
🌻🌻🌻
Reza yang sudah berganti pakaian dengan kaos dan jaket menatap tajam istrinya yang masih duduk malas di tempat tidur yang hanya terlilit selimut tebal, ia tak ingin pergi karna menurut-nya ini bukan hal yang harus di khawatirkan.
"Ayo, Ra. kenapa masih diem!" oceh Reza yang berdiri di hadapan istrinya.
Melisa menggeleng, wajahnya menunduk malas melihat Reza yang panik.
"Aku gak apa-apa,Mas"
Reza menghela nafas, lalu berjongkok agar sejajar dengan wajah istrinya.
"Ra, aku takut! kumohon kali ini aja ya?" pinta Reza dengan suara lembutnya.
"Aku gak sakit, kenapa harus kerumah sakit" protes Melisa, ia sangat frustasi dengan sikap suaminya yang berlebihan.
"Tapi kamu?" Reza tak meneruskan perkataanya saat melihat sang istri sudah ingin melanjutkan bicaranya.
"Aku mungkin lelah, atau stress Mas!"
"Aku gak mau tau, pokonya kita kerumah sakit sekarang juga!" titah Reza tegas seakan tak ingin dibantah setelah mendengar kata stress dari mulut istrinya.
"Aku hitung sampai tiga, aku gak akan kasih kamu ampun!" ancamnya kemudian membuat Melisa melongo ngeri.
"Iya, aku pakai baju dulu"
____🎉 Dimobil🎉____
Melisa membuang pandangannya jauh kearah luar jendela mobil, hanya hiasan lampu pinggir jalan yang menerangi langit ibu kota di waktu dini hari ini.
Reza membawa kereta besinya diatas kecepatan rata rata karna kondisi jalanan yang sepi.
"Ayo turun" ajak Reza setelah sampai di depan pintu IGD.
"Aku gak apa apa" Melisa masih bersikeras dengan keadaan tubuhnya.
"Turun,Ra!"
Melisa yang melihat mata tajam Reza akhirnya turun dari mobil, ia berjalan masuk ke gedung rumah sakit berlantai lima belas milik suamianya.
"Mana dokter Rissa?" tanya Reza pada salah satu suster yang berjaga.
"Ada diruangannya, Pak dilantai dua belas. tuan dan nyonya sudah ditunggu" jawab suster muda berseragam putih itu.
"Baiklah, siapkan kursi roda" titah Reza.
"Aku masih kuat jalan loh, Mas" bisik Melisa merasa malu dan risih.
"Kamu pasti sakit kan? aku tau tiap bulan kamu ngerasain sakit dan keram" kata Reza lembut mencium kening istrinya.
"Tapi beneran ini gak sakit sama sekali, aku gak rasain apa-apa"
"Nah kan! malah kamu gak rasain apa-apa" kata Reza semakin panik.
Kursi roda yang diinginkan akhirnya datang juga dibawa oleh salah satu perawat pria, dengan lirikan mata Reza meminta istrinya untuk cepat duduk disana.
Melisa membuang nafas kasar, ingin rasanya ia kabur dari tempat ini sekarang juga, ia sangat malu kepada beberapa perawat yang sedari tadi memperhatikannya diperlakukan dengan sangat manis oleh Reza, anak pemilik Rumah sakit ini.
Dengan pasrah karna tak ingin berdebat lagi tentunya, Melisa akhirnya menuruti perintah Reza, pria itu mendorongnya menuju arah lift yang berada di ujung gedung.
TRIING
suara lift berbunyi menandakan mereka sampai di lantai dua belas tempat dimana seorang dokter cantik bernama Rissa menunggu kedatangan Reza bersama sang istri diruang prakteknya.
"Caaaa" panggil Reza saat membuka pintu.
"Hem," sahut dokter Rissa yang biasa di panggil Caca oleh Reza dan juga keluarganya.
Rissa, Seorang gadis cantik bergelar dokter kandungan yang bekerja di rumah sakit milik keluarga Rahardian Wijaya, selain ia dokter Rissa juga teman sekaligus adik kelas Reza semasa sekolah maka bukan hal yang aneh jika keduanya terlihat akrab bahkan sering berdebat hal hak kecil.
"Emang kenapa?" tanya Caca.
"Dia tsunami lagi, padahal tsunami itu datang sebulan sekali kan normalnya?" jawab Reza .
Caca yang bingung dengan penjelasan Reza hanya bisa mengernyitkan dahinya tak paham, namun kini pandangannya beralih kepada Melisa yang duduk di tepi ranjang pasien.
"Haid, Dok. aku haid dua kali bulan ini" jelas Melisa pada dokter Caca yang mulai bangun dari duduknya kemudian berjalan mendekat kearahnya.
" Bahasa apa itu?" ledek Caca.
"Bahasa Author, Ca!" sahut Reza santai.
( apa? kenapa othor dibawa bawa bang?)!!!
"Gimana? sakit gak?" tanya Caca sambil menekan sedikit perut Melisa, seorang wanita berstatus kan istri seorang presiden direktur Rahardian grup yang belum di publikasikan.
"Enggak, aku gak ngerasain apa-apa" jawab Melisa santai.
"Nah kan, gimana gue gak panik coba, Ca! padahal tiap bulan dia tuh suka kesakitan banget" kata Reza antusias menceritakan bagaimana tersiksanya sang istri setiap bulan.
"Itu hal wajar, Za gak usah berlebihan" sahut Caca, sebal.
"Kapan terakhir haid?" tanya Caca pada Melisa sembari memberikan sedikit gel di area perutnya.
"Sembilan hari lalu, ya sembilan hari lalu kan, Ra?" jawab Reza cepat menjawab pertanyaan dokter Rissa.
Melissa dan Rissa langsung menoleh kearah Reza, Rissa memutar bola matanya jengah sedangkan Melisa menatap tajam kearah suaminya namun tidak dengan seorang perawat yang berdiri disisi ranjang ia justru sedang menahan senyumnya.
"Inget aja Lo" ejek Rissa.
"Inget lah, gue selalu inget kalo perihal piknik dan traveling"
"Jangan pake bahasa aneh, Za! bertahun-tahun gue sekolah kedokteran gak ada pribahasa begitu" oceh Rissa sembari meletakkan sebuah alat di perut Melisa.
"Hem, ketemu nih" kata Caca dengan mata menatap serius ke layar LED dihadapannya.
"Apa, Nemu apa?" tanya Reza panik, ia kini bangun dari duduknya lalu menghampiri dokter Caca.
"Nemu kecebong" sahut Caca asal.
"Kecebong?" gumam Reza masih bingung.
"Ya, kecebong kecil hasil piknik Lo"
"Kecebong? hasil piknik?, gue ?" ucap Reza terbata bata.
"Hem, usianya baru tiga Minggu, tolong dijaga ya, Mel" pesan dokter Caca menyudahi pemeriksaan.
"Maksudnya?" tanya Melisa meyakinkan perkataan dokter Rissa
"Ya, kamu sedang hamil tiga Minggu, selamat ya. Ada Rahardian junior di perut mu!
GUBRAK....
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Apa tuh bang?
😂😂😂😂
Like komennya yuk ramaikan!!
jangan lupa follow juga vote ya
Gomawo,❤️❤️❤️