Suami Dadakan

Suami Dadakan
bab 77


🌻🌻🌻


"PAPAAAAAAAAAH" teriak Reza frustrasi sambil mengacak rambutnya sendiri.


"Diam, tetap berdiri disana!"


"Ok! aku akan tetap disini, tapi papa liat aja delapan bulan kemudian" ucap Reza dengan tangan melipat didadanya.


"Ada apa dengan delapan bulan kemudian?" tanya papa bingung.


"Papa akan mendapatkan cucu yang ileran, emang papa gak malu?"


"Maksudmu?, tidak! Menantu papa akan mendapatkan apa yang ia inginkan, jadi itu tidak mungkin terjadi!" kata papa dengan bangga, ia akan memberikan apapun demi calon penerusnya.


"Haha, papa gak tau kan?"


"Tau apa?, apa yang papa gak tau?" tanya papa sembari mengernyitkan dahinya.


"Menantu papa yang hamil, tapi anak papa yang ngidam!" jawab Reza dengan senyum kemenangan.


"Siapa yang bilang?"


"Dokter Farhan, Melisa mengalami kehamilan simpatik, aku juga ikut andil dalam masa kehamilannya"


"Huh, cepat habiskan!" dengus papa kesal, lalu keluar dari ruangannya..


"Yess, sekarang pawang singanya ada didalam perut kamu, Ra" kata Reza sambil seluruh wajah istrinya.


*****


Melisa duduk di tepi ranjang kamar, ia mengusap wajah suaminya yang terlelap begitu tenangnya, perubahan sikap suaminya akhir akhir ini terkadang membuatnya kesal, Reza lebih sering tidur di siang hari bahkan sehabis sarapan ia langsung masuk lagi kedalam kamar memeluk guling dan terbuai dalam mimpinya.


Jika bukan karna kehamilan simpatik sudah jelas papa mertuanya pun akan bertindak lebih tegas, karna kini Reza lebih sering membawa pekerjaannya kerumah, ia bahkan menyerahkan semuanya pada asisten juga sekertarisnya.


Dokter Farhan sudah menjelaskan bahwa Reza akan mengalami kondisi layaknya ibu hamil pada umumnya, morning sickness, mood yang berubah setiap saat bahkan bisa menjadi pemakan segalanya, sulitnya ia tidur dimalam hari membuatnya selalu lemas disiang hari.


Sudah bisa di pastikan jika suaminya tak tidur semalam Melisa juga akan terkena imbasnya, ia akan terus menggoda dan menjahilinya terus menerus untuk menemaninya.


-------


"Masih belum bangun juga?" tanya eyang saat Melisa masuk kedapur.


"Belum, eyang. Biasanya jam makan siang juga bangun" jawab Melisa sambil menarik kursi.


"Aku merindukannya, eyang" lirihnya dengan mata mulai berkaca-kaca.


"Eyang mengerti, bersabarlah" wanita paruh baya itu merengkuh tubuh Melisa agar masuk dalam pelukannya.


Rasa sedih Melisa berangsur hilang setelah ikut membantu eyang memasak makan siang dan beberapa cemilan.


Nafsu makan Reza yang berlipat-lipat membuat para koky kadang kualahan untuk memenuhi keinginannya, meski tak jarang ia mencari sendiri apa yang mau ia makan untuk memenuhi hasrat ngidamnya.


"Mas Reza udah bangun?" kata Melisa yang kaget saat melihat suaminya sudah duduk memangku wajah di atas tangannya.


"Aku mau chess cake" ucapnya dengan lemas.


Melisa dengan cekatan langsung membuka lemari pendingin mengambil kue yang di inginkan suaminya itu.


Dapur kini layaknya toko kue dan toserba dadakan semenjak menantu keluarga Rahardian Wijaya hamil.


Beberapa bagian kue sudah habis Reza lahap, kini waktunya jam makan siang tinggal menunggu Ameera datang bersama mama dari sekolah.


"Mama sama adek lama banget ya, aku bisa terbang ini sih makanin kerupuk terus" kata Reza yang masih memeluk toples berisi kerupuk udang yang baru saja di goreng istrinya.


"Makan duluan aja, kalau udah laper banget" titah Melisa.


"Hem, makan dikamar yuk!" goda Reza dengan mengedipkan satu matanya.


"Makan apa dikamar?" tanya Melisa pura pura tak mengerti dengan perkataan suaminya.


"Kakaaaaaaak" tiba-tiba Ameera datang langsung memeluk Kaka iparnya dari belakang.


"Awas ah, Minggir!" Reza langsung menarik istrinya masuk kedalam dekapannya.


"Udah, kalian tuh ribut terus" ucap mama.


"Mas reza kan lagi meluk toples tadi, udah ah yuk makan"


"Kita makan dikamar!" Reza menarik tangan istrinya keluar dari dapur.


"Ya ampun!" Mama menggelengkan kepalanya karena gemas dengan sikap anaknya yang semakin hari semakin sensitif.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Like komennya yuk❤️❤️❤️