
🌻🌻🌻🌻
Mobil kantor berhenti tepat di gerbang panti asuhan Muara kasih kini ketiga anak Reza dan Melisa langsung turun setelah mengucapkan terima kasih.
"Jangan lari, ucapkan salam dulu" pesan Bumi pada adiknya saat turun dari mobil.
"siap kak" sahutnya yang sudah tak sabar ingin bertemu dengan Langit yang tak mengabarinya sama sekali sehabis pulang sekolah.
Cahaya berjalan masuk lebih dulu disusul Bumi dan Air di belakangnya, Namun langkah ketiganya berhenti saat bertemu dengan Ilham dan istrinya yang kini mengelola panti asuhan sepenuhnya setelah Umi meninggal dua tahun lalu.
"Assalamualaikum" sapa ketiganya berbarengan kemudahan mencium takzim punggung tangan pasangan suami-istri itu secara bergantian.
"Waalaikum salam" sahut Ilham dan Istrinya.
"Mana mama kalian?" tanya Ilham, saat ia tak melihat Melisa.
"Mama gak ikut, cuma kita aja" jawab Bumi.
"Om, katanya ada cara ya?, kok sepi?" Cahaya mengedarkan pandangannya.
"Iya tadi, sekarang udah selesai"
Air dan Bumi mengangguk paham, tapi tidak dengan Cahaya.
"Abang Langit mana?" Tanya Cahaya yang sudah tak sabar.
"Oh, Abang tadi pamit mau keluar" jawab istri Ilham sambil tersenyum.
Cahaya menautkan kedua alisnya, lalu menoleh kearah kedua kakaknya.
"Aku mau kebelakang dulu" Cahaya pamit pergi ke halaman belakang panti asuhan untuk kembali menghubungi Langit, bukan kebiasaannya pergi tanpa memberi tahu Cahaya lebih dulu.
"Abang kemana sih?, telepon aku gak di angkat dari tadi" Gumamnya sambil menahan kesal karna pesannya juga tak satupun terbaca olehnya
"Abaaaaaaaang" jerit Cahaya sambil menutup wajahnya.
"Gak biasanya ngilang gak ada kabar begini" Cahaya terus saja menyebut nama langit sampai ia merasa ada seseorang yang menepuk bahunya.
.
.
"Kak, Al..."
Pemuda seumuran Langit itu tersenyum pada Cahaya dan duduk di sebelahnya.
" Kenapa?, dari tadi kayanya ngomong sendiri?" tanya Alan tapi biasa di panggil Al.
"Kakak tau Abang Langit dimana?" Cahaya justru balik bertanya berharap pria di sisinya itu bisa memberi jawaban atas keresahannya.
" Langit?"
"Tadi abis acara selesai dia ikut keluar bawa motor bareng sama tamu yang pulang" jawab Al.
"Maksudnya gimana?" Cahaya memiringkan duduknya agar bisa berhadapan dengan Alan rasa penasarannya membuat ia lupa kebiasaanya yang selalu menjaga jarak dengan pria lain.
"Gini loh, Tadi tuh di sini kedatangan tamu dari universitas x buat ngobrol sama Kak Ilham sama bagi bagi hadiah juga buat anak anak, kira-kira ada enam orang yang kesini" jelas Alan pada Cahaya.
"Lalu?"
"Tadi tuh ada satu mobil dan dua motor, nah yang satu motor itu bannya bocor berhubung yang bawa mobil pulang lebih dulu dan yang bawa motor lainnya juga ada boncengan yang motornya bocor itu di anter Langit pulang" jelas Alan lagi.
"Cewek apa cowok?" tanya Cahaya dengan nada suara bergetar.
"Cewek!" jawabnya singkat namun sangat menyesakkan dada Cahaya.
"Abang nganterin itu cewek pulang, gitu maksud kak Al?" Cahaya memastikan lagi apa yang ia tangkap dari cerita Alan.
"Iya!" sahutnya sambil menganggukkan kepalanya.
Cahaya membuang nafasnya kasar, matanya kini mulai merah Karna menahan tangis.
Gadis ini tak suka di abaikan, apalagi di tinggalkan tanpa kabar bagai menghilang di telan Bumi.
"Abang jahat!" dengusnya kesal, membuang muka.
"Coba kamu telepon, udah dari tadi juga apalagi ini agak mendung" titah Al dengan senyum menyeringai.
"Aku udah puluhan kali telepon gak di angkat"
"Mungkin di Jalan, mungkin sebentar lagi pulang"'
Cahaya hanya mengangguk tanpa menjawab, kedua kembali terdiam tanpa berbicara apapun lagi.
.
.
.
.
.
.
", Kalian sedang apa?"