
🌻🌻🌻
Reza menggelengkan kan kepalanya dengan cepat tak mempercayai apa yang di katakan gadis di hadapannya itu.
"Bilang sama dia, saya gak akan pulang tanpanya" titah Reza dengan sangat tegas penuh penekanan.
Gadis itu dengan cepat masuk kembali meninggalkan Reza yang kesal.
"Assalamu'alaikum,"
Reza menoleh, dilihatnya Ilham bersama Umi sang pemilik panti asuhan baru saja datang.
"Waalaikum salam, Umi" jawab Reza langsung meraih punggung tangan wanita paruh baya berjilbab coklat itu.
"kenapa gak masuk? Melisa mana?" tanya Umi heran.
"Melisa ada didalam, saya tunggu disini aja" sahut Reza.
"Baiklah, Ilham temani Nak Reza ya biar Umi yang panggil Melisa" ucap Umi yang dengan cepat berlalu masuk.
Kedua pria itu hanya saling diam duduk di kursi teras, tak ada yang mereka bicarakan mereka tenggelam dalam fikirannya masing-masing.
"Mas," sapa Melisa yang ternyata datang bersama Umi.
"Ra," Reza langsung bangkit dari duduknya, ingin ia memeluk jika saja tak malu dengan Umi juga Ilham.
"Ajak masuk suamimu, Mel" pinta Umi.
"Gak usah, Umi. kita pulang aja" tolak Melisa halus.
Melisa berjalan lebih dulu kearah mobil setelah berpamitan, ia tak memperdulikan suaminya yang memanggil dan berlari kecil di belakangnya.
BRAK
Melisa menutup pintu mobil dengan kasar membuat Reza harus mengusap dadanya karna terkejut.
"Ra.." panggilnya lirih.
Melisa tetap membuang pandangannya jauh keluar jendela mobil, tak ingin rasanya ia mendengar alasan apa pun.
"Ra, jangan diem aja dong" Reza terus merayu sang istri agar mau berbicara padanya.
Sampai mereka sampai dirumah Melisa tetap enggan berbicara, mengacuhkan Reza yang terus memohon maaf padanya.
"Za," panggil papa saat keduanya masuk saling berkejaran.
"Iya, Pah" Reza menghentikan langkahnya, ia memilih menjawab sapaan papa dan membiarkan Melisa masuk lebih dulu ke kamarnya.
"Ikut papa ke ruang kerja" titah pria paruh baya itu.
"Iya, Pah" Reza langsung mengikuti langkah sang papa masuk kedalam ruangan kerjanya, ruangan yang tak sembarangan orang bisa masuk.
"Duduk"
Lagi lagi Reza menurut, kali ini ia tak banyak membantah perkataan papanya.
"Jelaskan semuanya" Nada dingin langsung keluar dari mulut seorang pengusaha yang sangat di segani, pemilik sebenarnya perusahaan Rahadian grup.
"Kemarin semua urusan selesai jam lima, Pah. tiba-tiba Renata datang, Alasannya karna ingin menjemput paman Robby tapi kami memilih untuk mampir ke kedai kopi lebih dulu"
"Renata?" tanya papa dengan raut wajah sedikit terkejut.
"Iya, Pah, Rena ternyata sudah pulang sebulan lalu" ucap Reza memberi jawaban.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya papa menyelidik, tak bisa di pungkiri jika kali ini ia takut sang anak melakukan hal diluar batas.
"Lalu?"
"Aku lemes, Rena nawarin aku kerumahnya sebentar karna bajuku basah"
Papa menarik nafas berat, ia tatap anak sulung nya itu lekat lekat.
Mengerti dengan kegelisahan papanya Reza langsung meneruskan ceritanya.
"Akhirnya aku ikut Rena kerumahnya, Pah. Aku istirahat disana yang aku fikir cuma sebentar tapi nyatanya aku Bangun jam sebelas malam"
"Kalian tidak melakukan hal macam-macam kan?"
"Demi tuhan, Pah" Reza langsung meringsek medeketi papanya.
"Apa Istrimu tahu?"
Reza mengangguk, Tatapannya langsung sedih saat mengingat raut kecewa di wajah sang istri.
"Rena angkat telepon dari Melisa, Pah"
Papa tampak tak terkejut membuat Reza heran.
"Ada apa?" kini Reza yang bertanya.
" Papa yang menyuruhnya menelponmu saat itu, tapi istrimu bilang ponsel mu mati"
Reza membuang nafas kasar, lagi lagi istri tercintanya mampu menutupi kesalahannya.
"Berhati hati lah pada Rena, terlebih ada dia disini papa takut ia akan merusak rumah tanggamu, kita tahu Renata wanita seperti apa bahkan permainannya lebih licin dari ular".
Reza mengangguk, ia paham dengan apa yang dikatakan papanya.
Ia akan membuat benteng besar agar siapapun tak bisa mengusik hatinya.
______
CEKLEK
Reza membuka pintu dengan pelan. dilihatnya sang istri sedang berdiri di balkon kamar.
"Ra.." Reza memeluk tubuh yang kini terlihat berisi itu dari belakang, meletakan dagunya dibahu kanan sang istri.
"Maafkan aku, biarkan aku menjelaskan semuanya, kamu hanya salah paham"
"Diam, atau aku akan semakin kecewa padamu,Mas" jawab Melisa yang berusaha melepas pelukan Reza.
"Aku takan diam sebelum kamu mendengar penjelasan ku"
Kini keduanya saling berhadapan setelah Reza membalikkan tubuh istrinya.
"Baiklah, aku akan meminta penjelasan mu"
Melisa mendorong tubuh Reza dan melangkah pergi, tak lama ia kembali dengan sesuatu di tangannya.
"Sekarang jelaskan parfum siapa yang menempel di kemeja mu,Mas?" teriak Melisa sambil melempar kemeja kemuka Suaminya.
🎉🎉🎉🎉🎉
ada yang mau jadi wasit?
like komennya yuk ramaikan ❤️❤️❤️