
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Beberapa bulan berlalu dan kini semua berangsur jauh lebih baik, Cahaya yang sudah berada di apartemen sudah bisa melakukan aktivas seperti biasa, ia tak lagi di jaga begitu ketat oleh papanya jika sedang keluar rumah sebentar, cukup di pantau dari kejauhan sama seperti saudaranya yang lain.
"Hari ini mau kamu kemana sama Abang?" tanya Melisa Usai sarapan pagi.
"Mau anter Mami cari bunga" jawab Cahaya yang tubuhnya kini jauh berisi.
"Jangan pulang kesorean ya." pinta Melisa yang hanya di balas anggukan kepala oleh putrinya.
Melisa menatap lekat wajah si bungsu seakan tak ingin berkedip, rasa bahagia masih menyelimuti hatinya yang kadang tak percaya jika kini Cahaya sudah berangsur pulih dari sakitnya yang ia derita semasa hidupnya
Cangkok jantung yang berhasil membuat ia memiliki harapan hidup bahagia dengan laki-laki yang selama ini selalu ada sisinya sejak ia lahir ke dunia, Langit tak pernah meninggalkannya dalam keadaan apapun itu. Rasa sayang yang dikira hanya sebatas saudara nyatanya berubah menjadi rasa cinta dan kesetiaan luar biasa diantara keduanya. Langit maupun Cahaya tak pernah mengenal cinta lain pada Siapapun.
.
.
.
"Kita ketemuan langsung di toko bunga, gak usah nnyamper Mami" ucap Langit saat keduanya sudah berada di dalam mobil.
"Mami udah disana?" Cahaya balik bertanya.
"Udah, Mami tuh ribet banget dari semalam telepon Abang terus buat nanya ini dan itu" kekeh Langit namun dengan mata tetap Fokus pada jalanan di depannya.
"Iya, Semalem juga telepon adek, banyak tanya sampe bingung jawabnya"
"Sabar ya sayang, Mami tuh lagi antusias banget jadi kita iyain aja" pinta Langit memberi pengertian yang kemudian hanya dijawab senyuman tipis diujung bibir Cahaya.
.
.
Sampai di toko bunga, Langit langsung menggandeng calon istrinya itu untuk masuk karna ia sudah melihat Diana sedang duduk bersama pemilik toko.
"Mam... " sapa Langit dan Cahaya, keduanya memeluk dan mencium wanita itu secara berganatian.
"Wah.. kalian ini memang manis sekali, biasanya tante melihat ini jika sedang bersama Omma dan Buna mu saja" ucap Merry si pemilik toko sekaligus teman Melisa.
"Mereka semua kesayangannya Langit, Tan. Apalagi yang ini" jawab Langit sambil merngeratkan rangkulannya pada Cahaya.
"Itu sih gak usah di kasih tau, emang udah nempel banget dari bayi" balas Merry sambil tertawa, wanita berambut pirang itu bahkan menceritakan pada Diana bagaimana sayanganya Langit pada ketiga adiknya itu, ia akan selalu berada di dekat si kembar meski Melisa sudah membawa suster dan asisten jika datang ke tempatnya.
Sebagian orang memang tak kaget dengan kabar kedekatan Cahaya dan Langit apalagi setelah remaja keduanya terlihat lebih intim, dari sikap dan tatapan Langit semua orang bsa menebak ada cinta luar biasa di antara keduanya.
"Jadi pilih yang mana?" tanya Langit.
"Adek mau mawar putihnya yang banyak, kalo yang lain terserah Mami aja" jawab Cahaya.
"Mami sudah memilih beberapa bunga, Mami harap kamu suka" timpal Diana.
"Aku apa aja yang penting bagus"
Cahaya memang tak mengerti tentang bunga, meski Omma dan Mamanya pecinta tumbuhan warna warni itu, baginya semua bunga itu sama cantik dan harum.
Maka untuk mencari jalur aman ia memasrahan uusan tersebut pada calon mertuanya.
"Jad tepatnya kapan acara penikahan kalian?" tanya Merry dengan enyum menggoda meski sebenarnya ia sudah tau jauh jauh hari.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dua minggu lagi kami menikah...
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
cie... jadi juga kawin 🤣🤣🤣🤣
like komennya yuk ramaikan.. karna semua lagi di kebut 😩😩😩😩😩😩