Suami Dadakan

Suami Dadakan
extra bab 206


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Dirasa Diana sudah sedikit tenang, Langit pun segera membawanya menuju kantin agar perut kosong wanita itu bisa terisi meski hanya sekedar air putih atau teh hangat.


Keduanya berjalan beriringan dengan tangan ia rangkul kan di bahu ibu kandungnya.


Langit menarik kursi untuk Diana duduk, hal sepele yang ia lakukan namun sangat berkesan bagi Diana yang tak pernah terbersit dalam hidupnya akan diperlakukan sangat manis oleh putranya sendiri.


Para pria Rahardian itu menang selalu mengistimewakan para wanita kesayangan mereka meski di hadapan umum.


.


.


"Apa Mami mau berobat juga?" tawar Langit yang melihat kondisi Diana begitu pucat.


"Gak usah, Mami gak apa-apa, Nak"


Langit mengangguk paham, meski jauh di dasar hatinya Ia sangat kasihan pada wanita yang melahirkannya itu.


Namun sampai kini ia tak bisa menggantikan prioritas utamanya yaitu Cahaya yang selama puluhan tahun menjadi pemenang tahta tertinggi dalam hatinya.


"Abang bisa anter Mami pulang?, selepas itu kamu bisa kembali lagi kesini" Pinta Diana meski ragu Langit akan mengiyakannya.


"Tentu, Mam. Abang akan antar Mami pulang tapi tolong habiskan makanannya dulu" rayunya dengan nada suara tegas sambil melirik piring di hadapan Diana yang masih utuh belum tersentuh.


Wanita itu tersenyum simpul, ia bagai balita yang sedang di marahi oleh ayahnya sendiri.


"Hem, baiklah. Mami habiskan, begitupun denganmu ya"


Langit hanya mengangguk.


Kini keduanya menikmati makanan mereka meski sebenarnya tak ingin, namun Langit dan Diana tentu sadar jika kesehatan merekapun jauh lebih penting karna ada orang yang jauh lebih membutuhkan dan bergantung.


Usai menghabiskan makanan meski tak sampai tandas, Langit meraih ponselnya yang memang tergeletak di atas meja, Jari-jarinya tengah sibuk mencari nama kontak belahan jiwanya yang lain.


"Hallo Bun.. " sapanya lembut seperti biasa pada wanita yang sudah bisa ia tebak pasti sedang berada di sisi pemilik hatinya.


"Iya, Bang. Ada apa?"


"Abang mau anter Mami pulang, ya?" izinnya langsung dengan perasaan ragu apalagi ia berbicara tepat di hadapan ibu kandungnya.


"Ya, antar Mami mu pulang, biarkan dia istirahat jangan sampai kelelahan" jawab Melisa di sela hembusan nafas beratnya karna biasanya Langit tak pernah mau beranjak sejengkal pun dari sisi si bungsu.


"Abang janji gak akan lama dan langsung pulang" rayunya pada Melisa.


"Tak apa, temani saja Mamimu. Ada Buna dan Papa yang jaga adek" jawab Melisa yang juga harus menekan egonya di hadapan anak angkat kesayangannya itu.


Langit menggelengkan kepalanya seakan Melisa kini ada di depannya.


"Enggak, Bun. Abang nanti langsung balik lagi"


Memang hanya Langit yang selalu bisa ia andalkan jika si bungsu sedang berjuang melawan sakitnya.


"Terserah padamu, Buna tak memaksa"


"Abang sayang Buna" jawab Langit sebelum ia mengakhiri sambungan teleponnya. Tiga kata yang selalu ia ucapkan pada Melisa tak perduli sedang dimana atau di hadapan siapa dan beruntungnya kini Diana sudah terbiasa dan bisa mengerti dengan perlakuan manis putranya itu.


"Ayo, Mam" ajak Langit sambil bangun dari duduknya.


Diana yang ikut bangkit segera menerima uluran tangan Langit, kedunya kini bergegas keluar dari kantin menuju area parkiran mobil.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Kalian, apa kabar?


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


Kabar baik..


Bisa bisik bisik ya kalo mau nyogok lagi 🀣🀣🀣


Like komenn'y yuk ramaikan.