Suami Dadakan

Suami Dadakan
extra bab 203


🌻🌻🌻🌻🌻🌻


"Ada yang ingin Nana katakan pada kakak"


Langit mengangguk siap mendengarkan begitupun dengan Diana.


"Maaf jika selama ini Nana kuarang ajar karna meyimpan rasa yang berlebih, tak menghormati kak Langit sebagai anak dari majikan Nana. Tapi Nana tak bisa menghilangkan perasaan itu meski Nana sudah berusaha. Nana yang baru merasakan jatuh cinta untuk yang pertama kalinya merasa menjadi gadis paling berdosa karna memiliki rasa pada pria yang sudah di miliki oleh orang lain." ucapnya dengan terbata disela isak tangis seakan ia sedang melepas bebannya selama ini.


"Saya tak pernah mempermasalahkan hal itu, saya sangat menghargai perasaanmu. Dan terima kasih untuk tidak melangkah lebih jauh masuk kedalam hubungan saya dan Cahaya"


Nana mengangguk sekali, senyum tersungginng di ujung bibirnya yang pucat.


"Apa kak Langit mau memenuhi permohonan Nana yang terakhir?" tanya Nana yang langsung membuat Langit dan Diana mengernyitkan dahinya.


"Maksudmu apa?"selak Diana.


"Sampaikan permohonan maaf Nana pada Nona Cahaya, Nana tak akan tenang sebelum Nona Cahaya memafkan kelancanagan Nana yang sudah mencintai kekasihnya" pinay Nana.


"Jangan berkata seperti itu, Cahaya gadis yang baik dia tak akan menyimpan dendam atau rasa benci padamu, jika ia bersikap acuh selama ini itu karna ia memang tak pernah banyak bergaul dengan orang lain" ujar Langit memberi pengertian pada Nana tentang sikap gadis kecilnya itu, Cahaya memang memiliki sifat posesif diatas rata-rata para gadis umumnya.


"Nana mengerti, Nana ingin seperti Nona Cahaya yang selalu ada untukmu. Maka dari itu, jika ini adalah batas akhir hidup Nana, biarkan jantung Nana bedetak dalam tubuhnya kelak"


"Biarkan jantung Nana terus berdebar saat melihat atau sedang bersamamu, Kak" pinta Nana dengan nafas yang semakin berat dan sulit.


Diana yang panik semakin kuat menggenggam tangan Nana, firasatnya mengatakan jika gadis itu perlahan akan pergi meninggalkannya. Mengingat begitu banyak perimintaan maaf dan pesan terakhir yang di ucapkannya.


"Kamu gak boleh bicara seperti itu, Nana dan Cahaya akan sama-sama sembuh, Saya tak ingin kehilangan salah satu dari kalian. Nana sudah saya anggap sebagai putri saya begitupun dengan Cahaya, ia adalah calon menantu saya, kalian berdua tentu sangat saya sayangi" tegas Diana dengan derai air mata yang membasahi wajah cantiknya meski ia tak lagi muda.


"Nana tahu kalau Nyonya begitu sangat menyayangiku, maka dari itu biarkan Nana tetap hidup di dalam tubuh Nona Cahaya. Biarkan Nana tetap bersama kalian meski tanpa raga" lirih Nana yang sebenarnya tak kuat lagi untuk bicara.


"Jangan berfikir yang macam-macam, Kamu akan sembuh. Saya akan hubungi pihak rumah sakit untuk memindahkanmu ke rumah sakit kami ya,"


Nana menggelengkan kepalanya sambil mengulurkan tangan berharap Langit dan Diana mau menyambutnya.


" Nana mohon, berikan jantungku pada Nona Cahaya"


TUUUUUUUTTTTTT


"Na... buka matamu, jangan tinggalkan saya" jerit Diana saat mesin detak jantung semakin melemah.


"Nana, Na..." Langit yang panik ikut mengguncang tangan Nana yang masih terdapat selang infus.


"Nana hanya tidur kan, dia gak mungkin ninggallin Mami secepat ini, kan?" Diana terus saja meronta dalam dekapan Langit yang sedang berusaha memanggil perawat.


"Mami tenang ya, kita tunggu dokter untuk memeriksa Nana"


Ia yang juga panik tapi harus sebisa mungkin menenangkan ibu kandungnya yang histeris sambil terus merutuk dirinya sendiri jika saja tadi ia pergi entah bagaiamana dengan ibunya kini.


"Masih ada Abang yang akan selalu sama Mami ya"


Tapi perasaan dua orang yang sedari tadi berdiri menyaksikan itu langsung berdebar hebat saat dokter menghela nafas dalam-dalam sambil memasukan stetoskop kedalam saku jas putihnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Mohon maaf.. pasien di nyatakan sudah meninggal dunia!


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


Jahatnya diriku😭😭😭


Jangan gentayangin akoh ya, Na πŸ™ƒπŸ™ƒ


Gentayangiu readers aja noh yang suka komen 🀣🀣🀣


Like komennya yuk ramaikan.