Suami Dadakan

Suami Dadakan
bab 82


🌻🌻🌻


Melisa yang terbaring lemah dengan infusan di tangannya tak bisa bergerak sedikitpun karna pelukan suaminya yang begitu erat, usai pemeriksaan keduanya memilih beristirahat tidur berdampingan di ranjang pasien. Sampai terdengar suara pintu terbuka Melisa hanya bisa melirik siapa yang datang.


"Ya ampun!" teriak mama melihat anak sulungnya yang tidur bagai memeluk bantal guling.


"Reza, bangun gak?" kata mama sambil menjewer telinga Reza.


"Aduh apaan sih?" Reza yang merasa terganggu langsung bangun dan mengusap telinganya.


"Enak banget tidur, kerjaan numpuk di kantor" tukas papa yang sudah berdiri di belakang mama.


"Papa gak liat istri ku lagi sakit?" kata Reza menunjuk selang infus yang menggantung di sisi istrinya.


"Istri kamu gak apa-apa aja kerjanya cuma tidur" sahut mama gemas.


"Mas," Melisa mengusap lengan suaminya itu, kepalanya akan langsung Pusing jika mendengar Perdebatan ketiganya.


"Mama bawa makanan, makan dulu ya sayang" ucap mama mengusap lembut kepala menantunya.


"Tau aja aku laper" kekeh Reza dengan mata tertuju pada kotak makan bertingkat di atas nakas.


"Ini buat istrimu"


"Bagaimana kandungan mu, Mel?" tanya papa, raut khawatir masih jelas terlihat di wajahnya.


"Baik, pah. Gada yang serius kata dokter Rissa"


"Syukurlah, papa bisa tenang sekarang. jaga baik baik ya, kalian harus sehat" pesan papa sembari menepuk pelan bahu Melisa yang duduk bersandar di ranjang.


"Betul, kata papa,.Mel. ayo makan dulu biar cepat pulih dan pulang"


Mama langsung menyiapkan makanan yang ia buat sendiri dari rumah, sup ayam kampung kini tersaji di atas nampan siap untuk di santap.


"Sini aku suapin" Reza langsung meraih mangkuk dan sendok, mengaduknya dan mulai menyuapi.


"Enak?" tanya Reza.


"Iya, cobain aja" kata Melisa dengan senyum manisnya.


"Aku minta ya," ucap Reza menggemaskan


Melisa mengangguk, hal seperti ini sudah biasa terjadi. selama ia hamil suaminya sering merengek meminta apapun yang di makannya kecuali susu hamil.


"Cepetan makannya, aku udah tiga suap kamu satu suap aja belum di telen" kata Reza sambil terus mengunyah.


"Mas Reza emang laper lagi, kan tadi sarapan sama salad buah dari rumah sakit kamu yang makan juga" kekeh Melisa, ia mengingat bagaimana Reza tertunduk lemas tak berdaya usai pemeriksaan.


Kejadian yang menghebohkan seisi rumah pada saat sebelum sarapan pagi, sudah bisa dipastikan Reza yang sehabis muntah muntah harus bergegas kerumah sakit tanpa mengisi perut nya lagi.


"Sstt, diem! nanti mama denger" sahut Reza mengedipkan matanya memberi kode agar sang istri diam.


"Dasar, Omnivora!" kekeh mama mencubit pipi Reza yang terlihat sangat gembil.


"Aih, si mama jahat" kaya papa yang juga ikut tertawa.


********


"Kan kata Melisa kandungannya gak apa-apa, Pah?"


"Tetep aja papa khawatir banget"


Mama tertawa, ia melirik kearah suaminya yang walau terkenal tegas dan bijaksana serta berwibawa namun ia akan selalu khawatir dan panik saat menyangkut keluarganya.


"Cie cie, calon oppa sampe segitunya?" kekeh mama menggoda Papa.


"Hah, apa? oppa?" kata Papa.


"Iya, oppa. Ih papa tua ya sebentar lagi mau gendong cucu" mama tertawa membayangkan bagaimana suaminya kembali menggendong bayi.


"Tua dari mana, kan kata mama kalau papa itu kaya oppa" sahut papa dengan bangganya.


"Ya, memang oppa" jawab mama meledek dengan mencebikkan bibirnya.


"Oppa Korea kan, mah? papa mirip leeminho ya?" Goda papa yang mencuil dagu istrinya itu sambil mengedipkan matanya.


"Ya ampun, papah!"


_____________


Kini pasangan paruh baya itu sudah duduk di sofa ruang kerja dokter Rissa, rasa penasaran dan belum puas jika tak mendengar langsung dari sumbernya membuat calon kakek itu terus uring-uringan meminta penjelasan lebih detail tentang keadaan cucu dalam kandungan menantunya.


"Semuanya baik, Om" kata Caca sambil meletakan tiga cangkir teh diatas meja.


"Yakin, Ca?" tanya papa mengulang pertanyaan yang sebelumnya sudah ia tanyakan.


"Iya, Caca bisa menjamin hal itu, tapi memang dua Minggu lagi Caca minta Melisa untuk kembali kesini"


Papa yang mendengar hal itu langsung mengubah posisi duduknya dari santai menjadi tegap.


"Ada masalah dengan kandungannya?" ujar papa.


"Hmm, gak om, Cuma aku lihat ada sesuatu yang aku sendiri masih ragu" jelas Caca hati-hati, karna raut khawatir jelas terlihat lagi pada papa.


"Apa gak bisa di periksa sekarang?" tanya mama yang ikut panik dengan pernyataan dokter cantik itu.


"Caca takut salah Tan, umur kandungan Melisa baru empat belas Minggu"jawab Caca takut, meski ia mengenal baik dua orang dihadapannya itu tetap saja merekalah pemilik rumah sakit tempat ia bekerja, belum lagi ini menyangkut generasi calon penerus Rahardian group.


"Jadi maksudmu, harus genap enam belas Minggu?" kata papa sambil mengernyitkan dahi nya


"Iya, om tepat empat bulan usia kandungannya"


"Baiklah, kita tunggu sampai dua Minggu lagi semoga semuanya baik seperti yang kita harapkan" papa menghela nafas beratnya.


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Baik baik di perut momy ya Reza junior!


Like komennya yuk.


makasih yang udah mampir, sehat terus buat kalian ❤️❤️❤️❤️