Suami Dadakan

Suami Dadakan
bab 172


🌻🌻🌻


Reza...


BRAAAAKKKK


Hanya terdengar sayup-sayup jeritan dari beberapa orang yang entah siapa dan dimana yang jelas Reza hanya merasakan tubuhnya sakit terutama di bagian kepala, bahu, perut hingga kaki kirinya.


Rasa sakit yang luar biasa membuat ia akhirnya memejamkan matanya sejenak karna senyum manis KHUMAIRAHnya langsung terlintas begitu saja.


"Raaa.... sayang!!!"


"Jangan maen hakim sendiri dong, ini pasti gak di sengaja" ujar salah satu pria berbadan tegap dengan memakai kaos berwarna biru.


"Sudah..sudah.. mending bawa korbannya saja ke klinik, ayo cepat" Sambung kakek berkaca mata tebal.


"Ayo..ayo..awas hati-hati"


"Buka pintunya dulu"


"Sebelah sini, awas jatuh, pelan pelan angkat tubuhnya"


"Tutupi luka darah di kepalanya, ada yang punya kain tidak?"


Begitu riuh orang orang yang menolong Reza saat tubuhnya tertabrak sebuah mobil box tua yang ternyata sang supir mengantuk,


Sang supir yang hendak kabur berhasil di hadang oleh warga yang kebetulan ada ditempat kejadian, si supir di minta bertanggung jawab dengan Mambawa Reza ke klinik terdekat di temani oleh pria tegap berkaos biru tadi.


"Wah, ini sih lumayan parah, saya gak yakin kalo di bawa ke klinik" ujar si pria yang memangku kepala Reza diatas pahanya.


"Terus gimana? rumah sakit jauh banget" jawab si supir yang panik dan takut.


"Ya udah yang penting pertolongan pertama dulu, nanti gimana kata dokter aja deh kalo udah sampe klinik, buruan!"


"Iya, iya"


Mobil menepi disebuah klinik yang tak begitu besar, hanya berbentuk rumah biasa dengan area parkir yang hanya cukup dua mobil dan beberapa motor saja, suasana yang sepi memudahkan Reza mendapatkan pertolongan pertama dari seorang dokter desa dan tiga orang perawat wanita.


"Abang bawa siapa?" tanya seorang perawat cantik berperawakan langsing dengan warna kulit kuning Langsat.


"Tabrakan, dek" jawab si pria yang ikut menolong Reza.


"Orang mana?" tanyanya lagi.


"Gak tau, baru liat Abang juga" sahutnya sambil mengangkat bahu.


"Ya udah, aku kedalam dulu ya"


Pria berkaos biru dan supir yang menabrak Reza hanya duduk diam di Kursi tunggu tak ada yang saling bicara, keduanya tenggelam dalam fikirannya masing-masing.


"Kita liat keadaan korbannya dulu ya"


"Saya tanggung jawab bang, asal jangan lapor polisi" si supir mulai panik, rasa khawatirnya sedari kejadian tadi membuat tangannya bergetar hebat.


"Keluarga korban" seru perawat didepan pintu dimana Reza sedang di periksa.


Kedua pria yang duduk bersebelahan itu hanya saling pandang, belum ada yang menjawab ataupun bangun dari duduknya.


"Yang mana keluarga korban?" tanya suster lagi dengan sedikit kesal.


" Itu korban kecelakaan, kami hanya menolong dan membawanya kemari" jawab si pria yang langsung menghampiri suster.


"Kamu kan kakaknya, Ana ya?" tunjuk si suster pada si pria berkaos biru.


"Iya, saya Rafka kakaknya Ana" jawabnya.


"Jadi gimana ini, korbannya belum siuman"


"Apa harus di bawa kerumah sakit?" tanya si supir.


"Kita tunggu hasil Rontgen bagian kepala dan dadanya dulu ya" jawab si suster.


Rafka dan si supir tadi kembali duduk, kemudian tak lama datanglah Ana, suster sekaligus dari Rafka.


"Bang, gimana itu korbannya?" tanya Ana setelah ikut duduk di sebelah Rafka.


Rafka melirik kearah si supir yang hanya meringis seperti orang kebingungan.


"Kamu maunya gimana?" tanya Rafka.


"Saya akan tanggung biayanya" jawab si super sambil mengangguk mantap.


"Bagus, awas kalau kabur" ancam Rafka.


"Siap, bang. asal jangan cebloskan saya ke penjara ya" mohon nya sungguh-sungguh.


"Enggak, asal kamu bayar tuh semua administrasinya sekarang" titah Rafka sanbil menunjuk meja administrasi.


"Iya, bang!"


"An, korban kritis!!" teriak suster yang baru saja keluar dari sebuah kamar rawat.


🔥🔥🔥🔥🔥


Sama bang, dompet othor juga kritis 🤧🤧🤧


like komennya yuk Ramaikan ❤️❤️❤️