Suami Dadakan

Suami Dadakan
extara bab 92


🌻🌻🌻🌻


"Siapa yang mau menikah?"


Reza yang baru keluar dari kamar si bungsu langsung bertanya pada dua anak kembarnya tentang apa yang di dengarnya itu.


Air menunduk kan wajahnya, sedangkan Bumi yang belum mengerti hanya diam sambil melirik kearah kakaknya.


"Kak, siapa yang mau nikah?" tanya Reza sekali lagi.


Air mendongakan wajahnya, wajah yang biasanya selalu tampak ceria dan penuh senyum kini terlihat berantakan dan lelah.


"Kamu dari mana sih?"


Air menarik nafasnya dalam-dalam, ia akan menceritakan semuanya karena sadar diri tak bisa menanggung masalahnya ini sendirian.


"Aku dari-_"


"Kakak, udah pulang?" tanya Melisa yang keluar dari kamarnya.


"Udah makan belum?, mama sisain makanan buat kamu"


Melihat senyum sang Mama yang begitu hangat dan penuh kasih sayang tentu ia takkan sanggup bila harus menggantinya dengan Isak tangis jika tahu apa yang ia alami saat ini, seketika nyalinya pun menciut kembali.


"Kamu mandi dulu ya sayang, ganteng kurang kalo kaya gini" Melissa mengusap pipi anak sulungnya itu.


Air hanya mengangguk lalu masuk ke kamarnya sendiri meniggalkan adik dan orangtuanya.


"Maafin kakak, Mah" lirihnya sambil menyandarkan tubuh di daun pintu.


Air takut jika benar harus di nikahkan secara mendadak, apa kata keluarganya nanti, belum lagi dengan oppa dan omma nya yang selalu berpesan agar ia dan Bumi harus menjadi orang sukses lebih dulu, sedari kecil mereka sudah tau apa yang harus keduanya lakukan jika lulus kuliah nanti, beberapa perusahaan sudah sangat siap menanti mereka untuk di kelola oleh para penerus keluarga.


"Mudah-mudahan Hujan bisa ngebujuk bundanya biar gak permasalahin soal ini lebih lanjut!"


" Dia beruntung dapetin gue, terus apa kabarnya sama gue yang gak tau dia siapa dan dari mana, ckck"


Air menertawakan dirinya sendiri yang bagai orang bodoh saat di kamar tadi, menyaksikan drama ibu dan anak yang menangis bersama karna kesalahpahaman yang konyol.


Ada beberapa ucapan sang dokter yang memang Air tak paham, ada yang mengganjal hatinya sampai membuat ia penasaran


"Apa mama nanti bakal nangis sesedih itu?, atau mungkin lebih buruknya akan pingsan?, Ya ampun! aku gak mau itu kejadian, aku bisa di gantung sama papa kalo sampe mama sakit. Aku sayang mama gak mungkin aku kecewain mama, aku harus bicara sama Hujan soal ini secepatnya"


Anak cengeng namun penurut itu bertekad harus bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa keluarganya tahu, dan bila nanti Bumi bertanya sekali pun, Ia akan sedikit berbohong.


********


Pagi pagi sekali, Air menghubungi salah satu mantannya yang kebetulan satu fakultas dengan Hujan untuk menanyakan jadwal kelas gadis itu hari ini,


*Arin


[ jam delapan, Ay! ]


Air langsung bergegas mandi saat mendapat jawaban pasti dari sang mantan, ia akan berangkat lebih awal agar bisa mengobrol sebentar dengan Hujan sebelum gadis itu masuk di jam pertama.


" Sarapan dulu, kak" tawar Melisa ketika si sulung hanya menegak susunya setengah.


"Laper sih, Mah. bungkus deh" pintanya.


" Ya ampun, mama kok berasa jadi mbak-mbak ya" kekeh Melisa.


"Haha, mbaknya cantik begini sih banyak Abang Abang yang makan" goda Air sambil memeluk maanya.


"Kakak sayang mama, kalau Kakak lakuin kesalahan nantinya, kakak harap mama mau maafin kakak ya" pintanya sambil menarik nafas.


Melisa hanya mengusap punggung si sulung dengan lembut.


"Apapun kesalahanmu akan mama maafkan, kecuali jika kamu membuat mama kecewa" sahutnya pelan tapi langsung membuat jantung sang anak seakan berhenti berdetak.


🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉


Thor kok gini sih😂😂😂


Apa?, kenapa?..


Si kakak mau teteh kawinin biar uwunya halal 🤭


karna dua adeknya bakal lama Kawin 🤣


masa mau ceritain ranjang gajah tua Mulu 🙄🙄


Nikmatin aja alurnya, konflik gk berat kok!


Like komen nya yuk ramai kan ♥️