Suami Dadakan

Suami Dadakan
bab 148


🌻🌻🌻


Melisa duduk tepi ranjang hanya dengan berbalut handuk sebatas dada sampai setengah paha, perutnya yang besar membuat handuk yang ia kenakan jauh lebih tinggi menyingkap.


Sedang Reza yang baru keluar dari kamar mandi masih mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil di tangannya.


"Ko belum pake baju?" tanya Reza saat melihat istrinya duduk diam dengan tangan di perut.


Melisa hanya menggeleng pelan.


"Sakit'?" tanyanya lagi sambil berjalan mendekat


Lagi lagi Melisa menggeleng.


"Keras banget,Ra" kata Reza saat sudah berlutut di hadapan istrinya.


"Iya, begah banget" sahutnya lirih.


"Sakit gak?,ini keras banget loh" Reza terus mengusap perut Melisa dengan lembut.


"Gak gerak gerak ya? katanya suka gerak tapi selama kamu hamil aku gak pernah ngerasain gerakannya"


"Gerak ko' Mas, malah kaya orang lagi demo dalam perut ku heboh banget" kekehnya.


"Masa sih?" tanya Reza tak percaya sambil mengernyitkan dahinya.


Dari awal kehamilan sang istri si calon ayah ini memang tak sekalipun merasakan pergerakan bayinya, padahal berbagai cara sudah Reza lakukan, dari sering mengajaknya mengobrol, menciumi sampai tertidur di hadapan perut istrinya pun pernah ia lakukan tapi hasilnya tetap sama, anaknya tak pernah mau menyapanya.


"Hah, aku pengen tau rasanya"


"Sabar, coba ajakin ngobrol lagi!" titah Melisa yang terkadang merasa sangat kasihan melihat suaminya sering mengeluh.


"Apa dia mau nyapa aku?"


"Coba dulu dong" goda Melisa, kini tangannya dan tangan suaminya sudah berada di permukaan kulit perut yang besarnya lebih dari buah semangka itu.


"Hai" sapa Reza dengan wajah yang sudah sangat dekat.


"Apa kabar?, baik baik ya di dalam sebentar lagi kamu akan lahir, papa sama Mama gak sabar mau ketemu kamu" ucapnya lagi, kini hidungnya sudah uyel uyel.


"Geli, Mas" kekeh Melisa sambil mengusap kepala Reza.


"Ayo dong gerak gerak, jangan diem aja, papa mau rasain loh kamu disana ngapain aja"


"Mungkin tidur, karna terlalu nyaman denger suara Mas Reza"


"Ah, bohong kamu" dengus Reza kesal.


"Bener, ini buktinya udah gak begah kaya tadi pas Reza sentuh"


"Hem, iya sih. kamu beneran gak sakit, Ra?"


"Kadang kadang cuma kaget kalau tiba tiba-tiba gerak dan muter muter"


"Haha, mau jadi pemain bola apa pembalap sih muter muter terus"


"Jadi anak baik ya, harus kuat. jangan bikin Mama sakit pokonya kalo lahir nanti harus lancar, sehat sehat ya sayang" ucap Reza penuh kelembutan.


"Iya, papa" sahut Melisa sambil tertawa.


"Anak pintar" Reza menciumi perut besar itu berkali-kali saking gemasnya.


"Iya dong pintar" jawab Reza.


"Harus, Ra, perusahaan papa kan banyak banget siapa kalo bukan anak anak kita" sahutnya serius.


"Iya, Mas, aku ngerti. semoga anak kita menjadi kebanggaan untuk keluarga kamu dan jadi penyelamat dunia akhirat untuk kita"


"Amiin" ucap keduanya berbarengan.


"Mas Reza pake baju dulu sana, nanti sakit" titah Melisa sambil membetulkan handuknya yang terbuka hingga gundukan daging kenyal miliknya terlihat sangat menantang di hadapan kedua mata suaminya.


"Ya udah kamu diem sini, aku ambil baju buat kamu juga"


Reza bangkit, iapun membetulkan handuknya yang sedikit melorot dari pinggangnya.


"Eh, ternyata ON"


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Like komennya yuk..


dua hari ini lagi ada musibah, gak crazy up ya 😭😭😌😌😌🙏🙏🙏