahyangan?" pancinya Langit, ia ingin adiknya itu menceritakan masalahnya.
"Maunya gitu, Bang. Doain aja" Jawabnya sambil tersenyum getir.
"Abang selalu doain kalian, kebahagiaan kalian kebahagiaannya Abang juga, apalagi masalah jodoh, Abang harap kamu maupun Air tak salah memilih" ujar Langit.
"Takdir yang mempertemukan aku dengannya lagi, tugasku hanya menjalaninya meski aku tahu itu sulit dan butuh banyak pengorbanan" Bumi menghela nafasnya, ia menyandarkan tubuhnya di punggung sofa.
"Apa yang sulit?, bukankah dia juga menyukaimu?" Langit masih terus mengorek isi hati Bumi.
"Entahlah, Bang. Terkadang saking aku terlalu fokus padanya aku sampai lupa segala hal, termasuk--_"
Langit menegakkan duduknya, ia telah siap mendengarkan pengakuan dari Bumi, tapi sayang pemuda itu tak meneruskan kata-katanya ia hanya tersenyum kecil lalu membuang pandangannya.
Langit tahu, jika sudah begitu pasti Bumi sedang merasakan sakit yang luar biasa dalam hatinya.
"Menyerahlah jika tak sanggup!"
Kedua pria itu menoleh saat suara yang begitu jelas mereka hafal ikut menimpali obrolan mereka.
.
.
.
.
.
.
"Bukankah berjalan beriringan Sampai akhir itu jauh lebih baik dari pada ujung-ujungnya harus berpisah juga di persimpangan jalan karna tujuan kalian jelas tak sama?"
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Hadeuh..
Sapa tuh?" 🤭🤭🤭🤭🤭
Like komen nya yuk ramai kan 🙏🙏🙏