Suami Dadakan

Suami Dadakan
extara bab 74


🌻🌻🌻🌻


Rahasia


Dengan langkah santai ia meninggal kan Hujan begitu saja, padahal jelas-jelas gadis itu terlihat begitu panik tadi karna ulahnya.


.


.


.


"Mbak, nenek yang kemarin bisu ya?" tanya Air pada salah satu perawat bernama Aish.


"Gak tau, kak..dari kemarin nangis tapi gak ngomong apa-apa, coba kamu tanya dia" mbak Aish menunjuk ke arah Hujan yang ternyata mengekor di belakang Air.


"Huft, kakak tau dari dia, mbak" sahut Air.


Mbak Aish terkekeh melihat raut wajah kesal Air, pemuda tampan yang setahun ini menjadi donatur di panti jompo yang kebanyakan di diami para lansia jalanan, Sudah empat wanita tua dan satu kakek tua yang di bawa Air kesini, dan hampir semuanya ia yang membiayai termasuk sembilan lansia yang lainnnya.


"Ganteng, gajian dong" goda Nisa sambil mencolek pipi Air.


"Gajian apa?, emang ini tanggal berapa?" tanya Air bingung.


"Sudah mendekati akhir bulan, kak" sahut mbak Aish.


Hujan yang duduk di kursi besi hanya diam memperhatikan ketiga orang di dekatnya itu bergurau.


Air terlihat lucu , ramah dan sopan pada dua wanita yang memang terlihat lebih dewasa, berbeda sikapnya jika sedang dengan Hujan, pemuda itu bagai singa galak yang ingin menerkamnya.


" Apa namanya kakak?, kenapa semua orang panggil dia begitu?" gumam Hujan, ia terus mencuri dengar perbincangan Air, mbak Aish dan Nisa.


.


.


Nisa terus menggoda Air sampai Ia harus bersembunyi di balik punggung Mbak Aish.


"Gak usah pura-pura Amnesia ya, kak" kata Nisa yang masih menagih gaji dari Air.


"Nanti dong, kan papa belom transfer ke rekening kakak, ih" jawabnya jujur.


"Haha, mbak jadi pengen liat orang tua kamu kak, gemesin banget" ucap mbak Aish menarik hidung Air.


Hujan menarik ujung bibirnya sampai membuat garis senyum yang begitu manis dari wajah cantiknya, dan tanpa sengaja kedua mata mereka pun bertemu.


"Apa Lo liat liat!" cetus Air pada Hujan.


Hujan langsung membulatkan matanya kesal, bangun dari duduk kemudian menghentakkan kakinya sebelum pergi.


"Dasar cewe aneh!" cibir Air.


Air kembali mengobrol dengan dua wanita di dekatnya tak lagi Perduli dengan Hujan yang semakin menjauh darinya, tapi entah kenapa ia ingin sekali melihat punggung mungil itu meski hanya lewat lirikan matanya.


"Hayo, nanti nsksir loh, kak!" ejek Nisa lagi.


Bagi wanita berumur dua puluh tahun itu, Air adalah hiburan baginya setelah pusing dan lelah mengurus para lansia yang ada di sini, Gombalan Air, paras tampannya, dan juga sikap royalnya membuat para perawat dan pelayan begitu menyayangi pemuda itu.


"Kakak , naksir dia? omegot!" kekeh Ay merasa lucu.


"Nanti kakak bingung, dia urutan keberapa, haha"


Lengannya otomatis menjadi sasaran empuk kedua wanita yang semakin gemas padanya karna memang tahu jika Air memiliki banyak pacar diluar sana.


Ia pernah beberapa kali membawa para gadis ke panti jompo walau akhirnya berakhir dengan keributan kecil yang ujung-ujungnya ia selalu di tinggalkan.


"Nyari yang tulus susah ya, mbak" ucapnya sambil mengusap lengannya yang terasa panas.


"Aku tulus, kak" seru Nisa sembari menunjuk dadanya sendiri.


"Gak mau, Mbak Nisa berisik!"


"Tapi-_" Belum juga Nisa melanjutkan perkataannya, ketiga orang itu di kaget kan dengan suara deheman seorang wanita dibelakang mereka.


"Ehem, maaf!" ucap wanita tersebut yang berpakaian khas kedokteran.


"Eh, iya Bu dokter" jawab Mbak Aish dan Nisa berbarengan, tapi Air hanya tersenyum kecil.


"Liat Hujan?" tanyanya dengan raut bingung.


Mbak Aish dan Nisa saling pandang kemudian menggeleng bersamaan


"Tadi keluar, Bu" sahut Air dengan sopan.


"Oh, iya kah? ya sudah saya cari lagi ya" Pamitnya yang langsung bergegas pergi.


"Siapa, mbak? kakak baru liat?" tanya Air penasaran.


.


.


.


.


.


.


.


.


Oh... itu dokter Anna!!


🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉


Ana siapa? 🙈🙈🙈


Hayoooooooo


lupa lupa ingat apa gak ingat 🤭🤭


Like komen nya yuk ramai kan.