Suami Dadakan

Suami Dadakan
extra bab 58


🌻🌻🌻🌻


"Kamu mau ikut siapa?" tanya Air saat merangkul bahu adik perempuannya.


"Ikut kak Bu, lah. Takut aku ikut kakak" Jawab Si bungsu sambil menggerdikkan bahunya.


"Tapi kan cepet nyampe, dek"


"Gak mau, aku gak mau liat Abang sedih lagi kalo liat aku luka"


Obrolan santai kakak beradik yang baru saja keluar dari kelasnya masing-masing setelah lebih dari setengah hari berkutat dengan berbagai macam pelajaran di ujung masa sekolahnya.


Ya... kembar tiga pasangan Reza dan Melisa itu kini sudah berumur delapan belas tahun, sudah berada di kelas dua belas awal tahun ini dan hanya menyisakan beberapa bulan lagi untuk mereka keluar dari sekolah yang selama ini menjadi tempat mereka menuntut ilmu, menjadi kan ketiganya siswa siswi terbaik.


"Dek..." panggil Bumi yang berdiri dengan gagahnya di samping mobil.


Tentu Cahaya langsung berlari mendekat meninggalkan kakak sulungnya yang berbeda tempat parkir.


"Yuk pulang, adek laper" ajal Chaca.


Baru mereka hendak masuk mobil, Air datang dan menghentikan motor besarnya.


"Kakak duluan ya" pamitnya sambil menutup kaca helm.


"Jangan ngebut, itu motornya masih baru" teriak Cahaya sambil tertawa.


Baru disini bukan berarti baru di belikan, justru motor besar yang di pakai Air adalah motor keempat yang dibelikan Reza untuknya setelah tiga kali mengalami Kecelakaan yanh berakhir motor motor tersebut ringsek dan rusak parah.


Air dan Bumi diberi kepercayaan setahun lalu untuk pergi ke sekolah sendri tentu dengan kendaraan masing masing


Bumi memilih mobil karna ia juga memikirkan Adik semata wayangnya.



Berbeda dengan Air yang sedari kecil sangat senang dengan dunia balap, tentu motor sport yang menjadi pilihannya walau harus memainkan drama panjang untuk meyakinkan hati mama tercintanya.



"Huft, nyampe juga" Air melepas helmnya setelah mematikan mesin motornya di lobby apartemen yang masih sama.


Ia melenggang santai menuju lift khusus yang akan langsung menuju lantai dimana ia tinggal.


.


.


.


"Maaaaaah, mamah kakak" panggil si sulung seperti biasanya, satu hal yang selalu ia lakukan saat membuka pintu adalah mencari wanita yang sudah melahirkannya itu ke dunia, mengurusnya dengan penuh kasih sayang yang tak terkira.


"Ibu gak ada, Den" sahut ART yang tiba-tiba datang dari dapur.


"Kemana, mbak?" tanya Ay.


"Kurang tahu, tadi sama bapak juga perginya"


Air hanya mengangguk, kemudian melangkah menuju kamarnya sendiri yang sudah terpisah dari adiknya setahun lalu.


.


.


"Masuk!" sahutnya malas, ia tahu itu pasti Bumi yang datang.


"Kak, mam kemana?" tanya si tengah yang hanya menyembulkan kepalanya saja.


"Gak tau, Kakak belum liat ponsel" jawabnya yang juga bingung.


"Ke aku gak bilang apa apa, kirain bilang ke kakak" ujar Bumi, mereka Selalu merasa aneh jika pulang tak di sambut Melisa.


Si bungsu yang baru keluar dari kamarnya pun berjalan lemas menuju kakak-kakaknya.


"iiiiih, pada kemana sih!" sungutnya kesal karna kedua orangtuanya tak juga mengangkat telepon.


"Masa sih, dek" ujar Bumi yang semakin bingung.


"Iya, aku udah sembilan kali telepon tapi gak di angkat"


"Telepon coba sekali lagi biar genap jadi sepuluh kali, kalo masih gak diangkat juga berarti....." Air memotong kata-kata lalu menarik nafas dalam-dalam.


.


.


.


.


.


.


.


.


Siap-siap kita punya adek lagi.. huaaaaaaaaaa!!!!


🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉


Yeeeeee Cebong makin gede 😂😂😂


Berasa tua banget gue ya ampun 😭😭😭


makasih banyak ya buat kalian semua yang kemarin udah vote soal lanjutan si kembar ABC ..


tunggu kisahnya nanti ya ❤️❤️


like komen nya yuk ramai kan.