
🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Langit yang masuk kedalam apartemen dengan menggendong Cahaya di punggungnya tentu membuat Melisa yang baru turun dari kamarnya kaget.
"Adek, Kenapa, Bang?" tanya Melisa panik.
"Gak apa-apa, Bun. cuma lagi ngambek nih gara-gara lama nungguin Abang pulang kerja" goda Langit pada gadis kecilnya.
Cahaya yang tahu sedang di goda malah mencium pipi pria Kesayangannya itu.
Melisa yang melihat drama romantis anak-anak malah dibuat tersenyum.
"Kamu tuh jangan terlalu manjain Chaca, bang" kata Melisa saat Langit sudah menurunkan cahaya dari gendongannya.
"Terus Abang mau manjain siapa lagi?, Adek tuh satu-satunya, Bun". jawab Langit.
"Tapi nanti adek semakin bergantung sama kamu, dia gak bisa apa apa sendiri"
Melisa semakin khawatir dengan ketidakberdayaan putri bungsunya jika jauh dari Langit, mengingat pria itu kini bukan lagi seorang pelajar yang bisa memberikan separuh waktunya untuk Cahaya, Langit adalah seorang pengusaha muda dengan setumpuk pekerjaan dan kesibukan lainnya.
"Chaca tetap prioritas utama Abang, Abang akan ada buat Adek kapanpun itu, Bun. Buna gak perlu khawatir" ucap Langit meyakinkan.
Sesibuk apapun Langit, ia akan menyempatkan diri untuk pulang hanya untuk sekedar menyuapi Cahaya makan sebelum ia meminum obatnya, gadis itu sering mengeluh bosan dengan banyaknya obat yang harus ia telan tepat waktu, dan cara paling ampuh adalah mengajak gadis itu mengobrol atau bercerita banyak hal sampai tak terasa semua makanan tandas tak tersisa dan itu sudah dilakukan Langit sedari Cahaya kecil saat Buna nya sibuk dengan anak yang lain, Langit lah yang akan mengurus gadis kecilnya itu.
"Kalian akan berangkat kapan?" Tanya Melissa.
"Satu jam lagi, Mah" jawab Cahaya.
"Abang mandi dulu ya" pamitnya sebelum beranjak ke kamarnya yang memang berada di lantai bawah.
Sepeninggal Langit kini tinggal Melisa dan Cahaya yang berada di ruang tengah, banyak yang wanita itu sampaikan pada putri bungsunya mulai dari batasan mereka melakukan kontak fisik, perasaan sampai hal yang tak boleh dilakukan saat bermesraan.
Meskipun dua anak itu anaknya, rasa cemas dan khawatir tetap ada karna bagaimana mereka memiliki rasa yang bukan sekedar sayang antar adik dan kakak.
keseriusan Langit tak langsung membuat Melisa dan Reza menyerahkan anak perempuannya itu begitu saja, Cahaya masih tetap dalam pengawasan orang orang kepercayaan Reza sekalipun ada Langit disisi putrinya.
.
.
Mendapat hadiah dari Reza liburan beberapa hari tentu itu adalah sebuah keajaiban bagi keduanya.
"Rambutku makin rontok Loh, Bang" adu si cantik dengan memegang rambut sebatas punggungnya itu.
"Nanti di potong sebahu, mau ya?" saran Langit, ia tahu semua ini adalah efek dari semua obat yang di minum Cahaya dalam waktu yang panjang.
"Bakal gak rontok lagi ya?" tanya gadis itu.
"Seenggaknya gak terlalu parah, sayang"
Cahaya hanya mengangguk tanda setuju, sebegitu menurutnya ia pada Langit sampai memasrahkan semua kebutuhan hidupnya pada pria itu untuk di urus.
.
.
.
.
.
Apa jadinya jika Cahaya tak ada Langit?
Atau Langit tanpa Cahaya?
Apa yang bisa mereka lakukan, tentu pasti akan hilang keseimbangan karna keduanya saling melengkapi.
Sosok gadis rapuh itu hanya bisa berpegangan pada tangan pria mandiri yang memiliki rasa sabar tanpa batas bahkan sepertinya Langit tak pernah punya rasa marah pada gadis kecilnya itu.
🎉🎉🎉🎉🎉