
🌻🌻🌻🌻
Jangan tinggalin Abang, Yank...
Langit terus mengguncang tubuh Cahaya yang tak sadarkan diri, rasa panik dan takut membuatnya bingung harus berbuat apa sedangkan teriakannya ternyata sampai di keruang makan.
"Ada apa?" Reza yang masuk langsung menghampiri Si bungsu di ranjangnya.
"Kenapa adek, Bang?" tanya Melisa yang sangat khawatir.
"Gak tau, tadi pas masuk udah begini"
"Telepon dokter Arif, kak"
"SEKARANG!" sentak Reza yang sudah memangku anak perempuannya itu.
Bumi Langsung meraih ponsel papanya dan mencari nama dokter Arif yang memang sudah di siapkan oleh Reza jika terjadi sesuatu pada Cahaya.
Kemanapun mereka pergi, ia akan selalu meminta rekomendasi dokter terbaik yang bisa di panggilnya kapanpun saat terjadi sesuatu pada si bungsu.
"Gimana, kak?" tanya Melisa yang membalurkan minyak angin ke hidung anaknya.
"Iya, mah tunggu sepuluh menit Katanya"
Reza dan Melisa terus mengusap kepala Cahaya, sedang kedua anak laki-lakinya hanya diam bingung harus berbuat apa begitupun dengan Langit, pemuda tampan itu berkali-kali mengusap air matanya dengan tangannya yang bergetar.
Air yang tau rasa takut Abangnya itu mulai mendekat.
"Adek, gak apa apa, dia kuat bang" bisik Air menenangkan Langit meski jauh dalam hatinya iapun dalam kecemasan.
"Abang takut, ini pasti karna Abang" sahutnya lirih.
.
.
.
Semua mata fokus pada dokter muda yang kini sedang melakukan pemeriksaan pada Cahaya, dengan cekatan ia memeriksa gadis cantik itu dengan alat yang ia bawa mulai dari tekanan darah hingga detak jantungnya yang ternyata sangat lemah.
"Bagaimana dok?" tanya Reza saat dokter Arif sudah memasukkan stetoskopnya ke dalam tas.
"Jika dalam waktu satu jam nona Cahaya tak juga sadar, mau tak mau kita harus membawanya kerumah sakit, Tuan"
Tangis Melisa kembali pecah, ia Langsung memeluk Bumi untuk menopang tubuhnya sendiri.
"Adek gak apa-apa, mah" ucap Bumi menguatkan Melisa.
"Baik, kalau begitu saya permisi, Nanti saya akan hubungi pihak rumah sakit jika keadaan nona belum membaik" pamit dokter Arif yang akan langsung menuju rumah sakit menyiapkan segala sesuatunya jika hal buruk terjadi.
"Iya, lakukan yang terbaik dan jangan banyak membuang waktu" seru Reza dengan tegas.
Dokter Arif mengangguk tanda paham kemudian keluar dari kamar Cahaya yang diantar oleh Air.
"Dek, bangun sayang!" lirih Melisa yang kini sudah duduk di sisi Anak perempuannya itu
"Adek kuat, Ra" balas Reza meraih tangan istrinya.
.
.
.
.
Lima belas menit berselang, Cahaya akhirnya membuka kedua matanya meski hanya sedikit,
"Mah.. Pah.." sebutnya lirih kepada kedua orangtuanya yang sedari tadi mendampinginya
"Mama disini sayang" sahut Melisa
"Kamu mau apa?, minum ya" timpal Reza yang meminta Langit membawakan air putih hangat.
"Maaf, adek bikin Mama sama papa khawatir lagi ya" ucapnya lemah, dengan mata belum terbuka sepenuhnya.
"Adek kenapa?, mikirin apa sih sayang" tanya Melisa, Bumi yang sudah paham hanya mengulum senyum.
"Adek cuma pusing tadi, mah"
"Lain kali gak boleh sendirian, paham" ucap Reza yang kembali mengingatkan Cahaya.
Anak perempuannya itu memang seharusnya selalu ada yang menemani, Meski dalam waktu dua bulan ini terhitung ia hanya tiga kali tak sadarkan diri, jauh lebih baik dari sebelumnya.
.
.
.
.
"Mau kemana, bang?" tanya Air saat berpapasan dengan Langit di ruang tengah.
"Mau kedapur ambil minum" sahutnya.
"Adek udah sadar?"
Langit hanya mengangguk kemudian melanjutkan langkahnya kembali.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Baru juga mau dikasih kaos kakinya mang Ojo nih biar sadar...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Astaga..
laknat amat Lo jadi kakak 😝😝😝😝
enek gue ay🤧🤧
Like komen nya yuk ramai kan..