Suami Dadakan

Suami Dadakan
bab 115


🌻🌻🌻


GUBRAK!!!


PRAANGG!!!


BRAAAKK!!!!


Semua orang menatap benda benda yang jatuh dan pecah karna ulah sang Tuan muda.


seluruhnya berserakan kemana-mana di lantai.


"Mulai," gumam mama yang menatap punggung anak sulungnya menaiki tangga.


Melisa yang bingung mencari jawaban dari sorot mata semua anggota keluarga.


"Pergilah, temani suamimu" titah papa, yang hanya di balas anggukan kepala oleh Melisa.


CEKLEK


Ia membuka pintu pelan, mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruang kamar.


Namun tatapan matanya langsung berhenti tepat diranjang dimana ada gundukan besar di atas.


"Mas," panggil Melisa.


"Mas Reza kenapa?" tanyanya sambil mencoba menyibakkan selimut.


Sayup sayup terdengar isak tangis lirih membuat Melisa heran dan memaksa membukanya.


"Mas Reza nangis?, kenapa?" Melisa yang panik berusaha membalikan tubuh suaminya.


"Mas, ayo bilang aku, kenapa?"


Reza hanya menggeleng pelan, belum ada tanda-tanda ia akan merubah posisinya.


"Mas Reza nangisin apa?" Melisa terus saja bertanya karna rasa penasarannya.


"Aku kangen cemong!" lirihnya sedih.


"Cemong?, siapa cemong?" kini Melisa semakin bingung.


"Maafin, aku Mong!" gumam Reza hampir tak terdengar.


Melisa menghela nafasnya, ia tak mengerti apa yang di maksud suaminya.


"Mas Reza takut kucing?" tanya Melisa lagi, kini suaranya sangat lembut sembari mengusap kepala Reza.


Lagi lagi Reza menggeleng.


"Lalu apa?, mas Reza gak mau cerita sama aku?"


Reza langsung membalikkan tubuhnya, selama dua menit keduanya saling pandang lalu setelah itu Reza bangun dan duduk bersandar di dashboard ranjang, meraih tangan istrinya untuk di letakkan di atas pangkuannya.


"Aku kangen Cemong" lirihnya lagi.


"Iya, Cemong siapa?" Melisa menahan rasa kesalnya


"Kucingku, Ra. namanya Cemong" kata Reza sedih, ada genangan lagi di sudut matanya.


"Ko aku gak pernah lihat?"


"Iyalah, dia mati aja kamu belum lahir!"


"Eh,apa sih maksudnya?" jiwa penasarannya kini sedang meronta ronta.


"Aku dari bayi punya kucing, eyang yang kasih dan namanya Cemong, tapi dia udah meninggal, kucingku kecelakan di hadapanku saat aku berumur lima tahun" Reza mulai mengawali ceritanya dengan sangat sedih, sorot matanya seakan menggambarkan bahwa ia sedang memutar kenangannya.


"Dia mati di pangkuan ku, banyak darah di tubuhnya yang berwarna putih dan hitam, semuanya salahku yang mengajaknya bermain di luar rumah padahal mama menyuruhku hanya dihalaman"


"Jadi bukan karena takut kucing?" tanya Melisa memperjelas dugaannya tadi


"Gak, aku cuma kasihan dan langsung ingat cemongku" jawabnya.


Melisa tersenyum, lalu memeluk suaminya sambil mengusap kepala Reza yang berada di didekapnya.


"Eh, Tomatku mana?" ia langsung mengurai pelukannya.


"Gak tau itu tomat dimana kali" kini Reza mendengus kesal.


"Emangnya mas Reza gak jadi ambil tomatnya?" tanya si bumil.


"Jadi!" sahut Reza singkat


"Lalu mana? aku mau makan tomatnya" Melisa menelan ludahnya seakan tomat sudah berada di kerongkongannya.


"Aku gak tau,Ra. aku udah petik tujuh tomat buat kamu tadi" kata Reza dengan nada menahan emosi.


"Iya, terus mana?, mas Reza gak bohong kan?" Kini keduanya berdebat di atas tempat tidur.


"Aku lempar entah kemana?"


"Ko dilempar sih?" kata Melisa tak percaya.


"Aku diteriakin Maling, Ra!"


"Maling?" gumam Melisa.


"Iya, tadi aku di kira maling tomat sama warga aku di ciduk di tengah kebun" ucap Reza menjelaskan kejadian tadi.


"Wah, sayangnya aku gak liat, ha-ha-ha" Melisa malah tertawa terbahak-bahak.


"Ko kamu seneng?"


"Nanti jadi trending topik, seorang Presdir Rahardian group tertangkap mencuri tujuh buah tomat di malam hari, ha-ha-ha" Melisa semakin tertawa sampai ada genangan air di sudut matanya yang ia seka dengan ibu jarinya sendiri.


"Aku begini karena siapa?" tanya Reza ingin menyudut kan istrinya.


"Karena anakmu," sahut Melisa sambil mengusap perut besarnya.


"Huh, anak aku disalahin" sungut Reza kesal, lalu ikut mengusapnya.


"Kalau minta apa-apa jangan yang aneh aneh, minta tuh yang gampang-gampang aja" kata Reza berbicara pada calon anaknya.


"Contohnya?" tanya Melisa.


"Shoping, jalan-jalan, mobil rumah apapun itu yang mudah di cari, aku tinggal telepon aja"


"Klepon, aku mau kue klepon!"


"Telepon, Ra bukan klepon" kata Reza sedikit berteriak.


"Tapi aku mau klepon, Sekarang!"


"Aku gak punya kenalan bos kue klepon" ucap Reza bingung.


"Cari, mas Reza beli" rengek Melisa.


"Aku cari dimana?, ini udah malem" pria tampan ini pun dibuat frustasi oleh istrinya.


"Terserah, pokok nya aku mau makan kue klepon malam ini" ujar Melisa penuh penegasan.


"Aku ambil tomat lagi ya?" kini Reza mencoba merayu.


"Gak, aku udah gak mau tomat, ganti pengen klepon" Melisa masih keukeuh dengan keinginan mendadaknya.


Reza diam sejenak, otaknya sedang berfikir dimana ia harus mencari kue tersebut setelah ia melirik jam di dinding sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam.


"Pokoknya kalau malem ini gak dapet kue klepon nya aku akan larang mas Reza buat CELUP CELUP"


Reza menelan Salivanya kuat kuat saat Ultimatum dan ancaman mematikan itu di ucapkan KHUMAIRAHnya.


🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌


Ayo cari bang...


Kebon pisangnya ntar di segel loh bang, 🤭


Like komennya yuk ramaikan ❤️❤️