Suami Dadakan

Suami Dadakan
extra part 14


🌻🌻🌻


ya Tuhan, berikan jodoh Air seorang dokter ahli gizi biar dia tahu pentingnya memakan sayuran!"


Semua orang langsung menatap kearah Melisa yang berdoa dengan menadahkan tangannya.


Namun setelah itu mereka semua tertawa bersama.


"Kamu harus jadi orang sukses kak, kalau mau punya istri ahli gizi" Reza malah justru menimpali.


"Ih, kakak mah apa ajalah, yang penting cinta mati sama kakak, haha" kekeh Air.


"Tapi nanti istrinya tetep sagu kan?" ejek Cahaya pada kakak sulungnya itu yang sangat sangat playboy.


"Iyalah, istri mah satu aja!" seru Ay dengan sangat yakin


"Kirain mau tujuh, sehari satu hahaha" Reza tertawa meledek anaknya.


"Atau mau dua puluh satu? Jadi sehari tiga kali" tambah Reza lagi yang mendapat cubitan dari Melisa.


"Mas, serem ih!" ujar istrinya, membayangkan saja Melisa tak sanggup.


"Aku maunya satu, tapi yang bisa sehari tiga kali" bisik Reza di telinga Melisa. Wanita itu langsung memelototinya dengan kaget.


Langit hanya mengulum setiap orang-orang di sekitarnya itu melempar candaan, Entah bagaimana nasibnya jika lima belas tahun lalu bukan Melisa yang menemukannya saat ia sendiri menangis histeris di pinggir jalan.


Tangannya masih sibuk memainkan jari-jari Cahaya diatas Pangkuannya bagai candu tersendiri, hal sepele yang bisa menenangkan hatinya.


"Keringetan terus sih dek!" ujar Langit sambil mengusap telapak tangan Cahaya dengan tissue.


"Iya makin kesini makin banyak, bang" keluhnya, Cahaya selalu menikmati setiap Langit menyentuhnya dengan sangat lembut.


"Obatnya di bawa gak?" tanya Langit yang di balas gelengan kepala.


Air bangkit dari duduknya untuk pamit sebentar ke toilet sambil menarik-narik tangan Bumi


"Ayo sebentar" ajaknya pada sang adik.


"Gak mau.... udah gede juga ah!"


Bumi keukeh menolak ajakan Air ke toilet, rasa kenyang di perutnya membuat ia tak ingin beranjak dari kursi.


"Yuk, sama Abang" Langit yang gemas dengan Perdebatan kedua adiknya itu akhirnya bangun karna ia melihat Reza justru malah sedang tertawa sambil memeluk istrinya dari samping.


******


Usai makan siang keluarga Reza meneruskan perjalanannya tapi kali ini Cahaya merengek ingin kerumah kakek dan neneknya lebih dulu Karna ada Mitha disana, anak sambung Aunty Meera.


Langit mengisi rasa bosannya dengan tidur di kursi belakang bersama air yang heboh sendiri main game di ponselnya.


"Nanti nginep gak?" tanya Melisa sambil menoleh ke arah belakang.


"Gak tau, Abang mau ke panti kapan?" Cahaya malah balik bertanya pada Langit yang sudah menutup wajahnya dengan jaket Bumi.


"Abaaaaaaaang" teriak Cahaya


"Apa yank!" sahutnya kaget, membuat Air langsung membungkam mulut Langit sebelum Reza sadar.


"Gak tau diri banget, udah tau pacaran ngumpet-ngumpet" gumam Bumi.


.


.


Reza dan Melisa yang tak sadar dan tak mengerti apa yang di ributkan anak-anak nya hanya mengangkat bahu mereka.


"Kita di kacangan ya, Ra!" kekeh Reza sambil tersenyum.


Sampai di rumah mama dan papa semuanya langsung turun dari mobil, anak anak berhambur masuk sambil meneriaki omma dan oppa nya dengan sangat keras.


"Oppaaaa.... Kakak ganteng dateng nih"


Masih sama dan selalu sama!


"Sehat mah.. Pah" sapa Reza pada kedua orangtuanya sambil memeluk bergantian.


"Sehat sayang"


Cahaya langsung menarik Mitha menuju kamarnya meninggalkan semua orang yang masih berkumpul di ruang tengah.


"Ameera dimana, mah?" tanya Melisa, karna ia tak melihat adik iparnya itu keluar.


"Mungkin di kamar, Suaminya baru datang dari Jepang" jawab mama.


Reza yang mendengar langsung menyinggung kan senyum jahatnya.


"Mas Reza mau kemana?"


"Ke atas bentar!" sahutnya tetap melangkah, ia sedikit berlari menaiki tangga, Sampai ia berhenti di depan sebuah pintu bercat putih gading.


.


.


.


.


" Woy... adek gua lagi di apain??"


"Keluar Lo!!"


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁***


babang Ricko lagi berkebun bang 🤭😀😀


lagi nanem jagung bakar gosong


kan Abis dari Jepang ketemu Shinchan 😝😝😝😝


Ganggu aja Lo!!!


Like komen nya yuk ramai kan