
🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Aku akan menyambutmu keluar dari rumah ini untuk tinggal bersamaku kelak, hanya bersamaku!
Kahyangan menangkup wajah tampan Bumi dengan kedua tangan mungilnya sambil tersenyum.
"Lakukanlah apa yang menurutmu baik, mari berjuang bersama, akupun tak kan melepasmu kali ini" ucap Yayang dengan nada getir membuat Bumi sedikit bingung.
"Jangan pergi" balas lirih Bumi yang di jawab anggukan kepala oleh Yayang.
.
.
.
.
Usai mengutarakan isi hati masing-masing, Keduanya melangkah cepat menuju pintu rumah bercat coklat. Kahyangan langsung membukanya dan menyapa Sang Ibu yang kemungkinan ada didalam.
"Bu, Yayang pulang nih" ucapnya sedikit berteriak.
"Iya, tunggu!" sahut seseorang wanita yang entah dari mana.
Bumi yang di Persilahkan duduk pun hanya bisa menurut, ia menghempaskan bokongnya di salah satu sofa Single.
"Wah, ada tamu"
Bumi menoleh kearah suara, ada seorang wanita paruh baya berperawakan kecil datang menyapa.
"Ibu " ujar Bumi yang langsung menyalami.
"Ayo duduk, Bumi". ucapnya begitu ramah.
"Iya, Bu. terima kasih".
ketiganya duduk di ruang tamu saling berdekatan tapi tak lama Yayang bangkit untuk mengambil air minum kedapur.
"Kalian begitu sama" kekeh Ibu.
Bumi hanya tersenyum, sedari kecil memang ia sudah biasa dengan kata SAMA antara ia dan kakaknya.
Hanya dari tingkah dan pakaian saat beranjak remaja keduanya bisa dibedakan, tapi dari segi wajah, tinggi badan dan beratnya mereka semua sama.
Bahkan jika Air sedang diam, Melisa pun sering tertukar.
"Iya, Bu" jawab Bumi sambil tersenyum.
"Kalian kembar tiga, betul?" tanya Ibu Yayang lagi.
"Iya, saya anak kedua yang terakhir perempuan"
Ibu lagi-lagi tersenyum, ia membayangkan betapa ramainya rumah pemuda dihadapannya itu karna sudah pasti berbeda dengan rumahnya sebab ia hanya memiliki satu anak yaitu Kahyangan.
"Disini jika tak ada karyawan rumah selalu sepi, Yayang sering keluar karena banyaknya aktifitas yang harus ia lakukan" ucap Ibu sembari menatap putri semata wayangnya itu.
"Kegiatannya semua Positif, Bu" sahut Bumi.
Ia mengusap kepala Kahyangan dengan lembut saat gadis itu duduk kembali di sisinya usai meletakan tiga cangkir minuman yang ia bawa tadi.
"Ya, semoga kegiatan dan ilmu yang ia berikan bermafaat untuk banyak orang" harap ibu menatap bangga putrinya yang di genggam erat oleh Bumi.
"Kalian tadi dari pertigaan jalan?" tanya Ibu.
"Iya Bu, makin banyak Lo sekarang" jawab Yayang.
"Pantas, Si kakak pesan lebih banyak makanan tadi pagi"
Ya.. awal pertemuan Air dan Kahyangan justru dari sang ibu yang mengenalkan langsung putrinya itu pada anak sulung keluarga Rahardian.
Saat itu Air tak sengaja melihat Ibu Yayang sedang menata box Catering nya kemudian ia dihampiri Air untuk memesan beberapa makanan untuk ia order seminggu sekali sampai akhirnya kerja sama itu masih berlangsung hingga hari ini.
Air mulai mengenal lebih dekat sosok Kahyangan, Air juga yang mengajak gadis itu ikut beberapa kegiatan sosial lainnya.
Sikap Yayang yang lebih dewasa membuat si sulung selalu merasa nyaman, bahkan Pemuda tampan itu memperlakukan Kahyangan berbeda dengan para gadis gadisnya yang lain.
"Kalian sudah makan?, kita makan bersama ya" ajak Ibu kemudian puas berbincang.
"Ibu masak apa?" tanya Yayang.
"Lihat saja di dapur, ajak Bumi" titah Ibu pada putri satu-satunya itu.
"Ayo, Bu" Kahyangan menarik tangan Bumi agar bangun dari duduknya.
Kaki Bumi terhenti saat melihat sesuatu yang menempel di dinding bersebelahan dengan sebuah jam berukuran sedang.
"Ayo, aku udah laper, Bu"
Suara Kahyangan mengembalikan kesadaran Bumi yang tadi sempat tersentak kaget.
"Hem, iya. ayo" sahutnya dengan senyum di Paksakan Karna ada gejolak dalam dadanya.
Sampai di ruang makan, Ibu ternyata sudah menyiapkan banyak hidangan di atas meja, wanita paruh baya itu menarik kursi begitu pun dengan Kahyangan dan Bumi yang duduk berhadapan.
Kini ketiganya sudah berkumpul dan siap menyantap makan malam, namun dering telepon rumah yang berbunyi membuat ibu bangkit dari duduknya.
"Kalian makan duluan ya, ibu memang sedang menunggu telepon dari Bu Hanna" ucapnya yang kemudian bergegas ke ruang tengah.
Kahyangan dan Bumi mengangguk bersama.
Gadis itu menyiapkan makanan untuk Bumi lebih dulu, ia menyendok kan nasi beserta laku ke atas piring kemudian di letakan lagi ke hadapan pria yang menatapnya dengan sorot mata penuh tanya.
"Habiskan ya" ucap si cantik dengan senyum terbaiknya.
Bumi masih belum mengalihkan pandangannya dari Kahyangan, kedua manik matanya masih fokus pada gadis di hadapannya itu sampai pada ia melihat Kahyangan menautkan kedua tangannya diatas meja dengan mata tertutup sambil berdoa.
.
.
"Apa ini, Yang?" tanya Bumi dengan nada bergetar.
"Kenapa?, aku harap kamu tidak terkejut" lirih kahyangan.
Bumi menggeleng kan kepalanya, matanya mulai berkaca-kaca menyimpan cairan bening.
"Jangan katakan IYA untuk pertanyaan yang akan ku tanyakan padamu"
Gadis itu tersenyum simpul, ia sangat paham dengan yang dirasakan Bumi saat ini.
Ia menarik nafasnya dalam-dalam sebelum ia memberi jawaban untuk pemuda yang tengah mempersiapkan rasa kecewanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kita berbeda, Bu...
Tasbih ditanganmu takkan bisa bersatu dengan salib yang menggantung di leherku.
Bahkan meski Tuhan itu satu..
Tapi tetap saja Amin kita tak akan pernah sama!
Maaf.....
🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉
Nangis gak?
Nangis gak?
Nangis lah Bumi masa enggak 😭😭😭😭
Batakonya udah tinggi banget!
Mau diam di bawah nunggu atau manjat kak 😓
Like komen nya yuk ramai kan ♥️