
🌻🌻🌻
Anak-anak di jemput tepat waktu oleh supir pribadi yang memang di tugaskan hanya menjemput Saja, Air yang duduk di belakang sendirian tampak lain sedari keluar kelas tadi.
Bumi sesekali menoleh ke belakang melihat kakaknya yang nampak sedang kesal.
"Kakak kenapa?" tanya Langit pada adik keduanya itu yang di balas gelengan kepala.
Dering ponsel Air tak hentinya berbunyi, tapi sepertinya di biarkan saja olehnya tanpa sekalipun di angkat.
" Kakak kenapa sih?" tanya cahaya dari kursi paling depan samping mang Udin.
Air hanya diam, ia tak menanggapi pertanyaan adiknya, matanya malah ia pejamkan seakan ingin menghindar.
Jika Air diam sudah pasti suasana pun menjadi sepi bagai sedang mengheningkan cipta.
Tak ada obrolan apapun selama perjalanan bahkan cucu pertama Rahardian itu langsung masuk kedalam kamarnya, mengganti baju kemudian meringkuk memeluk guling pisangnya.
Tok tok tok
Melisa mengetuk pintu kamar dua jagoannya sebelum masuk, tak ada sahutan dari sang anak membuat ia akhirnya memilih untuk masuk.
"Kak....."
Melissa semakin dekat melangkah, kemudian duduk di tepi ranjang Air.
"Mama kira kakak gak ada, pas pulang tadi gak denger kakak teriak teriak manggil nama cantik" Melisa mengusap kepala si sulung, agar anak kesayangannya itu mau mengubah posisinya.
"Gak apa-apa, mah" ucapnya pelan tak ada pergerakan sama sekali dari tubuhnya.
"Kakak sakit?" tanya Melisa yang mulai khawatir. Sikap aneh diluar kebiasaan Air
"Enggak, Mah. kakak ngantuk banget pengen tidur" ucapnya yang memang sudah menutup matanya sedari tadi.
"Yakin cuma ngantuk?, apa ada masalah di sekolah?" tanya Melisa lagi, kali ini ia benar-benar takut.
Air tak menjawab, yang terdengar hanya dengkuran halus yang menandakan remaja tampan itu sudah terbuai mimpi.
"Apa hari ini terlalu lelah, semoga gak ada yang kamu sembunyikan dari mama ya, kak!"
Melisa mencium kening Anaknya sebelum kembali ke dapur menyiapkan makan siang untuk ketiga anaknya yang lain
"Kakak mana?" tanya Cahaya saat di lihatnya Melisa datang sendiri.
"Tidur, kayanya Capek banget" sahut Melisa.
"Tumben, biasanya gak gitu ya. emang tadi ngapain aja sih?" Chaca nampak berfikir dan mengingat kegiatan di sekolah tadi yang dirasa sama saja seperti hari-hari biasanya.
"Kakak capek kebanyakan pacar, besok dia bingung mau bikin rayuan apa lagi, ckck" kekeh Bumi.
Melisa dan Langit hanya tersenyum tapi berbeda dengan Cahaya yang tertawa keras sambil memkuli bahu Bumi.
"Sakit, dek"
***
Pukul sebelas malam Reza baru kembali ke apartemen, selelah apapun dia saat pulang akan ada senyum di sudut bibirnya untuk sang KHUMAIRAH.
"Aku bilang gak usah nunggu, Ra" ucap Reza setelah mencium seluruh wajah cantik istrinya.
"Gak apa apa, belum terlalu malem juga" Jawabnya sambil membuka jas yang melekat di tubuh Reza.
Keduanya kini berjalan beriringan menuju lantai dua apartemen, Reza melihat sebentar ke kamar anak anaknya yang ternyata semua sudah terlelap begitupun dengan Air.
Selama Reza membersihkan dirinya, Melisa menyiapkan baju tidur untuk sang suami.
Ia yang sudah duduk bersandar tinggal menunggu Reza keluar dari kamar mandi.
"Pengen tapi capek banget" bisiknya di ceruk leher sang istri.
"Istirahat lah, emang dari mana sih, baru juga Minggu lalu keluar kota udah kesana lagi aja" tanya Melisa.
"Aku abis ngurusin buat kuliah Abang" jawabnya dengan bergumam.
"Kuliah Abang?, Emang Abang mau kuliah dimana?" tanya Melisa.
"Kota x"
Melisa diam, ia sedang meyakini apa yang di dengarnya itu salah.
"Kok jauh?, kenapa gak disini aja sih?"
Wanita itu mendorong tubuh suaminya untuk menjelaskan apa yanh sudah Reza rencanakan yang lagi-lagi tanpa sepengetahuannya.
"Aku ngurusin buat kuliah Abang, unversitas apartemen sama mobil udah beres semua. Abang tinggal belajar, ujian, lulus terus lanjut buat kuliah"
"Gak bisa gitu dong, kok mas Reza gak bilang aku?" sentak Melisa, Suaminya sedang melakukan kesalahan yang sama.
"Maaf, tapi buat masalah Abang aku mohon biar aku yang urus, ini demi kita semua. Aku gak mau liat kamu nangis di kemudian hari"
"Ada hal yang cukup aku aja yang tau, aku minta kamu percaya sama aku, Ra"
.
.
.
.
.
"Jauhin Abang sebentar aja lebih baik dari pada harus kehilangan dia selamanya"
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Sejauh apa sih?
apa sejauh jarak aku padamu bang?
Yang pengen cium rasanya gak nyampe2 😂😂😂🤧
Like komen nya yuk ramai kan