
ðŧðŧðŧðŧðŧ
Air bergeliat kecil di balik selimut tebal saat sang mama memukulinya dengan spatula yang sengaja Melissa bawa dari dapur.
"Bangun, Kak"
"Cepetan!"
"Adekmu udah mau sarapan, kamu masih mimpi?"
"Ada kuliah pagi malah begadang, kesempatan gak ada papa, kan?"
"Ayo, cepet bangun terus mandi"
"Denger gak sih, kak?"
Melisa terus saja mengomel sambil menarik selimut, bantal dan kaos anak sulungnya itu agar cepat membuka matanya karna matahari sudah sangat tinggi menggantung di langit.
"Kakak!" sentak wanita yang melahirkannya itu
"Apa sih, mah" sahut Air dengan suara serak khas bangun tidur, ia yang baru sempat terlelap kurang dari dua jam benar-benar tak merasa dan mendengar apapun.
"Jam berapa ini, kak?"
"Ya gak tau, kakak lagi tidur mana liat jam sih! mama liat lah sendiri" sahutnya kembali memeluk guling pisang kesayangannya.
" Ya ampun, kamu bikin Mama marah ya, Kak!"
Air menoleh, ia memaksakan membuka matanya yang seakan rapat dan lengket.
"Masa kakak tidur bisa bikin Mama marah sih?"
"Udah siang ganteng, yuk bangun" Melisa merendahkan lagi nada bicaranya, mengomel memang tak pernah mempan untuk si sulung, tapi jika sedang kesal cara itu satu-satunya yang bisa membuat wanita tiga anak itu merasa lega setelahnya.
Dari empat anaknya memang hanya Air sedari di lahirkan yang selalu menguji emosinya, Ia berubah menjadi wanita yang bisa mengoceh berjam-jam hanya untuk putra pertamanya itu walau ia sendiri tahu ocehannya tak pernah di dengar, dan akan berhenti jika sudah diberikan ciuman di pipi.
" Udah mah, Ntar mama capek ngoceh terus!!".
*******
Anak pertama dan cucu pertama keluarga Rahardian itu akhirnya pasrah dan bangun dari tidurnya, melangkah malas menuju kamar mandi untuk bersiap membersihkan diri.
Usai mandi dan berpakaian lengkap pemuda yang kini sudah terlihat tampan itu bergegas kearah dapur untuk sarapan, masih ada tiga puluh lima menit lagi sebelum kelas dimulai.
"Mah, kakak jalan ya" pamitnya setelah menegak habis susu yang sudah dingin.
"Hati-hati dijalan, jangan ngebut ya" pesan Melisa untuk si sulung.
"Siap, Mah." balasnya dengan mimik wajahnya kurang meyakinkan.
"Jangan nakal!" ancam Melisa.
"Gak ngebut gak nyampe, Mah" kekehnya sambil tertawa kecil kemudian mencium pipi sang mama dan berlalu dengan sedikit berlari.
.
.
.
.
Air membuka helmnya saat ia sudah memarkirkan motor besarnya di tempat biasa.
Ada beberapa mahasiswa yang baru datang juga sama dengannya.
"Baru dateng, Ay?" tanya temannya tapi berbeda jurusan.
"Iya, telat gue" jawab Air sambil merapihkan rambutnya.
"Oh, ya udah gue duluan ya"
Air hanya mengangguk, ia turun dari motornya membuka jaket dan meletakkan helm.
Langkahnya langsung ia belokkan ke kantin karna perut kosongnya mulai minta di manjakan.
Selama ia berjalan ada saja yang menyapanya termasuk para kekasihnya yang hanya dibalas senyuman dan kata Iya nanti ya.
Ia sedang tak ingin berbasa basi apalagi meladeni para gadis yang sebenarnya tak pernah ada di dalam otaknya.
Ada senyum di ujung bibirnya saat kedua matanya menangkap sosok gadis yang dua hari ini mengacaukan hari-harinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Heh, calon istri!
Temenin gue tidur yuk.
ððððððððððððð
Ajakan cebong gak tanggung tanggung ðĪŠðĪŠðĪŠðĪŠ
Tar d gerebek lagi mampus loh!
Like komennya yuk.ramaikan.