Suami Dadakan

Suami Dadakan
extra part 19


❣️❣️❣️❣️


Didalam mobil menuju kantor, Cahaya tak bersuara sama sekali bahkan ia hanya pasrah saat Ay mengganggunya membuat kedua kakaknya itu bingung dan saling berbisik


"Ade kenapa sih?" tanya Ay pada Bu.


"Abang tadi pulang duluan, katanya ada acara di panti" Bu balas berbisik.


"Kan semalem abis pacaran, pasti berantem deh!"


Bumi mengangkat bahunya, ia tak mau tahu dan tak ingin tau, Baginya Langit adalah sosok pria yang paling sabar menghadapi Adiknya itu.


Cahaya menatap jalanan di depannya dengan tatapan kosong, senyum manis Langit masih terbayang di peluk matanya, ia takut senyum itu akan hilang dan pergi darinya.


Satu tetes air mata akhirnya jatuh juga, tak kuasa baginya untuk menahan lagi


Jangan pergi, bang...


***


Bumi menyeret tangan Air menuju lift khusus yang akan langsung mengantar mereka ke lantai dimana ruangan Reza berada.


"Lepas, ih!"


"Ngapain sih kesana?, kan liftnya disini" oceh Bumi pada kakaknya.


"Kakak kan mau naek lift biasa, dek!"


"Lama, harus ngantri lagian udah ada yang enak ngapain sih milih yang ribet?" Bumi terus saja memarahi kakaknya itu.


"Payah.. gak mau ngerasain berjuang" ejek Ay sambil mencebikkan bibirnya.


"Berjuang apa?, kakak tuh cuma mau liatin Tante Tante cantik doang kan?"


"Hey.......!!!!!!!!"


"Apa?" tantang Bumi.


"Kalo ngomong suka bener!"


Bumi semakin geram kepada kakaknya saat Ay malah tertawa terbahak-bahak.


Cahaya yang masih diam tak perduli dengan Perdebatan kedua kakaknya itu.


Ia hanya memainkan ponselnya sambil menuju Langit mengubungi nya lebih dulu.


TRIIIING..


Lift berbunyi dan pintunya kini terbuka lebar, Air langsung berlari keluar meninggalkan Kedua adiknya.


"Ayo dek" Bumi mengulurkan tangannya pada Cahaya, gadis cantik itu menyambutnya bahkan ia bergelayut manja di lengan Bumi


Tok tok tok


CEKLEK..


"Hallo mama kakak, anak terganteng mu datang" ucapnya saat Melisa membuka pintu.


"Aku juga ganteng" timpal Bumi.


"Tapi aku paling cantik" sahut Cahaya.


Melisa hanya bisa tersenyum, ketiga anaknya yang tak mau mengalah jika sudah berurusan dengan wajah.


"Iya, mirip chaeunwo, hahaha" seru Air sambil tertawa.


Cahaya menarik tangan Melisa menuju ayunan dekat jendela, tempat favorit Cahaya jika sedang di kantor papanya.


"Ada apa?" tanya Melisa, ia tahu ada yang sedang di pikirkan anak bungsunya itu


"Ada acara apa di panti?"


Melisa terdiam, ia sedang mengingat ingat.


"Apa ya, mama lupa. Abang kemarin bilang sih"


"oh, berarti Abang gak bohong sama adek!" ucap Cahaya.


"Bohong?, emang Abang suka bohongin adek?" tanya Melisa yang di jawab gelengan kepala.


"Abang gak mungkin bersikap gak baik ke kamu, mama jamin itu sayang"


Bukan ia tak tahu dengan apa yang terjadi di antara kedua anaknya itu, Melisa hanya belum mau banyak berharap karna usia mereka yang juga masih belia.


Belum lagi sikap posesif Suaminya pada si bungsu yang kadang terlewat batas.


"Nikmati kebersamaan Kalian, jika ada masalah selesai kan secepatnya" pesan Melisa pada putri cantik nya.


"Iya, mah. Abang baik kok"


Cahaya berhambur memeluk mamanya, kedua terdiam dan tenggelam dalam fikirannya masing-masing, sampai akhirnya mereka menoleh kearah Air yang sedang tertawa begitu kerasnya.


"Ada apa sih kak?" tanya Melisa penasaran, kebiasaan anak sulungnya itu yang kerap heboh sendiri.


"Paling menang main game" jawab Bumi.


"Salah, pasti abis ngerayu pacarnya!" Kekeh Cahaya.


" kalian ini, hafal banget sama kelakuan kakak"


" Haha, kalian salah semua!" balas Air di sela gelak tawanya.


"Kamu kenapa?" tanya Melisa lagi


.


.


.


.


" kakak lupa mah kalau ini hari Senin.. masa Kakak telepon pacar kakak yang hari Rabu. Pantesan dari tadi ngobrol gak nyambung taunya salah pacar!!!!


💦💦💦💦💦💦💦💦💦***


Astaga....


Air.. oh Air....


Nie pasti gara2. dulu ngindam ngejar ngejar tukang parabot lima rebuan..


kelakuannya jadi receh begini 🤦🤦🤦🤦🤦


like komen nya yuk ramai kan ❤️❤️