Suami Dadakan

Suami Dadakan
extra part 29


🌻🌻🌻🌻


Langit Rahardian Wijaya


Pemuda remaja itu sah memakai Nama Rahardian Wijaya tepat saat ia berusia lima tahun, ketika Melisa merengek pada Suaminya untuk mengadopsi Langit secara sah di mata hukum dan negara Karna saat itu ada salah satu keluarga yang juga ingin di mengadopsinya.


Flashback 15 tahun.


"Assalamualaikum"


" kok sepi?" Melisa yang baru masuk ke panti asuhan bingung karna ruang tamu yang nampak lengang, begitu pun dengan Ruang bermain anak anak.


"Mel, sama siapa?" sapa mba Asih secara tiba-tiba, wanita ramah itu langsung memeluk hangat Melisa.


"sendirian, ini sekalian tadi lewat aku beli ini, oh ya.. pada kemana sih mba?" kata Melisa sambil menyerahkan tiga bungkusan besar pada mba Asih.


"Lagi pada di taman bermain"


Melisa hanya mengangguk paham.


"Umi ada?" tanyanya lagi.


"Ada di ruangannya lagi ada tamu" jawab mba Asih.


"Langit mana?, di taman juga?"


"Di dalem sama Umi juga tamu itu"


Melisa mengernyitkan dahinya, perasaannya mulai tak enak saat mengetahui Langit bersama Umi di ruangannya.


"Yuk ke dapur, biasalah bantuin bikin cemilan" ajak mba Asih namun Melissa menolaknya karna alasan Ingin lebih dulu bertemu dengan Umi kemudian barulah membantu mba Asih.


"Ya sudah, mba masuk ya"


.


.


Dua puluh menit Melisa menunggu di ruang tamu dengan perasaan gelisah, dengan tangan yang gemetaran ia tetap mencoba tetap tenang, ia buang semua pikiran buruk yang mungkin saja benar terjadi.


Istri pengusaha itu sedang merasa takut jika apa yang di bayangkan menjadi nyata.


"Mel.." sapa Umi sedikit terkejut saat melihat Melisa duduk sendirian


"Buna....." bocah tampan itu langsung berhambur memeluk Melisa, wanita yang menemukannya di jalan dua tahun lalu


"Apa kabar?, Buna kangen Abang" ucap Melisa, ia mencium wajah tampan itu berkali-kali.


"Aku juga kangen Buna, katanya kemarin mau kesini?" Tanya Langit, menagih janji Melisa yang seharusnya kemarin datang menemuinya.


"Buna gak sempet, baru sempet sekarang"


Melisa lalu bangun kemudian menyalami Umi juga tamunya yang memang berniat untuk berpamitan.


"Kalau begitu kami permisi, selamat siang" ucap seorang wanita dewasa berpenampilan rapih dan elegan seperti pegawai kantoran.


"Iya, hati-hati dijalan, nanti untuk lebih lanjutnya kami akan kabari lagi" jawab Umi dengan sangat sopan.


Melisa menarik lagi tubuh Langit, bahkan ia memangku bocah itu diatas Pahanya.


"Sudah lama menunggu?" tanya Umi, kini keduanya duduk berhadapan.


"Lumayan, tadi siapa?" Melisa balik bertanya yang langsung membuat Umi mengernyitkan dahinya.


"Maaf, Aku lancang"'


"Umi hanya terkejut dengan pertanyaan mu, mereka pasangan suami istri yang sudah tujuh tahun belum memiliki keturunan, Wanita tadi pernah mengalami kecelakaan sampai keguguran dan sampai saat ini belum di beri amanah lagi untuk memilki anak"


"Terus Langit ngapain ikut didalam?" Melisa tak menanggapi cerita Umi, yang membuatnya penasaran adalah apa hubungan orang orang tadi dengan Langit.


"Mereka ingin mengadopsi seorang anak laki-laki berumur Lima tahun yang sudah bisa sedikit mandiri karna Keduanya bekerja" jelas Umi.


"Enggak!, Langit punya aku, Mi"


Tanpa permisi Melisa langsung berlari keluar menyeret Langit, Air mata sudah membanjiri wajah cantiknya, Ia tak kuasa berpisah dengan Anak itu.


"Kamu punya Buna, pokonya gak ada yang bisa ambil kamu dari Buna!"


"Maaf, non. Apa kita pulang?" tanya pak Cipto.


"Kita kekantor mas Reza" titahnya pada sang supir.


.


.


.


Selama perjalanan ke kantor suaminya, Melisa tak hentinya menitikan air mata sedihnya.


"Aku gak kemana-mana, Buna jangan nangis" pinta bocah tampan itu sambil mengusap air mata Melisa.


"Janji ya, janji kalo Abang gak akan tinggalin Buna"


Langit mengangguk sambil memberikan senyum terbaiknya.


***


CEKLEK.


Melisa masuk keruangan suaminya tanpa mengetuk pintu lebih dulu, Bahkan ia tak menanyakan keberadaan Reza pada sekretarisnya juga.


"Ra.. tumben!"


Reza membuka kacamatanya, namun fokusnya teralihkan saat tubuh mungil Langit keluar dari belakang Tubuh istrinya.


"Ada apa?" tanya Reza, ia yakin ada yang tak beres apalagi melihat sang istri dalam keadaan berantakan.


"Aku mau kita adopsi Langit hari ini juga, Mas" pinta Melisa tanpa basa basi membuat Reza terkejut.


"Apa sih maksudnya?"


"Aku mau kita adopsi Langit hari ini juga!" Melisa mengulang keinginannya.


"Kenapa?, kan sama aja" sahut Reza Santai, ia masih belum mengerti.


"Aku gak mau Langit di adopsi orang lain, dia harus sah jadi anak angkat kita, Mas"


Reza mengalihkan tatapannya pada Langit, bocah Lima tahun itu hanya diam memperhatikan kedua orang dewasa itu berdebat.


"Ada yang mau adopsi kamu?" tanya Reza pada Langit.


Langit hanya diam, ia bingung harus menjawab apa.


"Kok mas Reza tanya sama Abang?"


"Kalo nanya sama kamu ya pasti jawabnya mau, lagian ada apa sih, gada hujan gada angin tiba-tiba ngomongin Adopsi?"


"Tadi ada yang datang ke panti asuhan buat adopsi Langit, ya aku gak mau lah meskipun mereka gak bisa punya keturunan, kan masih ada anak yang lain!" Melisa kembali menangis, hatinya semakin gusar dengan pikiran yang sangat kacau.


"Ra, kamu gak boleh egois, kita udah punya si kembar" Reza mencoba memberikan pengertian.


.


.


.


.


"Aku akan menjadi ibu yang egois jika itu menyangkut keempat anakku, Mas!!"


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Tapi tuh gajah masih demen nyari gara-gara ya, Ra 🤭


Like komen nya yuk ramai kan ❤️